Tips Mengajarkan Nilai Uang pada Anak

uang receh

BIBLIOTIKA - Apabila pasangan suami-istri telah memiliki anak atau beberapa orang anak, mengajar anak-anak untuk mulai belajar tentang nilai uang dan bagaimana cara yang baik dalam mengelolanya adalah hal penting.

Jika anak masih kecil, kita bisa cukup mengajarkan kepadanya akan nilai uang dan mengapa kita harus menghargai setiap uang yang kita miliki.

Sedang untuk anak yang lebih besar, kita bisa mempercayainya untuk memberikan sejumlah uang yang akan digunakannya selama dalam satu bulan. Tujuannya adalah agar anak mulai belajar tentang bagaimana cara mengelola uang miliknya secara baik. Konsekuensinya tentu saja apabila si anak ternyata kekurangan uang dalam satu bulan itu dia harus menanggung kekurangannya sampai ia mendapatkan jatah untuk bulan berikutnya.

Selain itu, apabila anak meminta uang untuk suatu keperluan tertentu, ada baiknya kalau sewaktu-waktu keinginannya itu ditunda pemberiannya. Misalnya ketika si anak ingin memiliki suatu barang, kita bisa menyatakan bahwa kita bisa membelikannya, namun bukan sekarang karena uang yang sekarang masih akan digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Dengan begitu, si anak pun akan mulai belajar bahwa orangtua pun tidak mudah dalam mencari dan mendapatkan uang.

Akhirnya, dengan adanya saling kepercayaan di dalam keluarga, maka masing-masing anggota keluarga pun akan lebih bisa memahami apabila sewaktu-waktu mengalami kekurangan uang, dan masing-masing akan ikut membantu mencari cara dalam mengatasinya.

Tak ada uang pribadi

Ada kalanya suami-istri sama-sama bekerja dan sama-sama menghasilkan pendapatan. Di sini pun tetap dibutuhkan saling keterbukaan dan saling percaya, meskipun bukan hanya suami saja yang menghasilkan uang untuk keluarga.

Salah satu bentuk keterbukaan dan rasa saling percaya menyangkut hal ini adalah dengan menanamkan pengertian pada masing-masing suami-istri bahwa di dalam keluarga tidak ada yang disebut ‘uang pribadi’. Maksudnya, terlepas apakah uang itu didapat dari pihak istri atau diperoleh dari pihak suami, keduanya tetap bertujuan untuk membiayai kebutuhan keluarga secara bersama-sama. Karenanya, hindari penyebutan ‘uangku’ atau ‘uangmu’ dan sebaiknya gunakan istilah ‘uang kita’.

Pengelolaannya tentu saja bisa dilakukan dengan sama-sama adilnya. Misalnya, kalau rekening tagihan listrik dibayar dengan menggunakan penghasilan milik suami, maka tagihan air PAM dibayar dengan penghasilan yang didapatkan oleh istri. Sedangkan untuk biaya hidup sehari-hari serta biaya sekolah anak-anak bisa ditanggung berdua.

Di dalam keluarga yang suami-istrinya bekerja secara bersama-sama seperti itu biasanya menggunakan dua rekening atau memiliki dua rekening yang berbeda untuk keperluan-keperluan pribadi. Tentu saja itu bukan masalah selama semuanya masih dilandasi dengan semangat keterbukaan dan kepercayaan.

Hindari kebiasaan konsumtif

Ketika kita masih hidup sendirian (lajang), maka kebutuhan hidup kita masih terbatas pada hanya kebutuhan pribadi. Di dalam hidup sendirian ini mungkin kita masih suka dan masih sering memanjakan selera konsumtif kita dengan memuaskan selera pribadi terhadap hal-hal yang mungkin berupa kebutuhan namun hanya bersifat keinginan semata-mata.

Namun gaya hidup seperti itu tentunya harus sudah berubah ketika kita mulai berkeluarga, karena tanggungan hidup yang harus kita biayai tidak lagi seorang diri, namun juga keluarga; istri dan anak-anak. Karenanya, hindari kebiasaan konsumtif dan hindarkan pula keluarga dari kebiasaan itu.

Nah, seringkali yang menjadi ‘cukup’ atau ‘tidak cukup’ dalam membelanjakan hasil pendapatan itu tidak diukur dari besar kecilnya penghasilan kita, namun lebih pada bagaimana cara kita mengatur dan mengelolanya, serta bagaimana kita memilih kebutuhan dan keinginan yang kita bayar dengan uang penghasilan. Di sini, yang paling berperan penting adalah skala prioritas.

