Panduan Seputar Anggaran Memiliki Rumah

Anggaran Memiliki Rumah

BIBLIOTIKA - Memiliki sebuah rumah atau tempat tinggal sendiri tentu merupakan salah satu keinginan bagi banyak keluarga. Bagaimanapun bagusnya rumah ngontrak, begitu kata orang, masih bagus rumah sendiri meskipun mungkin lebih kecil atau lebih sederhana.

Lebih dari itu, tinggal di rumah sendiri yang memang milik sendiri memberikan kedamaian saat tinggal di dalamnya. Kita tidak lagi diburu oleh perasaan untuk membayar biaya kontrak atau beban perasaan semacamnya.

Namun kenyataannya, tidak banyak orang (keluarga) yang telah memiliki keberuntungan dalam bentuk rumah pribadi atau rumah milik sendiri ini. Masih banyak di antara mereka yang tinggal di rumah kontrakan, meskipun mungkin rumah kontrakan tersebut tergolong besar dan bagus, dan tetap menanam benih keinginan untuk dapat tinggal di rumah sendiri.

Nah, bagaimana atau apa langkah yang bisa kita tempuh ketika ingin segera memiliki rumah atau tempat tinggal milik sendiri?

Yang pertama dan terutama untuk dipertimbangkan tentu saja adalah kemampuan kita dalam mewujudkan hal tersebut, khususnya dalam masalah finansialnya. Kalau sisa gaji atau penghasilan yang kita miliki tergolong cukup besar setelah dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan hal itu bisa berlangsung dalam kurun waktu yang lama, kita bisa mempertimbangkan untuk segera memiliki rumah sendiri.

Pilihannya yang pertama tentu saja antara membeli rumah dengan cash, atau dengan kredit, atau dengan membangun sendiri.

Membeli atau membangun rumah

Kita akan telaah masing-masing pilihan ini, agar kita bisa mendapatkan gambaran mengenai kelebihan dan kekurangannya.

Yang pertama adalah membangun rumah sendiri. Tentu saja ini akan menjadi pilihan yang baik apabila memang kita menginginkan sebuah rumah yang benar-benar mewakili personalitas dan kepribadian kita, atau sebuah rumah yang benar-benar ingin kita desain sendiri bentuknya, baik interior ataupun eksteriornya. Namun untuk membangun sebuah rumah, kita perlu memiliki beberapa hal, di antaranya:
  1. Tanah; tempat rumah itu akan dibangun,
  2. Biaya yang cukup untuk membayar pembangunannya, dan
  3. Pengetahuan yang cukup mengenai aktivitas pembangunan rumah.

Tiga hal di atas bisa dikatakan ‘syarat minimal’ ketika ingin membangun rumah sendiri.

Sekilas, ini terkesan mudah, khususnya apabila kita memang telah memiliki sebidang tanah untuk dibangun menjadi sebuah rumah. Namun pada kenyataannya seringkali tidaklah semudah itu. Jika kita masih tergolong awam dalam hal aktivitas pembangunan rumah, maka kita akan dihadapkan pada sejumlah kebingungan semisal lika-liku biaya konstruksi, biaya pembangunan dan segala hal menyangkut rancang-merancang bangun struktur rumah.

Lika-liku biaya konstruksi dan biaya pembangunan tersebut akan membuat kita mengeluarkan sejumlah uang lebih banyak jika kita tidak mengetahuinya secara pasti. Kalau di awal rencana kita mungkin membayangkan bahwa dengan membangun rumah sendiri akan dapat menekan biaya pengeluaran, maka yang seringkali terjadi justru sebaliknya; yakni kita akan mengalami pembengkakan biaya pengeluaran.

Kemudian soal rancang-merancang bangunan. Sekilas itu memang mungkin terkesan mengasyikkan pada awalnya, namun ketika hal itu terjadi, kita benar-benar akan menemui sejumlah kerepotan yang barangkali belum pernah kita pikirkan, dan kemudian menghabiskan banyak waktu dalam pembangunannya.

Mengenai hal itu mungkin kita bisa menggunakan jasa seorang arsitek, namun apabila kita memang masih awam dalam hal-hal lainnya, tetap saja kita akan mengalami sejumlah kerepotan yang lebih besar.

Jadi, kalau kita memang masih tergolong awam dalam aktivitas pembangunan rumah, maka sebaiknya urungkan dulu untuk memiliki rumah yang dibangun sendiri, khususnya kalau kita belum memiliki tanah yang ingin kita bangun untuk sebuah rumah.

Lalu bagaimana kalau kebetulan kita sudah memiliki sebidang tanah yang kita inginkan diperuntukkan sebagai tempat bangunan rumah yang kita inginkan?

Ada dua pilihan; yang pertama adalah dengan tetap meneruskan niat membangun rumah di atas sebidang tanah itu (dengan catatan kita sudah cukup tahu tentang aktivitas pembangunan rumah dan sejumlah kerepotannya), dan kedua adalah dengan menjual tanah yang kita miliki tersebut dan hasilnya kita belikan sebuah rumah yang sudah jadi, jika memang hasil penjualannya cukup untuk itu. Apabila tidak cukup, kita bisa menggunakannya untuk DP atau uang muka dari pembelian rumah yang kita lakukan.

Nah, pilihan kedua menyangkut rumah tempat tinggal ini adalah dengan membelinya secara cash.

