Ternyata Hewan Kota Lebih Pintar Dibanding Hewan Desa

Hewan Kota

BIBLIOTIKA - Selama berabad-abad, tidak ada orang yang memikirkan atau mempertanyakan hal itu, sampai pada tahun 2010 sekelompok ilmuwan melakukan penelitian tersebut, dan hasilnya membuat banyak orang tercengang.

Sekelompok peneliti asal Swedia dan Spanyol, dipimpin pakar biologi Alexei Maklakov, melakukan penelitian terhadap 82 spesies burung gereja, termasuk burung pipit serta jenis burung lain yang biasa bertengger di 12 kota besar di kawasan Eropa tengah. Mereka membagi burung-burung tersebut ke dalam kelompok yang lahir dan besar di perkotaan, serta mereka yang besar di kawasan pinggiran. Kemudian, para peneliti membandingkan ukuran otak kedua kelompok burung tersebut.

Penelitian itu membutuhkan waktu cukup lama, dan hasilnya baru diumumkan pada pertengahan 2011, yang menyebutkan bahwa burung yang hidup di kota besar memiliki otak lebih besar dibanding burung sejenis yang tinggal di pedesaan. Artinya, hewan kota—dalam hal ini burung—memang lebih pintar dibanding burung yang tinggal di desa, meskipun satu spesies.

Bagaimana hal semacam itu bisa terjadi? Para peneliti memperkirakan, burung di kawasan perkotaan membutuhkan otak yang lebih besar dibanding burung-burung di kawasan pedesaan, agar mampu bertahan dalam lingkungan kota yang penuh tantangan. Burung di desa mudah mendapatkan pohon hijau dan tempat-tempat yang memudahkan mereka hidup, sementara burung-burung kota harus menghadapi beton-beton menjulang dan kabel-kabel berseliweran di tengah kegersangan.

“Ini pertama kalinya ukuran otak diketahui menjadi faktor utama keberhasilan seekor hewan bertahan dalam lingkungan tempat tinggalnya,” kata Alexei Maklakov dalam presentasinya. Dia juga menjelaskan ada beberapa pengecualian dalam hal itu. Beberapa jenis spesies burung berotak kecil cukup beruntung, karena tetap mampu bertahan hidup di kawasan perkotaan yang dekat dengan habitat asli mereka.

Berdasarkan temuan itu, para peneliti pun menghimbau pemerintah kota yang ingin membawa atau memindahkan burung-burung liar untuk tinggal di kotanya agar membuat kawasan mereka semirip mungkin dengan habitat asli para burung.

Selain wilayah tempat tinggal, besar kecilnya otak hewan—yang menunjukkan tingkat kecerdasan mereka—juga terjadi pada aspek sosial, atau sikap hewan bersangkutan terhadap pergaulan. Hewan-hewan “gaul” ternyata juga memiliki otak yang lebih besar dibanding hewan-hewan yang “kurang gaul”. Berdasarkan penelitian, sifat sosial membuat ukuran otak berkembang menjadi lebih besar.

Para peneliti dari Oxford University, dipimpin Dr. Susanne Shultz dan Profesor Robin Dunbar, melakukan studi terhadap lebih dari 500 spesies mamalia, dan hasilnya mengungkapkan bahwa hewan yang hidup dalam kelompok sosial memiliki ukuran otak yang lebih besar dibanding yang hidup sendirian. Kenyataan itu menjelaskan mengapa ukuran otak anjing lebih besar dibanding ukuran otak kucing yang hidup soliter.

Para pakar biologi evolusi sejak lama berasumsi bahwa setiap spesies memiliki ukuran otak yang kurang lebih relatif sama dengan porsi ukuran tubuhnya. Namun, Susanne Shultz dan Robin Dunbar—berdasarkan penelitian mereka—menyatakan bahwa ukuran otak tidak bisa disimpulkan secara sederhana seperti itu. Karena aspek sosial ternyata juga punya korelasi terhadap ukuran otak.

Primata, misalnya, memiliki ukuran otak yang terus-menerus berkembang, karena mereka hidup secara sosial. Begitu pula dengan lumba-lumba, unta, atau anjing. Hewan-hewan itu biasanya hidup berkelompok. Sementara hewan-hewan soliter, semisal kucing atau badak, memiliki otak yang lebih lambat berkembang jika dibandingkan hewan-hewan sosial.

“Kerjasama dan koordinasi yang dibutuhkan dalam sebuah kelompok makhluk hidup akan sangat menantang, sehingga beberapa mamalia memiliki ukuran otak yang lebih besar untuk bisa mengatasi kebutuhan dari sebuah kehidupan sosial,” ujar Dr. Susanne Shultz.

Sementara Profesor Robin Dunbar berujar, “Menarik melihat bahwa hewan yang sudah mengalami kontak dengan manusia, seperti kucing, tetap memiliki otak yang lebih kecil dibanding anjing atau kuda, karena kurangnya mereka dalam aktivitas sosial dengan sesamanya.”

Fakta:

Ahli fonetik menemukan bahwa burung berkicau dengan aksen regional.

Sepasang burung bangau ditemukan membuat sarang di tengah padang golf di Jerman, dan mengisinya dengan bola-bola golf. Burung itu mungkin masih menanti bola-bola itu menetas!

Gurita dianggap hewan yang ber-IQ tinggi, dan terbukti memiliki ingatan yang kuat.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.