Mengapa Selalu Ada Lubang Pada Biskuit?

Biskuit

BIBLIOTIKA - Kata “biskuit” berasal dari bahasa Latin—bis coctus—memiliki arti “dipanggang dua kali”, yang menunjukkan bagaimana kebanyakan jenis biskuit dibuat. Biskuit kering pertama kali dibuat pada 1792 oleh John Pearson di Newburyport, Massachusetts, Amerika Serikat. Waktu itu ia sedang bereksperimen untuk membuat jenis biskuit yang mampu bertahan lama dan awet dibanding biskuit biasa.

Dalam eksperimen itu, Pearson mencampurkan tepung dan air, memanggangnya, kemudian menyebut penemuannya sebagai “roti pilot Pearson”. Biskuit itu kemudian populer dan dikenal sebagai “kue kering”. Para pelaut sangat menyukai biskuit jenis tersebut, karena dapat disimpan lama tanpa basi sebagaimana biskuit biasa. Sejak itu, biskuit buatan Pearson juga sering disebut “biskuit laut”.

Jika kita kebetulan kurang kerjaan dan mau memperhatikan, kita akan menemukan bahwa di setiap biskuit kering selalu terdapat lubang. Dulu semua donat juga berlubang di tengah, namun sekarang telah muncul donat tanpa lubang. Tetapi “evolusi” semacam itu tidak terjadi pada biskuit kering. Sejak diciptakan Pearson ratusan tahun lalu, biskuit yang kita makan hari ini selalu memiliki lubang.

Ternyata, keberadaan lubang-lubang pada biskuit tidak hanya bertujuan untuk hiasan atau memudahkan pengepakan, tetapi lebih sebagai semacam “kewajiban”. Tanpa lubang-lubang yang kita lihat itu, biskuit kering tidak akan terpanggang dengan baik.

Lubang-lubang pada biskuit memungkinkan uap panas keluar selama proses pemanggangan, dan hal itu akan membuat biskuit tetap datar, tidak mengembang naik, sehingga lubang-lubang itu membantu biskuit kering tetap garing dan renyah. Hal itu berkebalikan dengan biskuit biasa yang tidak memiliki lubang, karena biskuit biasa butuh mengembang agar membuatnya terasa empuk.

Pada waktu biskuit kering dibuat, adonan akan diratakan membentuk lembaran datar, persis seperti orang akan membuat martabak. Lembaran-lembaran itu kemudian berjalan di bawah mekanisme yang dilengkapi pin-pin khusus untuk menempatkan lubang-lubang pada adonan, seiring lembaran adonan dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan.

Posisi dan jumlah lubang pada sekeping biskuit bervariasi, tergantung ukuran dan bentuknya. Lubang-lubang itu juga ditempatkan sedemikian rupa, sehingga jumlah lubang tidak terlalu banyak, dan posisinya juga tidak terlalu berdekatan. Karena, jika lubang-lubang itu terlalu dekat atau terlalu banyak, adonan biskuit kering akan sangat kering dan keras, karena terlalu banyak uap yang keluar. Sebaliknya, jika lubang-lubangnya terlalu jauh atau terlalu sedikit, adonan akan mengembang, sehingga membentuk gelembung kecil di permukaan biskuit.

Di masa sekarang, beberapa biskuit kering juga dikenal dengan sebutan cracker. Istilah itu diciptakan oleh Yosia Bent, ketika tanpa sengaja ia membakar adonan—yang sekarang kita sebut cracker—suatu hari pada tahun 1801, juga di Massachusetts. Pada waktu dibakar, adonan itu memunculkan suara berderak (crackling), yang kemudian menginspirasi nama cracker.

Yosia Bent juga orang yang memelopori biskuit kering cracker sebagai makanan ringan masyarakat umum, bukan hanya untuk persediaan makanan para pelaut. Untuk membuat biskuit keringnya populer sebagai makanan ringan, Bent memperbaiki cita rasanya agar terasa lebih lezat. Dalam salah satu eksperimennya ia menciptakan biskuit soda, yang kemudian menjadi cikal bakal biskuit asin, yang sekarang sangat populer. Pada tahun 1810, bisnis biskuit yang dirintis Bent sangat sukses, sampai akhirnya usahanya diakuisisi oleh National Biscuit Company (Nabisco).

Fakta:

Makanan terakhir yang dimakan Elvis Presley sebelum dia meninggal adalah 4 mangkuk es krim, dan 6 keping biskuit cokelat.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.