Panduan Menjalankan Investasi Obligasi

Investasi Obligasi

BIBLIOTIKA - Kalau menginginkan investasi jangka panjang, obligasi adalah salah satu pilihan yang bisa digunakan. Tertarik dengan investasi dalam bentuk obligasi? Tak dapat dipungkiri bahwa obligasi adalah salah satu bentuk investasi yang cukup menjanjikan, dan tak ada salahnya kalau kita juga bermain di arena yang satu ini.

Sebelum kita masuk pada pembahasan yang lebih mendalam tentang obligasi ini, kita perlu mengenal apa yang disebut sebagai ‘filosofi obligasi’. Sebagaimana umumnya jenis investasi, obligasi juga merupakan jenis investasi jangka panjang. Karenanya, yang dijadikan tujuan dari investasi jenis ini adalah hasil atau pendapatan yang tetap dan stabil, dan bukan hasil besar yang datang secara ‘tiba-tiba’.

Nah, bagaimana cara bermain investasi obligasi agar dapat memperoleh keuntungan yang lumayan?

Cara paling umum dan populer adalah dengan jual-beli obligasi yang belum jatuh tempo. Kunci keuntungan dalam hal ini adalah dengan memantau suku bunga sebagai referensi. Formulanya sesederhana ini; jika tingkat suku bunga turun, maka harga obligasi akan naik. Sebaliknya, jika suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun.

Secara gampangnya, harga obligasi akan terkait dengan fluktuasi suku bunga, dan kita bisa memperoleh keuntungan atau kerugian dari hal ini; dari naik-turunnya suku bunga tersebut.

Di bursa efek, ada dua jenis obligasi yang biasanya ditawarkan, yaitu obligasi yang dimiliki oleh pemerintah, dan obligasi yang dimiliki oleh korporasi. Secara teori maupun secara konsep, obligasi yang dimiliki oleh pemerintah lebih aman karena pasti akan dibayar. Kecuali kalau pemerintah mengalami kebangkrutan atau terjadi pergantian pemerintahan, dan pemerintah yang baru tidak lagi mengakui obliogasi dari pemerintah yang lama.

Namun itu tentu saja tidak mungkin terjadi, karena hal semacam itu akan merusak kredibilitas pemerintah dan orang tak akan lagi percaya pada pemerintah. Dan apabila hal semacam itu benar-benar sampai terjadi, maka pemerintah pun akan kesulitan dalam mencari dana dari pasar obligasi.

Meskipun relatif lebih aman, obligasi milik pemerintah biasanya memberikan bunga yang lebih kecil dibandingkan obligasi miliki korporasi.

Nah, karena investasi akan lebih aman jika dilakukan dengan diversifikasi, maka apabila kita memutuskan untuk berinvestasi dalam jenis ini pun sebaiknya tetap menggunakan kunci diversifikasi ini, yakni tidak hanya membeli satu jenis obligasi, namun ambillah dua jenis obligasi yang ada, yaitu obligasi milik pemerintah dan obligasi milik korporasi.

Dalam memilih obligasi untuk investasi ini, setidaknya ada enam hal yang perlu diperhatikan agar dapat memberikan hasil yang maksimal. Berikut adalah enam hal tersebut.

Tingkat kemajuan

Perhatikan dimana posisi penerbit obligasi tersebut berada, apakah tingkat pertumbuhannya masih prospektif, ataukah sudah menurun. Karena ini akan sangat berpengaruh terhadap nilai obligasi yang nantinya akan kita miliki.

Jika tingkat pertumbuhannya masih bagus, kita bisa berharap akan adanya kemajuan yang prospektif, namun jika tingkat kemajuannya sudah final atau mentok, kita tak bisa terlalu berharap karena bisa saja korporasi tersebut telah sampai pada titik akhir pertumbuhannya. Tentu saja hal ini tidak mutlak atau selalu terjadi, namun ini sebaiknya dijadikan sebagai salah satu dasar pertimbangan ketika akan memilih obligasi.

