Ini yang Akan Terjadi jika Kita Tidak Pernah Tidur (2)

Tidak Pernah Tidur

BIBLIOTIKA - Seperti disebutkan di artikel sebelumnya (Ini yang Akan Terjadi jika Kita Tidak Pernah Tidur 1), kurang tidur dalam waktu berkepanjangan pada subjek normal dapat menginduksi perubahan tingkat kesadaran, serta hilangnya fungsi kognitif dan motorik.

Randy Gardner pada eksperimen di atas memang dapat tetap “terjaga” (dalam arti tidak tidur) selama 11 hari, tetapi pada dasarnya ia mengalami disfungsional kognitif pada eksperimen tersebut. Dengan kata lain, meski dia tidak tidur, namun tubuhnya belum tentu mampu melakukan segala aktivitas dengan baik sebagaimana jika ia tidur secara normal.

Pada eksperimen lain yang menggunakan tikus sebagai subjek percobaan, ditemukan fakta bahwa tidak tidur secara terus-menerus selama dua minggu atau lebih akan mengantarkan pada kematian, yang berkaitan dengan hipermetabolisme yang terjadi di seluruh tubuh akibat tak pernah tidur.

Percobaan itu dilakukan di laboratorium Allan Rechtschaffen di University of Chicago, menggunakan dua ekor tikus yang diletakkan di sebuah piring datar secara terpisah, yang dilengkapi makanan. Piring yang cukup luas itu diletakkan secara mengambang di atas air kolam.

Gelombang otak direkam terus-menerus ke dalam program komputer, untuk memastikan tikus-tikus itu benar-benar tak pernah tidur. Setiap kali tikus-tikus itu mulai tertidur, piring datar tempat mereka berada akan dibenturkan ke tembok di tengah kolam yang memungkinkan hewan di atasnya masuk ke dalam air, sehingga tikus-tikus itu pun terus berusaha terjaga agar selamat.

Hasilnya, tikus-tikus itu mati di tempatnya masing-masing, setelah tidak tidur selama dua minggu. Satu lagi penelitian yang membuktikan bahwa makhluk hidup—manusia ataupun hewan—memang butuh tidur.

Memang, seperti yang diyakini banyak pakar, tak satu orang pun mengetahui mengapa manusia tidur. Tetapi, berbagai eksperimen dan percobaan serta penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tidur memang penting bagi manusia.

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa tidur sebenarnya tidak memiliki fungsi biologis murni, tapi sekadar mekanisme tiruan dari zaman prasejarah, yang dirancang untuk memaksa organisme primitif manusia untuk mencari tempat perlindungan yang aman selama periode kegelapan yang berbahaya. Perilaku adaptif itu memiliki keuntungan tambahan dalam menyediakan energi panas yang diperlukan selama saat-saat dingin di malam hari.

Dulu, di zaman prasejarah, manusia menjalani hidup dengan mendasarkan waktu pada matahari. Pada waktu siang, manusia bekerja—berkebun, berburu, dan lain-lain—sampai sore. Ketika malam datang dan hari menjadi gelap, mereka tak bisa mengerjakan kegiatan apa pun, dan tidur dijadikan cara untuk mengisi waktu-waktu itu. Di sisi lain, tidur yang mereka lakukan memberikan efek positif, karena mereka merasa lebih segar ketika bangun di pagi hari.

Jika merujuk perkiraan itu, seprimitif apa pun alasan tidur, ia memberi manfaat bagi manusia. Deepak Chopra, ilmuwan yang dianggap sebagai “pakar masalah tidur” di zaman kita, menyatakan, “Dalam fakta sebenarnya, kurang tidur pada satu malam tidak memiliki efek nyata terhadap kemampuan kita dalam menjalankan tanggung jawab normal pada keesokan harinya.