Ini bisa dibilang sebagai pilihan yang tak terlalu repot dalam menjalankannya, hanya saja dengan catatan kita telah memiliki sejumlah dana yang diperlukan untuk membelinya. Mengenai lokasi yang diinginkan, kita bisa mencarinya, baik mencari sendiri atau dengan bantuan agen properti yang terpercaya.

Dengan membeli rumah secara langsung, kita akan terhindar dari kemungkinan pembengkakan biaya pembangunan rumah yang mungkin saja terjadi, apabila kita memang masih awam dalam hal itu. Selain itu, dengan membeli rumah di lokasi perumahan, kita bisa langsung memilih dan menentukan jenis atau model rumah yang seperti apa yang kita inginkan tanpa harus repot-repot merancangnya.

Yang perlu dicermati dalam hal ini, setidaknya adalah niat dari pembelian rumah tersebut. Jika niatnya adalah untuk tempat tinggal dan kita ingin menetap selamanya di rumah yang ada lingkungan tersebut, maka pilihan kita hanyalah soal kecocokan menyangkut rumah dan lingkungannya, plus seberapa jauh atau dekatnya tempat tinggal tersebut dengan tempat kerja kita.

Namun apabila niat kita adalah mencari rumah sekaligus untuk investasi (dalam hal ini berarti kita masih memiliki niat untuk pindah rumah lagi di tempat lain atau di lokasi lain), maka kita juga perlu mempertimbangkan tentang lokasi dimana rumah tersebut berada.

Karena semakin baik lokasinya, maka semakin besar kemungkinan kita untuk mendapatkan keuntungan nantinya. Lokasi-lokasi yang strategis, dekat dengan pusat kota, atau lokasi-lokasi yang memiliki kemungkinan untuk mengalami pertumbuhan dan perkembangan di tahun-tahun mendatang, adalah contoh-contoh lokasi yang baik untuk dipilih jika niat utamanya adalah untuk investasi.

Kredit pemilikan rumah

Terakhir, pilihan dalam hal memiliki tempat tinggal adalah dengan kredit rumah atau yang biasa disebut KPR.

Jika pilihan ini yang ingin kita ambil, yakni kredit rumah, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memilih produk KPR. Memilih produk KPR ini memang bisa dibilang gampang-gampang susah, namun kita bisa menyesuaikannya dengan tingkat pemasukan / penghasilan kita, dan juga kekuatan kita dalam mencicil angsuran kreditnya.

Pertimbangan menyangkut produk KPR ini bisa diawali dari pencermatan kita terhadap seberapa besar bunga yang ditawarkan, lalu seberapa lama suku bunga fixed yang ditawarkan. Misalnya, suku bunga kecil yang fixed selama tiga tahun tentunya lebih bagus dibandingkan dengan suku bunga kecil yang fixed yang hanya 1 tahun.

Selain itu, bisa pula dipikirkan tentang seberapa besar denda pelunasan yang dikenakan, kalau suatu waktu kita ingin melunasi kredit KPR tersebut lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Kemudian kita perlu pula mempertimbangkan tentang jangka waktu cicilan kreditnya. Dalam hal ini, intinya adalah; semakin pendek jangka waktu cicilan yang kita pilih (meskipun mungkin jumlah cicilannya sedikit lebih besar), maka itu semakin baik karena jumlah total yang nantinya kita keluarkan menjadi lebih kecil dibandingkan kalau kita memilih jangka waktu cicilan yang semakin panjang (meskipun mungkin jumlah cicilannya sedikit lebih kecil).

Menyangkut hal ini, kita masih akan dihadapkan pada risiko kenaikan bunga yang bisa saja terjadi kalau cicilan belum selesai—apabila kita memilih jangka waktu panjang untuk kredit.

Kelebihan yang jelas kalau kita memilih jangka waktu cicilan yang lebih pendek adalah makin cepatnya hutang atau kredit tersebut terlunasi. Dengan begitu, kalau keadaan memang mengharuskan, kita bisa mengambil pinjaman lain dan menggunakan rumah tersebut sebagai agunan atau jaminannya (karena memang sudah lunas).

Nah, menyangkut uang mukanya, bisa dikatakan tidak ada jumlah uang muka yang ideal yang mungkin bisa kita tentukan. Yang lebih pasti untuk diperhatikan adalah bahwa cicilan perbulannya nanti sebaiknya tidak melebihi 30 persen dari tingkat penghasilan kita. Dari patokan ini, kita bisa melihat seberapa banyak uang muka yang dipersyaratkan bank yang mampu kita bayarkan.

Terakhir, menyangkut berapa jumlah cicilan kredit yang dapat kita angsur perbulannya, yang ideal adalah apabila total pengeluaran kita untuk pelunasan hutang (dalam hal ini sekaligus hutang KPR) adalah sebesar 30 persen dari total penghasilan yang kita peroleh. Hindari jumlah yang lebih besar dari total 30 persen tersebut, karena bisa saja kita akan kerepotan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari nantinya.

Dengan gambaran-gambaran sekilas di atas, kita akan sudah memiliki bayangan menyangkut pilihan kepemilikan rumah yang bisa kita pilih. Intinya, sesuaikanlah pilihan itu dengan kemampuan yang kita miliki, agar hasilnya benar-benar sesuai dengan yang kita harapkan.

Nah, selamat membeli rumah baru.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.