Jenis-jenis Mamalia Langka yang Nyaris Punah

Ekidna moncong panjang timur

BIBLIOTIKA - Semakin hari, populasi hewan banyak yang berkurang atau bahkan hilang karena punah, termasuk spesies mamalia. Berdasarkan daftar EDGE (Evolutionarily Distinct, Globally Endangered) yang dikeluarkan Zoological Society of London, setidaknya ada 14 spesies mamalia yang dianggap langka dan unik, yang sekarang nyaris punah. Berikut ini 14 spesies tersebut.

Ekidna moncong panjang timur

Penjelasan atas ekidna moncong panjang timur (Zaglossus bartoni) merujuk pada penjelasan di bawah (ekidna moncong panjang barat)

Ekidna moncong panjang barat

Ekidna moncong panjang timur dan ekidna moncong panjang barat (Zaglossus bruijnii) memiliki fitur yang unik, yaitu perpaduan antara mamalia dan reptil. Keduanya juga nyaris punah akibat perburuan dan kehilangan habitat, serta akibat aktivitas pertambangan, pertanian, dan penebangan liar.

Ekidna moncong panjang Sir David

Dari seluruh spesies ekidna moncong panjang, ekidna moncong panjang Sir David (Zaglossus attenboroughi) adalah yang paling kecil dan paling terancam punah.

Spesies ini awalnya dikenali dari sebuah spesimen yang ditemukan pada tahun 1961, yang kemudian dipercaya telah punah, hingga kemudian tim EDGE menemukan bukti bahwa spesies ini masih bertahan pada tahun 2007. Distribusi dari ketiga spesies ekidna ini terletak di Papua dan Papua Nugini.

Greater short-tailed bat

Kelelawar ekor pendek (Mystacina robusta) yang terbesar di New Zealand ini kemungkinan sudah punah, menyusul kedatangan orang Eropa di sana sejak 200 tahun yang lalu. Tidak seperti saudara dekatnya, Lesser short-tailed bat, spesies ini lebih banyak menghabiskan waktu mereka di dalam tanah, sehingga rentan terhadap serangan predator seperti tikus.

Belum ada penampakan kelelawar ini sejak tahun 1967. Ada laporan yang terdengar, namun sulit untuk diverifikasi karena area yang dilaporkan tersebut dimiliki oleh suku lokal Maori, dan sulit untuk memperoleh izin masuk ke daerah tersebut.

Baiji

Baiji (Lipotes vexillifer) atau lumba-lumba di sungai Yangtze, kemungkinan sudah punah, karena hanya tingga 13 saja yang ditemukan selama survei populasi antara 1997 dan 1999. Survei terbaru yang dilakukan tidak berhasil menemukan satu pun baiji yang tersisa di sungai tersebut.

Sungai Yangtze yang sangat ramai itu mengakibatkan baiji kehilangan habitatnya, dan populasinya menurun drastis, akibat aktivitas pemancingan maupun polusi limbah.

Mountain pygmy possum

Mountain pygmy possum (Burramys parvus) merupakan spesies jenis marsupial unik yang awalnya hanya diketahui dari fosilnya saja, hingga kemudian ditemukan pada tahun 1966 di sebuah resort ski di Victoria.

Hewan ini merupakan salah satu dari pygmy possum terbesar di Australia, dan merupakan mamalia kecil yang umurnya terpanjang di dunia. Hewan betinanya dapat mencapai usia lebih dari 12 tahun. Sayangnya, kehadiran industri resort ski yang menjamur di Australia mengakibatkan possum kecil ini kehilangan habitatnya hingga kini nyaris punah.

Solenodon Kuba

Solenodon memang memiliki penampilan yang mirip dengan tikus, tapi mereka tidak seperti tikus sama sekali. Solenodon merupakan satu-satunya mamalia yang menginjeksi korbannya dengan racun.

Solenodon hanya terdiri dari dua spesies, yakni Hispaniolan solenodon yang ditemukan di kepulauan Hispaniola, dan Cuban solenodon yang persebarannya di Kuba, atau yang biasa disebut solenodon Kuba (Solenodon cubanus). Sebelum kolonisasi orang Eropa, spesies ini merupakan predator yang dominan di habitatnya, namun seiring berjalannya waktu mereka kalah dengan predator baru semacam anjing, kucing, dan luwak.