Dalam mengelola anggaran keluarga, selalulah untuk menanyakan pada diri sendiri tentang apa-apa saja yang penting, apa saja yang tidak penting, dan apa saja yang bisa ditunda. Setiap kali ingin membeli sesuatu, tanyakanlah pada diri sendiri pertanyaan, “Apakah ini memang benar-benar dibutuhkan? Benarkah ini diperlukan keluarga? Apakah ada uang yang tersedia untuk hal ini?”

Apabila jawabannya adalah ‘ya’, kita masih bisa mencoba menanyakan pada diri sendiri, “Apakah mungkin kita bisa mendapatkan hal ini dengan harga yang lebih murah?”

Yang ditekankan dalam hal ini adalah bahwa kita dapat menggunakan anggaran keluarga dengan baik dan dengan semaksimal mungkin menggunakan skala prioritas. Tidak perlu tergoda dengan banyaknya penawaran yang mungkin ada atau yang mungkin kita temui saat berbelanja.

Karena meskipun penawaran-penawaran itu mungkin nampak menggiurkan, seringkali itu hanya akan memboroskan anggaran belanja keluarga kita. Kita hidup tidak berdasarkan penawaran-penawaran yang menggiurkan, kita hidup berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang memang harus dilakukan.

Memahami kebutuhan masing-masing

Adanya rasa saling terbuka dan saling percaya di antara suami-istri dalam pengelolaan dan penggunaan anggaran keluarga ini juga meliputi pada kebutuhan-kebutuhan yang bisa disebut sebagai kebutuhan pribadi. Kita memerlukan kepercayaan dan keterbukaan dalam hal ini karena keputusan yang sepihak seringkali mendatangkan kekecewaan bagi pihak yang lainnya.

Misalnya, istri bisa saja berpikir bahwa dia dapat menggunakan sejumlah uang tertentu dari anggaran keluarga untuk membeli perhiasan bagi dirinya. Meskipun tentu saja itu tujuan yang positif, namun alangkah lebih baiknya kalau sebelumnya menyatakannya secara terbuka kepada pihak suami agar keputusan itu bisa menjadi keputusan bersama dan bukan hanya sekedar keputusan sepihak. Dan kalau kemudian keputusan yang dihasilkan adalah negatif (suami tidak mengijinkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu), maka istri pun tidak perlu memaksa melakukannya.

Namun suami juga tidak bisa melarang untuk hal-hal lain semacam itu yang bersifat masuk akal atau rasional. Misalnya istri memerlukan sejumlah dana tertentu untuk membeli peralatan rias. Meskipun ini terkesan sebagai kebutuhan pribadi, toh hasilnya juga menyenangkan suami kalau sang istri tampil lebih cantik.

Begitu pula kalau sewaktu-waktu suami membutuhkan anggaran untuk membeli peralatan kerja, istri juga tidak layak untuk keberatan, karena meski itu terkesan sebagai kebutuhan pribadi, namun hasilnya akan dinikmati bersama.

Peduli dan saling mengingatkan

Setelah keterbukaan dan saling kepercayaan terbentuk antara suami-istri, maka langkah selanjutnya adalah kepedulian dan tanggung jawab untuk saling mengingatkan.

Dalam membelanjakan anggaran keluarga ini, bisa saja salah satu di antara suami atau istri ini terkadang masih suka memanjakan selera konsumtifnya. Mungkin suami membeli akuarium yang lebih besar untuk kesenangan hobinya memelihara ikan, atau mungkin pula istri menambah koleksi gelas-gelas cantik yang sesungguhnya tak pernah digunakan.

Ketika hal semacam itu terjadi, maka masing-masing dari suami ataupun istri memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan bahwa hal-hal semacam itu hanya akan memboroskan anggaran keluarga yang mereka punya.

Mungkin si suami atau si istri memanjakan selera konsumtifnya itu dengan cara kredit dan berargumentasi bahwa uang yang digunakan untuk itu bukanlah jumlah yang besar dalam tiap bulannya karena mereka dapat mencicil harganya, namun ingatlkanlah bahwa jumlah yang sedikit itu bagaimanapun juga mengurangi jumlah anggaran yang ada, dan sesuatu yang sedikit itu pun lama-lama menjadi tidak sedikit lagi.

Pendeknya, dibutuhkan rasa saling peduli untuk memahami bahwa ketika sudah berkeluarga, maka kebutuhan yang menjadi prioritas adalah kebutuhan keluarga dan bukan kebutuhan pribadi sebagaimana dulu ketika masih belum berkeluarga.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.