Perjalanan Panjang Menjadi Jutawan

uang dolar

BIBLIOTIKA - Sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah, ‘Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’, maka tak jauh beda dengan apa yang kita lakukan dengan hal ini. Seribu langkah selalu dimulai dengan langkah pertama, begitu pula jumlah yang besar selalu dimulai dengan jumlah yang kecil terlebih dulu.

Jadi yang penting adalah memulainya. Karenanya, tak perlu berkecil hati jika kita hanya dapat menyisihkan sedikit saja dari penghasilan kita untuk menabung ini, karena yang paling penting bukanlah semata-mata jumlahnya, namun kerutinan atau keteraturannya. Lebih baik kecil namun rutin, daripada besar namun tidak rutin.

Untuk hal ini, kita bisa belajar pada kisah perjalanan hidup seorang jutawan Amerika asal Vietnam bernama Le Van Vu…

Le Van Vu adalah seorang lelaki yang lahir dari sebuah keluarga kaya yang tinggal di Vietnam. Keluarganya memiliki hampir sepertiga dari semua bisnis yang ada di wilayah Vietnam Utara, dari bisnis perindustrian sampai bisnis real estate. Sampai kemudian terjadi pergolakan politik di Vietnam yang berakhir dengan terbunuhnya ayahnya, dan Le Van Vu beserta keluarganya pun pindah ke Vietnam Utara. Di sana ia bersekolah sampai kemudian menjadi seorang pengacara.

Ketika tentara Amerika semakin banyak yang ditempatkan di daerah Vietnam Selatan, Le Van Vu melihat suatu bisnis yang dapat dilakukannya. Dia pun kemudian membangun rumah-rumah yang ia kontrakkan kepada para tentara yang berada di sana, dan Le Van Vu pun kemudian menjadi seorang kontraktor yang cukup berhasil di sana.

Karena pergolakan politik yang makin memanas, suatu hari ketika dalam perjalanan ke wilayah Utara, Le Van Vu ditangkap oleh tentara di sana dan dipenjarakan selama tiga tahun, karena dicurigai sebagai mata-mata pihak Selatan.

Karena terjadi suatu huru-hara di penjara, Le Van Vu pun dapat keluar dari penjara dan kemudian melarikan diri ke wilayah Selatan. Namun sesampainya di sana Le Van Vu kembali ditangkap, kali ini oleh tentara Vietnam Selatan, karena dikira sebagai mata-mata dari Vietnam Utara.

Setelah menjalani hukumannya di penjara dan kemudian dibebaskan, Le Van Vu kemudian memulai usaha perikanan. Usaha yang dirintis sekeluarnya dari penjara ini kemudian berhasil menjadi sebuah usaha pengalengan ikan yang cukup besar di daerah Vietnam Selatan.

Namun karena menyadari bahwa kehidupan di Vietnam tidak akan menjadi baik, Le Van Vu berniat meninggalkan negerinya untuk pindah ke Amerika yang ia anggap sebagai tempat yang lebih baik untuk hidup sekaligus menjalankan dan mengembangkan bisnis.

Karenanya, ketika Amerika mulai menarik pasukan tentaranya di Vietnam untuk kembali ke negaranya, Le Van Vu pun segera mengajak istrinya untuk berkemas-kemas dan mengikuti tentara-tentara Amerika yang akan berlayar kembali ke Amerika.

Namun usahanya gagal. Le Van Vu tak bisa menuju ke Amerika, namun sebagai gantinya dia dapat berlayar ke Filipina untuk kemudian menuju ke Amerika. Namun ini pun bukannya tanpa masalah. Untuk dapat meninggalkan negerinya dan menuju ke Filipina, Le Van Vu diharuskan membayar biaya yang amat mahal, dan Le Van Vu pun terpaksa menghabiskan seluruh harta yang dimilikinya untuk dapat membawa dirinya dan istrinya keluar dari Vietnam.

Sesampainya di Filipina, Le Van Vu yang kini miskin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi nelayan yang menangkap ikan di perairan Filipina. Dari hasil pekerjaannya itu, Le Van Vu berupaya untuk dapat menyisihkan penghasilannya untuk menabung dengan tujuan agar dapat sampai di Amerika. Usaha itu membutuhkan waktu dua tahun lamanya.

Ketika akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang untuk tujuan itu, Le Van Vu dan istrinya pun segera berangkat meninggalkan Filipina dan berlayar menuju Amerika. Sekali lagi Le Van Vu kehilangan semua uang yang dikumpulkannya selama ini untuk membiayai perjalanannya.