Kelinci riverine

Spesies kelinci riverine (Bunolagus monticularis) berbeda dengan sebagian besar keluarga kelinci lainnya, karena mereka tidak berkembang biak seperti kelinci.

Apabila spesies kelinci pada umumnya bisa membesarkan 12 bayi tiap kali hamil, dan berkali-kali hamil dalam satu musim, kelinci riverine hanya bisa membesarkan satu anak dalam satu waktu, dan hanya hidup selama 3 atau 4 tahun di alam terbuka. Habitat kelinci ini ada di gurun Karoo, Afrika, dan populasinya terancam punah akibat gurun tersebut sering dijadikan lahan pertanian.

Badak bercula dua Sumatera

Badak bercula dua Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan spesies badak yang paling kecil dan terancam dari lima jenis spesies badak yang masih bertahan hidup. Spesies ini hidup di pedalaman hutan Asia Tenggara, sebagian besar di Indonesia.

Sayangnya, aktivitas manusia seperti penggundulan hutan mengakibatkan populasinya turun drastis sehingga terancam punah, diperkirakan hanya sekitar 275 ekor yang hidup hingga saat ini.

Badak hitam

Badak hitam (Diceros bicornis) dan badak putih tidak dinamakan berdasarkan warna kulit atau tubuhnya, melainkan bentuk bibirnya. Badak hitam memiliki bibir atas yang mengatup, yang digunakan untuk menarik tumbuhan ke dalam mulutnya. Spesies ini dikenal berbahaya, sehingga banyak mengalami pembunuhan dibandingkan badak lainnya. Populasinya mengalami penurunan drastis sebanyak 96 persen antara tahun 1970 hingga 1992.

Selain itu, berbeda dengan mamalia lainnya, badak membutuhkan kondisi lingkungan yang spesial untuk bisa berkembang biak. Badak betina juga membutuhkan teman-teman badak betina yang lain untuk menemaninya dalam mengembangbiakkan dan membesarkan badak muda.

Wombat hidung berbulu

Hanya ada tiga spesies wombat (Lasiorhinus krefftii) yang saat ini masih bertahan hidup, dan wombat hidung berbulu adalah salah satunya. Wombat merupakan makhluk yang beraktivitas di malam hari (nokturnal), dan kebanyakan dilakukan sendirian. Sepanjang hari, wombat tinggal di dalam lubang, dan baru keluar di malam hari untuk memakan rerumputan.

Wombat banyak kehilangan habitat akibat aktivitas pertanian, serta munculnya predator-predator yang masuk ke Australia.

Unta bactrian

Spesies unta ini dapat dibedakan dari unta Arab dari kedua punuknya. Unta bactrian (Camelus ferus) harus beradaptasi di gurun Gobi yang ganas, salah satu tempat yang paling berbahaya dan rawan di bumi.

Spesies ini dapat bertahan dari dahaga yang panjang, kekurangan makanan, bahkan radiasi pengujian nuklir. Namun, eksistensi mereka kini terancam akibat kompetisi memperebutkan air dan makanan, perburuan, serta kehilangan habitat.

Unta bactrian juga memiliki kemampuan adaptasi yang unik dalam menghadapi cuaca ekstrim. Bulunya bisa menjadi sangat tebal ketika musim dingin, sementara ketika musim panas mereka nyaris tidak berbulu. Selain itu, mereka memiliki kaki yang lembut, mirip sepatu salju, untuk mencegahnya terperosok ke dalam pasir gurun.

Badak Jawa

Populasinya kurang dari 60 ekor, sehingga badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) atau badak bercula satu, merupakan spesies badak yang paling langka dibandingkan lainnya. Hewan ini mempunyai satu buah cula dan kulit yang amat tebal, bahkan disebut-sebut menyerupai besi baja.

Seperti badak lainnya, spesies ini memakan tumbuh-tumbuhan dan kebanyakan menghabiskan waktunya untuk berendam dalam lumpur untuk mendinginkan tubuh. Meskipun populasinya kini dijaga dalam taman nasional, namun culanya masih banyak diburu, sehingga populasinya masih tetap terancam. Populasinya yang kecil juga mengakibatkan mereka sangat berisiko menghadapi penyakit dan bencana alam yang besar.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.