Ada kalanya suatu perusahaan penerbit obligasi tengah menghadapi suatu masalah, namun itu juga tidak menjadi sebab yang pasti kalau mereka tidak akan terus tumbuh. Karena bisa saja setelah masalah yang dihadapi itu terselesaikan mereka akan bergerak kembali dan akan bertumbuh lagi. Begitu pula halnya dengan perusahaan-perusahaan yang nampak ‘tenang’ tanpa masalah juga tidak menjadi jaminan pasti kalau perjalanannya akan semakin naik dan terus menanjak.

Namun, untuk amannya, dan agar investasi kita selamat, sebaiknya pilihlah obligasi dari perusahaan-perusahaan yang prospektif atau yang tengah bertumbuh karena ini akan lebih menjanjikan keuntungan dibanding dengan perusahaan-perusahaan yang telah ‘mati’ atau yang tidak lagi bertumbuh.

Jumlah obligasi

Lihat berapa banyak jumlah atau volume obligasi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan. Jumlah obligasi yang semakin banyak biasanya menunjukkan bahwa kapitalisasinya juga semakin besar dan memiliki peluang yang tinggi untuk ditransaksikan di pasar sekunder. Selain itu, jumlah obligasi yang besar juga menjadi pertanda kalau perusahaan penerbitnya cukup bonavid.

Namun jangan buru-buru tertipu oleh jumlah obligasi yang besar semata-mata, karena tidak setiap kali besarnya obligasi membuktikan kenyataan seperti yang di atas itu. Ada perusahaan-perusahaan tertentu yang menerbitkan obligasi dalam jumlah yang besar, namun ternyata hasil penjualan obligasinya digunakan untuk membayar hutang perusahaan tersebut.

Jika seperti itu kenyataannya, maka sebaiknya hindari membeli obligasi dari perusahaan semacam itu karena ini adalah jenis perusahaan yang menggunakan obligasi untuk ‘gali lubang tutup lubang’. Ini sama sekali tidak prospektif.

Jadi, yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah dengan memperhatikan kemana hasil penjualan obligasi itu digunakan oleh perusahaan penerbitnya. Jika hasilnya adalah untuk melakukan ekspansi, kita bisa yakin kalau ini adalah perusahaan yang prospektif dan kita bisa membeli obligasi yang mereka terbitkan dan berharap memperoleh hasilnya.

Nah, menyangkut obligasi yang digunakan untuk membayar hutang, ada kalanya perusahaan penerbit obligasi memang menggunakan penjualan obligasinya untuk menutup hutang yang berbiaya mahal dan mereka memang merencanakan untuk segera menutup hutang tersebut untuk kemudian melakukan pembangunan perusahaannya. Untuk kasus semacam ini, obligasi yang mereka terbitkan masih layak untuk dipertimbangkan dan perusahaan ini masih terhitung prospektif untuk diharapkan.

Hasil yang diperoleh

Perhatikan hasil yang diperoleh (coupon rate) dari obligasi yang kita beli tersebut. Semakin tinggi hasil yang diperoleh, maka artinya keuntungan yang kita dapatkan dari kepemilikan obligasi itu pun akan semakin besar. Namun, jangan lupa, bahwa di dalam dunia investasi terdapat hukum abadi yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat penghasilan, maka semakin tinggi pula tingkat risiko yang menyertainya.

Artinya, kalau kita ingin investasi kita aman dalam kepemilikan obligasi ini, sebaiknya kita memilih obligasi yang memberikan hasil ‘umum’. Maksudnya tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu rendah. Karena keuntungan yang bisa didapat dari kepemilikan obligasi ini tidak hanya dari pendapatan bunga saja, namun juga dari hasil keuntungan penjualan obligasi sebelum jatuh tempo.

Untuk mengetahui tingkat coupon rate ini kita bisa mempelajarinya dari tingkat atau peringkat obligasi tersebut. Semakin tinggi bunganya, biasanya tingkatannya pun akan semakin rendah. Obligasi yang diperjualbelikan di pasar biasanya memiliki peringkat yang tertinggi dimulai dari A- (A minus) sampai yang terendah, yaitu idD. Karenanya, kita mesti mengetahui peringkat obligasi yang kita beli dan kita miliki untuk menghindari obligasi yang memiliki peringkat rendah.

