Mengapa Wanita Tergila-gila Pada Sepatu?

Wanita Tergila-gila Sepatu

BIBLIOTIKA - Jika dipikir dengan “akal sehat”, khususnya akal sehat pria, ketergila-gilaan wanita pada sepatu sepertinya tidak masuk akal. Kaum pria mungkin bisa memaklumi kalau wanita sangat keranjingan belanja baju, karena benda itu melekat pada tubuh sehingga dapat terlihat dengan jelas. Baju yang menarik atau modis bisa membuat pemakainya lebih terlihat cantik dan menarik. Tapi sepatu? Benda itu terletak di bawah kaki. Memangnya siapa yang mau repot-repot memperhatikan kaki orang?

Lebih tak masuk akal lagi, wanita-wanita “sepatuholic” itu bahkan sampai keluyuran ke luar negeri, menghabiskan banyak uang, demi sepatu. Sepertinya, bagi mereka, aneka merek sepatu lebih mudah dihafal dibanding nama-nama keponakan.

Coba kita lihat daftar “tak masuk akal” berikut ini:

Paris Hilton memiliki 5.000 pasang sepatu. Jumlah itu dikatakannya pada tahun 2011, sehingga sekarang mungkin jumlah koleksinya telah bertambah.

Celine Dion, penyanyi My Heart Will Go On, mengoleksi lebih dari 3.000 pasang sepatu.

Cheryl Cole, pelantun lagu Call My Name, memajang semua koleksi sepatu mewahnya di salah satu sudut rumah, dan terlihat seperti etalase toko, karena jumlahnya lebih dari 2.000 pasang.

Mariah Carey, penyanyi, penulis lagu, sekaligus produser rekaman asal Amerika, mengoleksi lebih dari 5.000 pasang sepatu.

Stacy Ann Ferguson, yang biasa disebut Fergie, personel grup Black Eyed Peas, mengoleksi lebih dari 2.000 pasang sepatu.

Lindsay Lohan, artis berdarah Kanada, memiliki lebih dari 5.000 pasang sepatu.

Suri Cruise, putri pasangan Tom Cruise dan Katie Holmes, mengoleksi banyak sepatu mewah rancangan para desainer terkenal, dan untuk koleksi sepatunya itu ia telah menghabiskan biaya lebih dari 150 ribu dollar AS, atau sekitar 1,4 miliar rupiah.

Daftar itu masih bisa diperpanjang dengan nama-nama lain yang sama terkenalnya. Megan Fox, misalnya, juga pecinta sepatu kelas akut. Aktris yang membintangi film Transformer itu mengoleksi aneka macam sepatu dalam jumlah banyak, dengan merek-merek terkenal—dari Cavalli, Yves Saint Laurent, sampai Christian Louboutin.

Keira Knightley, artis berdarah Inggris, tak jauh beda. Bintang film The Duches itu bahkan telah sampai pada taraf “kecanduan” terhadap sepatu. Dalam pengakuannya sendiri, ia menyatakan bahwa toko sepatu seperti memanggil-manggilnya hingga ia tak memiliki kemampuan untuk menolak. Ia biasanya membeli sepatu karena tampilannya cantik dan memukau. Kedengarannya masuk akal. Yang tidak masuk akal, dia tak pernah menghitung berapa banyak sepatu yang dibelinya, selama ia menyukainya. Begitu banyaknya sepatu yang pernah ia beli, sampai-sampai banyak sepatu miliknya yang tak pernah keluar dari kotaknya, karena tidak sesuai untuk kakinya.

Benarkah kecenderungan wanita pada sepatu tidak masuk akal? Mari kita tanya pada orang-orang berkompeten dalam hal ini, dan simak penjelasan mereka.

Martin Lindstrom, pakar merek untuk perusahaan Fortune 100 dan penulis Buyology: Truth and Lies About Why We Buy, menyatakan, “Sepatu bisa mengubah dan menggambarkan suasana hati. Selain pakaian, menggunakan sepatu dengan model dan warna yang menarik bisa menunjang suasana hati wanita. Sensasinya mirip dengan mengkonsumsi obat penenang.”

Suzanne Ferriss, PhD, editor Footnotes: On Shoes, menambahi, “Selain bisa memperbaiki suasana hati, membeli sepatu baru juga dapat merangsang area korteks prefrontal otak, yang bisa membuat seseorang lebih bersemangat. Sepatu adalah barang koleksi, banyak wanita sengaja membelinya hanya sebagai barang pajangan.

Wanita memperlakukan sepatunya seperti patung, tapi itu sangat berpengaruh bagi hati mereka. Mengumpulkan setiap jenis sepatu, bagi wanita, tak jauh beda dengan kesenangan dan semangat seorang kolektor perangko. Rata-rata kolektor perangko mendapatkan tingkat kepuasan yang tinggi ketika mendapatkan perangko langka, begitu pula dengan wanita pecinta sepatu.”

Helen Fisher, PhD, profesor antropologi di Rutgers University, menjabarkan bahwa sepatu, bagi wanita, juga dapat menunjukkan kekuasaan. Secara biologi, sepatu—terutama yang berhak—bisa menunjukkan kelas sosial seseorang, terutama di tempat kerja. “Sepatu hak tinggi secara harfiah dapat meningkatkan status,” kata Helen Fisher, “karena Anda lebih tinggi saat memakainya.”

Selain itu, sepatu hak tinggi juga membawa signifikasi historis yang menambah daya tarik mereka. Di abad sebelumnya, hanya orang kaya yang memakai sepatu hak tinggi. Kebanyakan orang yang bersepatu tanpa hak, rata-rata memiliki jabatan biasa, dengan kata lain hanya karyawan biasa. “Sepatu adalah ukuran kelas,” kata Helen Fisher dengan serius.

Fakta:

Dalam Three Contributions to the Theory of Sex, Sigmund Freud menulis bahwa sepatu adalah simbol alat kelamin wanita.

Harry Winston Ruby Slippers adalah nama sepatu paling mahal di dunia. Dihiasi 4.600 butir rubi seberat 1.350 karat dan 50 karat berlian, sepatu itu dirancang oleh Ronald Winston, putra perancang perhiasaan terkenal Harry Winston, dan harganya lebih dari 30 miliar rupiah.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.