Tips Sehat Membawa dan Menggunakan Ponsel

Tips Sehat Membawa dan Menggunakan Ponsel

BIBLIOTIKA - Anda pasti sudah terbiasa dengan pemandangan orang yang menggantungkan atau mengalungkan ponselnya di leher sehingga ponsel itu tergantung-gantung di depan dadanya. Atau, Anda mungkin pula sudah biasa melihat orang yang berjalan kesana-kemari sambil berkomunikasi melalui ponsel. Atau lagi, Anda juga mungkin sudah terbiasa dengan orang yang berkomunikasi melalui ponsel sampai berjam-jam lamanya. Nah, tahukah Anda, kalau hal-hal semacam di atas itu bisa menyebabkan gangguan kesehatan?

Hasil riset terbaru mengenai kesehatan di Amerika menyebutkan bahwa laki-laki yang menggunakan ponsel selama empat jam setiap harinya akan mengalami kekurangan jumlah sel sperma sebanyak 40 persen dibandingkan dengan laki-laki yang menggunakan ponsel kurang dari empat jam.

Lebih dari itu, laki-laki yang menggunakan ponsel selama empat jam setiap hari juga akan mengalami penurunan kualitas sperma, sekaligus penurunan kemampuan dan kemungkinannya memiliki anak.

Mengapa hal semacam itu bisa terjadi? Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa ketika Anda mengaktifkan pesawat ponsel, maka ponsel akan memancarkan gelombang radio untuk memperoleh sinyal, dan dalam proses itu—mau tak mau—tubuh Anda akan ikut menyerap gelombang radio tersebut, yang pada nantinya akan dapat mengganggu kesehatan tubuh Anda. Proses semacam itu disebut sebagai ‘radiasi ponsel’.

Untuk membuktikan hal itu, para peneliti sudah melakukan uji coba dengan menggunakan hewan percobaan, dan terbukti bahwa gelombang radio tersebut mempengaruhi kondisi kesehatan dari hewan-hewan tersebut. Semakin besar kadar air yang ada di tubuh seekor hewan, semakin besar pula tingkat kerusakan yang mempengaruhinya. (Sebagai catatan; tubuh manusia sendiri sebagian besar terdiri atas air).

Tak jauh berbeda dengan penelitian di atas, Lund University, Swedia, juga mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa radiasi yang dipancarkan oleh ponsel dapat mempengaruhi fungsi enzim dan protein dalam tubuh manusia.

Para peneliti di Lund University melakukan penelitiannya dengan cara memancarkan gelombang radiasi ponsel ke sejumlah tikus di laboratorium. Hasilnya, tikus-tikus tersebut menunjukkan terjadinya perubahan biokimia di dalam tubuh mereka, yakni berupa penurunan protein albumin yang berfungsi memasok aliran darah ke dalam otak.

Padahal, tikus-tikus yang digunakan sebagai percobaan tersebut hanya mendapatkan pancaran radiasi selama dua jam saja setiap harinya, namun akibat atau efek yang ditimbulkan dalam tubuh mereka sangat ‘mengerikan’. Sebagaimana manusia, tikus-tikus tersebut memiliki neuron dan sawar (semacam filter atau saringan) di dalam darah otak, dan setelah lima puluh hari mendapatkan pancaran radiasi, ditemukan banyaknya sel otak yang mati pada tikus-tikus tersebut.

Sementara itu, Profesor Qian Liangyi dari Lembaga Penelitian Komunikasi Radio Universitas Jiaotong, Shanghai, menyatakan bahwa ponsel adalah alat peluncur sinyal yang mempunyai suatu daya tertentu dengan ukuran daya kira-kira 1 watt. Sekilas, ukuran daya ini relatif kecil, namun karena ponsel seringkali didekatkan di daerah kepala, maka kita perlu mewaspadai dampak radiasinya yang secara tak langsung akan tertimbun dari hari ke hari.

Apakah Anda pernah mendengar istilah SAR? SAR yang dimaksud di sini bukan tim atau regu penyelamat korban kecelakaan, melainkan kependekan dari Spesific Absorption Rate. Nah, SAR adalah ukuran seberapa besar radiasi elektromagnetik yang diserap oleh selaput kepala manusia ketika menggunakan ponsel. Semakin tinggi rasio SAR yang ditunjukkan, maka semakin banyak pula radiasi yang diserap oleh tubuh.

Pada saat ini, FCC (Federal Communications Commission) di Amerika telah menentukan bahwa batas tertinggi SAR adalah 1,6 W/kg, sementara untuk kawasan Eropa adalah 2W/kg. Di Indonesia, dalam hal ini Ditjen Pos dan Telekomunikasi, belum menetapkan standar yang jelas mengenai batasan atau standar spesifikasi ponsel menyangkut kesehatan dan keamanan masyarakat penggunanya.

Namun, meskipun begitu, kita yang tinggal di Indonesia tentu saja harus tetap berupaya untuk menjauhkan diri dari efek yang mungkin akan merugikan kesehatan terkait dengan penggunaan ponsel.

Nah, untuk hal tersebut, beberapa pakar yang begitu intens meneliti masalah ponsel dan segala dampak yang mungkin ditimbulkannya—sebagaimana yang telah diuraikan di atas—merumuskan beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian bagi para pemilik dan pengguna ponsel untuk menjauhkan dirinya dari kemungkinan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh ponsel. Beberapa hal yang perlu diperhatikan itu adalah sebagai berikut:

Tidak menggantungkan ponsel di leher atau di pinggang

Orang yang menderita arrhytmia (tidak memiliki irama jantung yang tetap) atau memiliki jantung yang tidak berfungsi secara sempurna, sebaiknya tidak meletakkan ponsel di bagian dada (menggantungkan ponsel melalui leher yang menjuntai ke daerah dada).

