Penyebab Hewan Tidak Bisa Berbicara

Hewan Tidak Bisa Berbicara

BIBLIOTIKA - C. S. Lewis memukau kita melalui kisah-kisah fantasi The Chronicles of Narnia, yang menceritakan berbagai macam hewan—singa, kuda, tikus, dan lainnya—dapat berbicara layaknya manusia. Sayangnya, di dunia kita, hewan tidak “secerdas” di negeri Narnia.

Di dunia kita, hewan memang bisa mengeluarkan bunyi-bunyian tertentu semisal anjing mengeluarkan gonggongan, kucing mengeong, dan ayam jantan berkokok. Hewan-hewan itu juga bisa menggunakan suara atau bunyi yang dikeluarkannya sebagai ungkapan rasa sakit, takut, senang, atau lapar. Melalui bunyi-bunyian itu pula, mereka memanggil anak-anaknya, memberi tanda peringatan, atau lainnya. Tapi kita belum pernah mendengar atau melihat dua kucing bertemu dan saling menyapa, “Halo, Kawan, apa kabar? Lama sekali tak melihatmu.”

Mengapa hewan tak bisa berbicara?

Bentuk tubuh dan alat suara hewan tidak memungkinkan mereka untuk bisa berbicara. Untuk dapat berbicara layaknya manusia, dibutuhkan pangkal tenggorokan dan banyak ruangan dalam mulut, dalam hal ini langit-langit mulut yang tinggi. Pangkal tenggorokan hewan, tempat bunyi-bunyian dihasilkan, luasnya terbatas. Akibatnya, hanya terdapat sedikit ruang antara lidah dan langit-langit mulut, sehingga hewan tak bisa bebas menggerakkan lidah mereka sebagaimana manusia.

Selain itu, kebanyakan hewan memiliki celah di antara gigi, sehingga mereka tidak bisa leluasa menghasilkan aneka nada atau suara. Bibir mereka juga tidak selentur gerakan bibir manusia. Kita mampu merentangkan atau menyempitkan bibir untuk menghasilkan suara A yang lebar atau O yang bulat. Dalam hal itu, kita menggerakkan lidah, mengubah ruang langit-langit mulut menjadi membesar atau mengecil, dan berkat perubahan itu kita pun bisa menghasilkan banyak suara berbeda. Hewan tidak mampu melakukan hal itu.

Kemudian, bicara berkaitan dengan bahasa, dan bahasa berhubungan dengan pikiran. Dalam hal ini, ada bahasa-pikiran yang berwujud dan tidak berwujud—sistem kompleks yang tidak dapat dijangkau oleh hewan. Misalnya, kalau kita mengucapkan “tongkat”, yang kita maksud adalah benda yang pernah kita lihat sebelumnya, yang sudah kita kenal, dan “tongkat” itu bisa pula dikenal oleh seekor kerbau atau kambing, atau bahkan kucing.

Tetapi, kalau kita mengatakan, “tongkat itu hilang”, atau “tongkat itu panjang”, atau “tongkat itu bagus”, kita berbicara tentang ketiadaan, ukuran, dan keindahan. Tiga hal itu—ketiadaan, ukuran, dan keindahan—bukan lagi benda yang dapat dipegang, tetapi keadaan atau sesuatu yang bersifat abstrak. Dalam hal ini, hewan tidak bisa memikirkannya, karena tidak adanya wujud, dan karena itu mereka juga tidak bisa bicara.

Banyak pihak percaya bahwa simpanse adalah kerabat paling dekat manusia. Mungkinkah kita mengajari simpanse berbicara, seperti yang dilakukan manusia? Upaya untuk itu bukan tidak pernah dilakukan. Beberapa usaha mengajar mereka berbicara yang pernah dicoba menunjukkan hasil yang cukup menakjubkan. Simpanse-simpanse yang sangat muda dapat menghasilkan beberapa bunyi (kata) setelah diajari tanpa henti. Namun, ketika mereka bertumbuh, ruangan dalam mulutnya berubah, lalu kemampuan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa tadi segera menurun.

Para ilmuwan yang melakukan penelitian mengenai hal ini kemudian mencoba melatih bicara simpanse-simpanse yang masih sangat kecil. Seiring pertumbuhan, mereka dapat mengucapkan beberapa kata, dan sepertinya memahami apa yang mereka katakan, terbukti dapat diajak berkomunikasi. Mereka mengenal kata untuk benda-benda semacam mulut, tangan, kaki, pisang, tongkat, dan lainnya. Namun mereka tidak mengerti ketika orang berkata, “Tancapkan tongkat itu di bawah pohon dan biarkan saja, nanti aku yang akan mengambilnya.”

Dalam urusan bicara, berkomunikasi, dan berbahasa, kemampuan hewan amat sangat terbatas—bahkan untuk hewan yang terhitung kerabat dekat manusia. Burung beo atau kakatua memang dapat mengeluarkan suara-suara seperti yang diucapkan manusia, tetapi suara-suara yang mereka hasilkan belum dapat disebut berbicara, karena mereka hanya meniru ucapan kita tanpa tahu maknanya.

Kita memang dapat mengajari burung beo bicara, karena burung itu menggunakan lidahnya agar dapat menghasilkan suara seperti huruf-huruf vokal sebagaimana manusia. Mereka dapat mengeluarkan suara vokal A atau O secara jelas, dan mengucapkan kata-kata tertentu yang mungkin membuat kita tertawa. Tetapi, bagaimana pun, suara-suara mereka tidak bisa dianggap bicara, karena nyatanya kita tak dapat berkomunikasi dengan mereka.

Pada manusia, bunyi dihasilkan dari larynx (pangkal tenggorokan), dan dapat diubah-ubah sesuai pergerakan lidah dalam mulut. Kenyataan itulah yang membantu kita mengucapkan huruf vokal dan konsonan meski susunan katanya rumit. Burung beo mengeluarkan suara dengan menggerakkan lidahnya ke depan dan ke belakang, sehingga ia bisa menirukan suara manusia. Sementara burung-burung lain menghasilkan suara—bunyi-bunyian—dengan menggunakan larynx dan syrinx tanpa menggunakan lidah sama sekali.

Tetapi kemampuan beo dalam menghasilkan suara mirip manusia bukan cuma karena perbedaan di atas. Gabriel Beckers dan rekan-rekannya dari Leiden University, Belanda, melakukan penelitian menyangkut hal ini, dan mendapatkan kenyataan bahwa kemampuan beo memainkan lidahnya karena didorong bakat untuk menjadi peniru suara. Karenanya, frasa “membeo” yang ditujukan untuk orang yang suka mengikuti ucapan orang lain memang tepat.

Fakta:

Prudle, burung beo yang ditemukan di Jinja, Uganda, pada 1958, tercatat oleh Guinness Book of World Records sebagai burung beo terbaik dalam menirukan suara, karena memiliki kosakata hampir 1.000 kata. Burung itu mampu mempelajari kata atau frasa baru hanya dengan mendengarnya beberapa kali.