Namun, tetap ada persepsi atas rasa lelah dan kemampuan yang kurang utuh, sehingga penting bagi kita untuk belajar memperoleh istirahat yang paling total dan paling menyegarkan dalam tidur kita. Itu akan membawa pada vitalitas maksimal dan peremajaan kembali pikiran dan tubuh.”

Beberapa teori yang dianggap paling valid menyangkut tidur menyebutkan, bahwa tidur memberi kesempatan tubuh untuk memperbaiki otot-otot dan jaringan-jaringan lainnya, mengganti sel yang tua atau mati, dan lain-lain.

Tidur juga memberikan kesempatan otak untuk mengatur dan menyimpan memori—mimpi sering dianggap sebagai bagian dari proses ini. Selain itu, tidur juga semacam mekanisme tubuh untuk memasuki taraf “off”, sehingga kita dapat menyimpan energi untuk melakukan kegiatan di esok hari. Menggunakan analogi ponsel, tidur adalah waktu pengisian baterai.

Karena itu, cara terbaik untuk memahami mengapa kita perlu tidur adalah dengan melihat apa yang terjadi jika kita—bukan orang lain—tidak tidur dalam waktu yang cukup. Setiap orang memiliki kebutuhan tidurnya masing-masing.

Meski anjuran medis menyatakan waktu terbaik untuk tidur adalah 8 jam setiap malam, tetapi ada yang sudah merasa cukup jika tidur selama 4 atau 5 jam, juga ada yang membutuhkan waktu hingga 9 sampai 10 jam. “Cukup” dalam hal tidur bisa berbeda untuk masing-masing orang.

Namun, secara rata-rata, orang akan mengalami masalah ketika tidak tidur, apalagi sampai berhari-hari. Seperti yang disebutkan Deepak Chopra di atas, tidak tidur selama satu malam—dan terus terjaga hingga keesokan harinya—masih tidak menimbulkan masalah, karena kita tetap dapat beraktivitas. Tetapi kita akan merasa lebih cepat lelah, konsentrasi berkurang, dan tubuh terasa tegang karena adrenalin yang terpicu akibat begadang.

Ketika kita tidak tidur selama dua hari, kekuatan fisik dan konsentrasi makin menurun. Tidak tidur selama tiga hari akan membuat kondisi di atas makin parah, sulit berkonsentrasi, dan pikiran kita mulai sulit fokus, hingga mungkin kita akan sering melakukan kesalahan selama beraktivitas. Memasuki empat hari tidak tidur, orang biasanya sudah sulit berpikir jernih, kehilangan daya tangkap terhadap realitas, dan kadang sampai berhalusinasi.

Masih berkaitan dengan kebiasaan tidak tidur, ada gangguan medis langka yang disebut Morvan’s fibrillary chorea, atau yang biasa disebut “sindrom Morvan”. Masalah tersebut ditandai dengan otot berkedut, nyeri, keringat berlebihan, penurunan berat badan, halusinasi secara periodik, dan kehilangan tidur (agrypnia).

Ilmuwan Prancis, Michel Jouvet, bersama rekan-rekannya, mempelajari seorang pria berusia 27 tahun yang mengalami gangguan tersebut, dan menemukan bahwa orang itu hampir tidak tidur selama beberapa bulan.

Selama waktu itu, ia tidak merasa mengantuk atau lelah, dan tidak menunjukkan gangguan suasana hati, memori, atau kecemasan. Tetapi, hampir setiap jam 9 sampai 11 malam, ia mengalami periode selama 20 sampai 60 menit ketika ia mengalami halusinasi pada indra pendengaran, penglihatan, penciuman, dan somesthetic (indra peraba), serta rasa sakit di jari tangan dan kakinya.