Waktu pelunasan

Apabila kita membeli obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, maka jangka waktu jatuh tempo pelunasannya tidak menjadi masalah, karena kita tinggal melakukan penghitungan present value dari nilai obligasi itu dan membandingkannya dengan pendapatan bunga yang diperoleh. Namun, jika kita membeli obligasi yang diterbitkan oleh korporasi / perusahaan, maka kita harus memperhitungkan dan memperhatikan jangka waktu pelunasannya.

Mengapa? Karena semakin lama jatuh tempo dari obligasi yang mereka tawarkan itu, maka semakin tinggi pula tingkat risikonya karena di sini ada faktor ketidakpastian. Maksudnya, siapa yang akan menjamin bahwa perusahaan penerbit obligasi tersebut masih akan beroperasi ketika waktu pelunasan obligasinya jatuh tempo?

Karenanya, kalau kita ingin aman dalam investasi obligasi ini, pilihlah obligasi yang tidak terlalu lama jatuh tempo pelunasannya. Jangan terlalu berspekulasi dengan obligasi yang memiliki waktu pelunasan yang lama meskipun mereka menjanjikan hasil yang lebih besar.

Tingkat jual-beli

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, keuntungan dalam memilih investasi obligasi adalah kita dapat memperoleh dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah hasil yang didapatkan dari obligasi yang kita miliki itu, dan kedua adalah keuntungan yang bisa didapat ketika kita menjual obligasi itu sebelum masa jatuh temponya.

Nah, jika kita memang mengincar keuntungan dari hasil penjualan obligasi sebelum jatuh tempo, maka pilihlah obligasi yang memiliki tingkat jual-beli yang tinggi atau frekuensi perdagangan yang sering. Obligasi yang sering diperdagangkan dalam jual-beli adalah salah satu tanda dari obligasi yang terpercaya, diminati oleh banyak orang yang melakukan investasi, dan biasanya juga mudah dicairkan.

Karenanya, sebaiknya pilihlah jenis obligasi yang memiliki frekuensi perdagangan tinggi atau sering ditransaksikan, karena selain aman, itu juga akan memberikan keuntungan yang berlebih.

Pilihan mata uang

Ada obligasi yang dijual dengan mata uang rupiah, namun ada juga obligasi yang dijual dengan mata uang dolar. Sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa obligasi dalam mata uang dolar akan lebih terjamin kualitasnya dibanding obligasi dalam mata uang rupiah karena seringkali nilai mata uang dolar lebih kuat dibanding rupiah. Namun pertimbangan semacam itu tidak selamanya benar.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, kita mesti memperhatikan kemana hasil penjualan obligasi itu digunakan oleh perusahaan penerbit obligasi. Apakah obligasi dalam mata uang dolar itu memang kemudian digunakan untuk ekspansi usaha yang juga menghasilkan dolar?

Jika memang seperti itu kenyataannya, maka tentu saja obligasi dolar itu akan menarik dan prospektif. Namun jika penjualan obligasi dalam bentuk dolar itu ternyata hanya digunakan untuk membayar hutang perusahaan dalam jumlah dolar, tentu saja ini sama sekali bukan pilihan yang baik.

Kalau perusahaan penerbit obligasi tersebut menghasilkan keuntungannya dalam mata uang rupiah, kita tidak perlu tergiur untuk membeli obligasi yang mereka terbitkan dalam bentuk mata uang dolar, karena biasanya mereka nantinya justru akan kerepotan untuk membayar obligasi itu ketika masa jatuh temponya tiba.

Enam hal di atas menyangkut bagaimana memilih obligasi itu adalah saran-saran dasar yang bisa diperhatikan ketika kita ingin bermain di arena investasi yang satu ini. Secara mudahnya, jika kita membeli obligasi pada saat penawaran, maka yang paling penting adalah memperhatikan saran pertama. Namun jika kita membeli obligasi di pasar sekunder, maka kita perlu memperhatikan semua saran di atas tersebut.

Terakhir, gunakan keyakinan pribadi kita ketika akan memilih obligasi mana yang ingin kita gunakan sebagai bagian dari investasi yang ingin kita miliki. Karena terlepas dari teori apapun menyangkut hal ini, selamanya investasi tetap membutuhkan keyakinan pribadi.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.