Yang Mengasyikkan dari Sains

sains

BIBLIOTIKA - Sains itu logis, aman, dan membosankan, benar? Salah. Yang menarik dari sains, justru ia bisa berawal dari kebingungan, atau bermula dari pertanyaan tak masuk akal. Kebingungan berproses mencari petunjuk, dan pertanyaan menuntut jawaban. Kemudian pengetahuan ditemukan. Kadang-kadang keliru, tapi lebih sering benar. Seiring kemajuan zaman, penemuan jawaban di balik pertanyaan semakin membawa banyak pengetahuan dan penemuan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Dalam sains, sebuah pertanyaan aneh dan remeh—bahkan mungkin terkesan konyol—tidak jarang melahirkan hasil mencengangkan. Selama masa Perang Dunia II, misalnya, Edwin H. Land suka memotret putrinya yang masih kecil. Pada waktu itu kamera foto belum secanggih sekarang. Untuk memproses sebuah jepretan kamera menjadi foto yang tercetak membutuhkan waktu cukup lama. Karenanya, putri Edwin Land bertanya, “Ayah, kenapa sih kita harus menunggu lama untuk bisa melihat hasil pemotretan?”

Pertanyaan lugu dan naif itu menarik perhatian sang ayah. Sejak itu, Edwin Land sering memikirkan masalah tersebut. Penalarannya kemudian membayangkan, orang bisa langsung menikmati baju atau sepatu yang dibelinya. Tapi mengapa fotografi tidak? Mengapa orang harus menunggu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, sebelum dapat melihat foto hasil pemotretannya? Tapi apakah mungkin memproses foto di kotak kamera yang begitu kecil dalam waktu beberapa detik, atau beberapa menit, sedang di laboratorium orang membutuhkan waktu beberapa jam?

Ketika Edwin Land mulai membicarakan hal itu pada teman-temannya, mereka menertawakan, karena dianggap tidak rasional. Tidak mungkin orang dapat melakukan “keajaiban” semacam itu. Tetapi Edwin Land tidak berhenti—ia terus memikirkan dan mencari jawabannya.

Hasilnya, enam bulan setelah pertanyaan putrinya yang lugu itu, jawaban yang ia cari tertemukan, dan masalah pun teratasi. Pada akhir November 1984, kamera Polaroid pertama dengan kecepatan pemrosesan 60 detik dilempar ke pasaran di Boston, dan para pembeli sudah berdatangan begitu toko-toko di buka.

Pertanyaan spontan yang lugu dari seorang gadis kecil telah memicu penciptaan kamera Polaroid, teknologi yang sebelumnya tak terbayangkan. Sains membuka pintu, tidak hanya untuk pertanyaan-pertanyaan serius atau kelas berat, tetapi juga untuk pertanyaan-pertanyaan remeh dan terkesan tidak penting. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, para ilmuwan kemudian mencari jawabannya. Hasilnya mungkin tidak sebesar penemuan kamera Polaroid, tetapi kemudian peradaban manusia menemukan pengetahuan baru, seremeh apa pun itu.

Bahkan, jika kita mau memperhatikan dan memikirkan, semua hal atau benda di sekitar kita tercipta atau terwujud karena adanya pertanyaan-pertanyaan. Dulu, saat belum ada kulkas atau lemari es, misalnya, orang-orang membayangkan kalau saja makanan-makanan bisa disimpan dengan lebih baik di tempat penyimpanan yang mendukung, sehingga makanan lebih awet. Lalu lahirlah lemari es, yang fungsinya tidak hanya untuk menyimpan makanan agar lebih awet, tapi juga untuk mendinginkan makanan atau minuman sehingga lebih segar saat dikonsumsi.

Di luar itu, sarana transportasi, dari sepeda, motor, mobil, kereta api, sampai pesawat terbang, semuanya juga tercipta karena adanya pertanyaan-pertanyaan yang direspons sains. Sepeda tercipta untuk menggantikan aktivitas jalan kaki yang lebih lambat. Sepeda motor tercipta untuk mempercepat laju perjalanan. Mobil tercipta untuk menjadi sarana transportasi keluarga. Lalu kereta api sampai pesawat terbang tercipta untuk sarana angkutan umum sehingga banyak orang bisa leluasa menggunakannya.

Tidak selamanya sains itu normal dan membosankan. Ada kalanya ia juga sinting, namun mengasyikkan.

Fakta:

Epistemophobia, atau disebut pula gnosiophobia, adalah sebutan untuk orang yang takut pada ilmu pengetahuan.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.