Panduan Membeli Rumah untuk Persiapan Menikah

Membeli Rumah untuk Persiapan Menikah

BIBLIOTIKA - Tanya jawab berikut ini hanyalah ilustrasi untuk mendapatkan kerangka pemikiran atau gambaran dalam hal membeli rumah untuk persiapan menyambut pernikahan.

Pertanyaan:

Saya seorang lajang yang akan segera melangsungkan pernikahan. Sebagai salah satu bagian dari persiapan yang saya lakukan dalam menyambut pernikahan ini adalah mulai memikirkan sebuah rumah yang sederhana sebagai tempat tinggal saya beserta pasangan.

Saya telah menemukan sebuah rumah yang cocok dengan selera sekaligus kemampuan saya, yakni sebuah rumah yang seharga Rp. 70 jutaan dengan uang muka sebesar 30 persen dari harganya. Uang muka ini pun bisa diangsur selama tiga kali yang besarnya sekitar Rp. 750 ribuan. Cicilan uang muka tersebut sepertinya dapat dibayar dengan sepertiga penghasilan saya selama ini.

Untuk uang muka tahap pertamanya, saya dan calon pasangan akan membayarnya dengan tabungan yang kami miliki, sedang untuk uang muka tahap kedua dan ketiganya, kami akan mencoba untuk meminjam ke perusahaan tempat kami bekerja, dengan cicilan hutang perbulan yang biasanya sebesar Rp. 400 ribuan.

Apakah dengan kondisi yang masih terbilang pas-pasan seperti yang saya gambarkan di atas keputusan saya untuk membeli rumah tersebut sudah tepat? Atau adakah alternatif lain yang lebih baik yang dapat saya pilih?

Jawaban:

Memiliki rumah sendiri sebagai tempat tinggal memang bisa dikatakan sebagai kebutuhan pokok bagi setiap keluarga, tetapi memaksakan diri untuk dapat memiliki rumah ketika situasi dan kondisi belum memungkinkan juga bukan pilihan yang positif. Karenanya, jika Anda merasa harus memilih untuk membeli rumah sekarang atau nanti, maka sebaiknya dipikirkan dulu keuntungan dan kerugiannya.

Jika ditinjau dari kondisi keuangan Anda saat ini, maka sebenarnya tidak ada masalah dengan pembayaran atau cicilan rumah yang ingin Anda beli tersebut, karena sebagaimana yang telah Anda gambarkan, Anda dapat membayarnya dengan sepertiga dari total penghasilan Anda.

Yang mungkin masih perlu dipikirkan adalah mengenai pembayaran uang mukanya yang diangsur selama tiga kali tersebut. Dengan harga rumah yang sebesar Rp. 70 jutaan, itu artinya Anda memerlukan setidaknya Rp. 23 juta sebagai uang mukanya, sedangkan tabungan Anda beserta calon pasangan hanya mampu untuk membayar sepertiga dari jumlah itu, atau hanya angsuran pertamanya saja.

Mengenai rencana Anda untuk meminjam dari perusahaan tempat bekerja dengan niat untuk membayar tagihan angsuran uang muka kedua dan ketiga, tentu saja akan bagus kalau rencana tersebut terkabulkan.

Namun perlu diingat bahwa itu berarti Anda harus menambah jumlah cicilan yang ada nantinya (cicilan untuk rumah dan juga cicilan untuk membayar hutang pada perusahaan). Ini menjadikan jumlah total pengeluaran Anda sebagai pembayaran hutang tidak saja sejumlah Rp. 750 ribuan, tetapi menjadi sekitar Rp. 1,2 jutaan. Kalau begitu, jumlahnya sudah menjadi setengah dari total penghasilan bulanan Anda.

Nah, kalau pengeluaran (untuk membayar hutang) sudah mencapai setengah dari total penghasilan, maka akan sulit bagi Anda untuk dapat menabung. Padahal, bisa jadi pengeluaran Anda di masa mendatang akan menjadi lebih besar (setelah berkeluarga dan memiliki anak-anak).

Ketika hal seperti itu terjadi, maka keberadaan tabungan sebagai semacam dana cadangan akan menjadi sangat penting keberadaannya. Karenanya, jika memang seperti di atas itu kenyataannya, maka Anda harus dapat menyiasatinya dengan mencari dana tambahan selain dari penghasilan bulanan yang rutin Anda dapatkan dari bekerja, sehingga ada dana tambahan untuk ditabungkan.

Selain gambaran tersebut, Anda masih memiliki alternatif lain, yakni dengan menunda dulu rencana pembelian rumah tersebut, dan memilih untuk mengontrak terlebih dulu sambil mengumpulkan dana yang lebih cukup untuk pembelian rumah di masa mendatang.

Namun yang menjadi kendala adalah; jika Anda mengurungkan niat untuk membeli rumah sekarang, maka biasanya yang akan terjadi adalah Anda akan kehilangan fokus pada pembelian rumah dan kemudian dana yang awalnya direncanakan untuk membeli rumah tersebut digunakan untuk hal-hal lain atau keperluan-keperluan lain.

Nah, kalau misalnya Anda dan pasangan memilih untuk mengontrak rumah terlebih dulu, maka alangkah baiknya kalau dalam setiap bulannya Anda berdua menyisihkan sejumlah dana (sekitar Rp. 750 ribuan) perbulannya untuk ditabungkan.

Bukan untuk mencicil rumah sebagaimana rencana awal, melainkan dengan memasukkan dana tersebut pada rekening khusus yang ditujukan untuk pembelian rumah sebagaimana yang Anda berdua inginkan. Nanti, setelah dananya cukup untuk membayar uang muka pembelian rumah, barulah dana tersebut digunakan untuk membeli rumah.

Mengenai prosedur pengajuan kredit untuk pembelian rumah baru sebenarnya relatif mudah, karena biasanya pihak developer perumahan telah menjalin kerjasama dengan pihak bank. Karenanya, Anda bisa langsung menangani aplikasi kreditnya di kantor pemasaran perumahan tersebut.

Menyangkut persyaratan yang dibutuhkan, biasanya tidak jauh berbeda dengan bank manapun, yakni uang muka sejumlah 20 sampai 30 persen dari nilai jual, kemudian cicilan atau angsurannya tidak melebihi dari sepetiga total penghasilan, dan sudah bekerja setidaknya dua tahun dengan status pekerja tetap. Hal tersebut diisyaratkan oleh pihak bank untuk meyakinkan mereka bahwa Anda memang mampu membayar kembali kredit yang diberikan.

Nah, jika pasangan Anda juga bekerja dan memiliki penghasilan juga, Anda bisa menggabungkan penghasilan Anda berdua untuk mencukupi persyaratan yang ditetapkan tersebut. Intinya, selama Anda bisa memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan oleh pihak bank, maka aplikasi kredit yang Anda ajukan pun tidak akan mengalami masalah.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.