Di tengah perjalanan melalui kapal ke Amerika ini, Le Van Vu sempat merasa putus asa karena membayangkan bahwa dia harus memulai segalanya kembali dari nol ketika dia dan istrinya sampai di Amerika. Membayangkan hal itu, Le Van Vu merasa sedih dan putus asa, bahkan ia sampai berniat untuk bunuh diri dengan terjun ke laut. Namun istrinya membesarkan hatinya, dan Le Van Vu pun akhirnya menguatkan tekadnya.

Le Van Vu dan istrinya sampai di Houston, Amerika, pada tahun 1972 dengan tanpa uang satu sen pun. Mereka benar-benar miskin dan tak memiliki apa-apa. Lebih dari itu, mereka sama sekali tak bisa berbahasa Inggris, sehingga terjadi kesulitan setiap kali mereka mencoba berkomunikasi di tempat baru yang mereka datangi itu.

Untungnya, Le Van Vu memiliki seorang sepupu yang telah cukup lama tinggal di Amerika, dan Le Van Vu pun mencoba menghubungi sepupunya ini. Melalui sepupunya ini pulalah Le Van Vu dan istrinya bisa memperoleh pekerjaan sebagai pelayan di sebuah toko roti yang berada di sebuah pusat perbelanjaan.

Karena berusaha untuk dapat hidup dengan sehemat mungkin, Le Van Vu dan istrinya tidak tidur di penginapan atau di rumah kos atau di rumah kontrakan yang memerlukan biaya. Sebagai gantinya, mereka memilih tidur di lantai gudang belakang toko roti tempat mereka bekerja, dengan berbantalkan karung berisi serbuk gergajian kayu.

Mereka mandi dengan cara mengusap tubuh dengan spon di kamar mandi pusat perbelanjaan tempat toko roti itu berada, dan setiap malam mereka belajar bahasa Inggris dengan tekun dengan cara mendengarkan kaset-kaset percakapan bahasa Inggris. Upah mereka bekerja seminggu adalah 175 dolar untuk Le Van Vu dan 125 dolar untuk istri Le Van Vu. Mereka hidup dengan sehemat mungkin dan menabungkan penghasilan mereka secara teratur.

Si pengusaha toko roti tempat mereka bekerja itu kemudian berniat untuk menjual usahanya, dan menawarkannya kepada Le Van Vu serta istrinya. Harga yang diminta adalah sebesar 120.000 dolar. Tentu saja Le Van Vu dan istrinya tidak memiliki jumlah uang sebanyak itu. Namun si pengusaha toko roti kemudian menawarkan; Le Van Vu dapat membayar uang mukanya dulu sebanyak 30.000 dolar, dan sisanya akan dianggap sebagai hutang yang dapat dilunasinya dengan cara mengangsur.

Di sinilah hikmah dari menabung itu menunjukkan fungsinya. Dari hasil menabung yang selama ini dilakukannya bersama istrinya, Le Van Vu dapat membayar uang muka sebesar 30.000 dolar itu dan mengambil alih usaha toko roti tersebut. Namun mereka masih memiliki hutang sejumlah 90.000 dolar.

Sekarang Le Van Vu dapat menjalankan usaha toko roti itu sebagai pemilik. Dan tentunya ia beserta istrinya dapat mulai memikirkan untuk tinggal di rumah dan meninggalkan gudang toko roti yang selama ini mereka tinggali. Namun Le Van Vu berpikir, bahwa seandainya mereka mengontrak atau membeli sebuah rumah, maka itu akan membutuhkan sejumlah pengeluaran, padahal mereka masih memiliki tanggungan hutang yang cukup besar. Maka keputusan pun diambil; mereka akan tetap tinggal di gudang belakang toko roti itu sampai hutang mereka lunas terbayar.

Perjuangan yang gigih itu pun akhirnya menampakkan hasilnya. Dengan ketekunan untuk terus menabung dan menyisihkan uang penghasilannya, Le Van Vu dan istrinya akhirnya dapat melunasi hutang mereka dalam waktu tiga tahun, dan kemudian menjalankan usaha toko roti itu dengan tanpa hutang satu sen pun. Dan setelah itulah mereka mulai memikirkan untuk mengumpulkan uang lagi untuk dapat membeli sebuah rumah untuk tempat tinggal.

Yang terjadi kemudian adalah sejarah. Nama Le Van Vu adalah salah satu nama yang dikenal sebagai seorang jutawan di Amerika.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.