Gangguan tidur langka lainnya adalah Fatal Familial Insomnia (FFI), yaitu penyakit autosomal dominan yang selalu berakibat fatal setelah 6 sampai 30 bulan tidak tidur. Kematian biasanya disebabkan kegagalan organ-organ tubuh, dan bukan karena kurang tidur. Proses patologisnya meliputi degenerasi thalamus dan area otak lainnya, aktivitas berlebihan dari sistem saraf simpatik, hipertensi, demam, tremor, stupor (pingsan), penurunan berat badan, dan gangguan sistem endokrin tubuh.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang sehat—yang tidak mengalami masalah medis apa pun—mungkin bisa tidak tidur sama sekali hingga waktu lama, dan tidak tidurnya sendiri tidak akan mengakibatkan kematian secara langsung.

Tetapi, karena tidak pernah tidur, tubuh tidak memiliki kesempatan untuk memperbarui diri—sesuatu yang dilakukan ketika manusia tertidur. Karena tidak ada waktu memperbarui diri, tubuh pun lebih cepat aus, yang akhirnya berujung pada masalah kesehatan bahkan kematian.

Pada waktu malam hari—khususnya ketika tidur—tubuh kita juga bekerja membuang racun-racun yang mungkin telah masuk setelah seharian beraktivitas. Di malam hari itulah, tubuh berupaya keras menetralisir zat-zat adiktif untuk menjaga agar tubuh kita selalu sehat. Karena itu, ketika kita tidak tidur, proses kerja tubuh dalam membersihkan diri pun tidak optimal atau kurang sempurna. Berikut ini jadwal tubuh dalam pekerjaan penting tersebut.

Pukul 21.00-23.00: Tubuh kita melakukan pembuangan zat-zat tidak berguna di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu itu, idealnya, kita telah membaringkan diri di tempat tidur dengan tenang dan rileks.

Pukul 23.00-01.00: Tubuh kita melakukan pembersihan racun pada bagian hati. Agar proses pekerjaan penting itu dapat dilakukan optimal, kita harus dalam keadaan tidur pulas.

Pukul 01.00-03.00: Tubuh kita melakukan pembersihan pada bagian empedu. Sama seperti di atas, pekerjaan itu pun akan lebih sempurna jika berlangsung ketika kita dalam kondisi tidur.

Pukul 03.00-05.00: Giliran paru-paru yang dibersihkan. Karena pembersihan pada paru-paru itulah yang menjadikan penderita batuk akan mengalami batuk-batuk hebat pada waktu dini hari. Pada waktu pagi, proses pembersihan kotoran pada paru-paru telah mencapai saluran pernapasan, sehingga penderita batuk tidak perlu minum obat di waktu pagi agar tidak merintangi proses pembuangan racun yang secara alami dilakukan oleh tubuh.

Pukul 24.00-04.00: Sumsum tulang belakang memproduksi darah.

Pukul 05.00-07.00: Tubuh melakukan pembersihan di bagian usus besar. Karena proses itulah kita sering kali ingin buang air besar pada waktu pagi.

Berdasarkan jadwal mahapenting di atas, kita pun melihat alasan mengapa tidur penting bagi manusia. Jadi, apa yang akan terjadi kalau kita tidak pernah tidur selamanya? Jawabannya mutlak—“selamanya” itu relatif.

Fakta:

Albert Einstein biasa tidur selama 10 jam setiap malam.

Thomas Alva Edison dapat tidur di sembarang tempat dan tidak pandang waktu—kapan pun ia ingin tidur, ia akan tidur.

Honoré de Balzac, novelis besar Prancis, biasa tidur sepanjang hari, kemudian bangun hampir tengah malam untuk menulis karya-karyanya.

John F. Kennedy, presiden Amerika, terkenal sebagai orang yang suka tidur siang. Semua rapat, sepenting apa pun, akan ditunda atau dihentikan kalau sudah masuk jam tidur siangnya.

Winston Churchill, perdana menteri Inggris, suka tidur sore hari, tak peduli apa pun yang sedang terjadi—bahkan ketika negaranya sedang menghadapi peristiwa genting selama Perang Dunia II.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.