Selain itu, apabila ponsel sering diletakkan di bagian pinggang atau di sisi perut (misalnya dilekatkan di ikat pinggang), maka kemungkinan besar akan mempengaruhi tingkat dan fungsi kesuburan. Cara yang lebih aman untuk menyimpan ponsel adalah dengan meletakkannya di dalam tas yang dibawa (bisa tas pinggang, tas punggung, atau tas yang dipegang).

Tidak menempelkan ponsel ke telinga sewaktu menelepon

Ketika Anda menghubungi suatu nomor tertentu melalui ponsel dan hubungan belum tersambung, maka ponsel Anda akan memancarkan radiasi yang bertambah kuat. Begitu pula ketika ponsel mulai terhubung dengan nomor tujuan. Karenanya, disarankan agar Anda menunda setidaknya lima detik setelah ponsel Anda terhubung sebelum kemudian mendekatkannya ke telinga Anda.

Yang menjadi masalah, ketika ponsel Anda melekat ke telinga, maka sinyal ponsel akan melemah. Ketika sinyal melemah, secara otomatis ponsel akan meningkatkan daya luncur gelombang elektromagnetnya sehingga intensitas radiasinya menjadi bertambah kuat. Dan karena ponsel masih berdekatan dengan telinga, maka radiasi yang dialami di bagian kepala pun menjadi berlipat ganda.

Tidak melakukan percakapan melalui ponsel dalam waktu lama

Mengingat betapa riskannya risiko yang mungkin dipancarkan oleh radiasi ponsel, para ahli pun menyarankan agar penggunaan ponsel untuk percakapan tidak sampai memakan waktu yang terlampau lama. Kalaupun memang terpaksa harus melangsungkan percakapan hingga dalam waktu lama, disarankan untuk menggunakan perangkat handsfree atau earphone yang membuat kepala tidak berdekatan secara langsung dengan perangkat ponsel.

Mengenai hal ini, Departemen Perdagangan dan Industri di Inggris sampai mengeluarkan rekomendasi yang menyarankan agar masyarakat di sana menggunakan perangkat handsfree selama berkomunikasi melalui ponsel, karena diyakini penggunaan handsfree akan dapat mengurangi efek dan dampak dari radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh ponsel.

Lalu bagaimana kalau kebetulan tidak memiliki atau sedang tidak membawa handsfree? Kalau memang begitu kenyataannya, maka cara yang bisa ditempuh adalah dengan menggonta-ganti telinga kanan dan kiri selama melakukan percakapan tersebut. Maksudnya, sesekali gunakan telinga kanan untuk mendengarkan suara di ponsel, kemudian alihkan ke telinga kiri setelah beberapa saat, dan begitu seterusnya, setidaknya antara satu sampai dua menit sekali.

Tidak bersembunyi di sudut tembok untuk bertelepon rahasia

Mungkin hal semacam ini banyak dilakukan para remaja ataupun orang-orang dewasa yang tengah menerima telepon dari seseorang dan kemudian mengadakan percakapan yang bersifat rahasia. Biasanya, orang-orang ini juga bertelepon secara bisik-bisik karena takut suaranya terdengar oleh orang lain.

Ketika orang menggunakan ponsel di sudut tembok atau di ruangan yang relatif tertutup, maka sinyal ponsel akan mengalami penurunan daya akibat ruangan atau bangunan yang menghambat sinyal, dan itu artinya ponsel akan bekerja lebih keras untuk dapat menstabilkan sinyal—yang akibatnya tingkat radiasi yang terjadi akan meningkat secara drastis.

Bertelepon dengan ponsel di dalam ruangan yang relatif tertutup atau di balik dinding itu tak jauh beda dengan merokok di ruangan yang tertutup rapat dan ber-AC. Asap rokok berputar-putar tak bisa keluar dan akibatnya ikut terhirup oleh pernapasan.

Tidak bergerak mondar-mandir sambil bertelepon

Ini merupakan ‘kebiasaan’ yang dilakukan oleh banyak orang ketika bertelepon atau menerima telepon di ponsel. Entah mengapa, seperti ada semacam naluri yang menggerakkan orang-orang ini untuk mondar-mandir secara otomatis selama melakukan percakapan melalui ponsel. Dan biasanya, orang-orang ini pun sepertinya tidak sadar kalau dirinya tengah mondar-mandir.

Ketika Anda bergerak, apalagi mondar-mandir selama bertelepon melalui ponsel, maka sinyal ponsel akan mengalami ketidakstabilan. Akibatnya, ponsel secara otomatis akan melakukan luncuran daya berkapasitas tinggi yang seharusnya tidak diperlukan. Karenanya, lebih baik diamlah di satu tempat selama Anda berkomunikasi melalui ponsel.

Tips tambahan:

Selain hal-hal di atas, ada beberapa tipe orang yang disarankan untuk tidak menggunakan perangkat ponsel. Beberapa tipe orang yang sebaiknya menjauhi ponsel adalah yang memiliki masalah jantung, penderita epilepsi, wanita hamil atau yang sedang menyusui, penderita lemah syaraf, penderita katarak, diabetes, anak-anak dan remaja, serta orang tua yang telah berusia di atas 60 tahun.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.