Ini yang Akan Terjadi jika Kita Tidak Pernah Tidur (1)

Tidak Pernah Tidur

BIBLIOTIKA - Nasihat kesehatan standar sering kali menyatakan bahwa kita butuh tidur sekitar 8 jam untuk menjaga kesehatan tubuh. Bayi yang baru lahir rata-rata tidur 20 jam sehari. Memasuki usia 4 tahun, tidurnya mulai berkurang menjadi 12 jam. Pada usia 10 tahun, waktu tidurnya semakin berkurang menjadi 10 jam per hari, dan pada waktu dewasa rata-rata orang tidur selama 6 sampai 8 jam.

Bayi dan anak-anak membutuhkan waktu tidur lebih lama, karena hormon pertumbuhan dan zat-zat yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh bekerja pada waktu mereka tidur. Karenanya, bayi dan anak-anak yang kurang tidur rentan terkena penyakit. Sementara orang dewasa membutuhkan tidur sebagai istirahat, bahkan tidur dianggap sebagai istirahat terbaik, karena buktinya kita jadi lebih segar setelah terbangun dari tidur semalaman.

Bagaimana kalau misalnya nanti malam kita tidak tidur, dan tidak pernah tidur lagi selamanya?

Pada waktu Perang Dunia I, seorang prajurit Hongaria bernama Paul Kern tertembak di bagian kepala, dan mencederai bagian depan rongga otaknya. Setelah dirawat, luka itu sembuh. Tapi sejak itu ia tak pernah bisa tidur. Para dokter telah berusaha keras untuk membuat Paul Kern bisa tidur—memberinya obat tidur, obat penenang, obat bius, hingga hipnotisme—tetapi tak ada yang berhasil. Paul Kern tetap tak pernah bisa tidur. Bahkan mengantuk pun tidak.

Karena kondisi itu, para dokter pun menyimpulkan hidup Paul Kern tak akan bisa bertahan lama, karena kesehatan manusia ditunjang waktu tidur yang cukup. Tapi kesimpulan itu menghadapi kenyataan sebaliknya. Paul Kern tetap sehat dan panjang umur, ia mendapatkan pekerjaan dan mampu bekerja dengan baik, meski setiap hari tak pernah tidur sedetik pun.

Di Vietnam, terjadi kasus tak jauh beda, kali ini menimpa Thai Ngoc (kadang pula disebut/ditulis Hai Ngoc), seorang warga Que Trung Commune, kabupaten Nong Son di provinsi Quang Nam, Vietnam. Pada tahun 1973, Thai Ngoc mengalami demam, dan sejak itu ia tidak pernah bisa tidur semenit pun... hingga hari ini!

Semula, Thai Ngoc khawatir dengan masalah tidak bisa tidurnya. Ia pun telah mencoba segala upaya untuk dapat tidur. Tapi semua cara dan obat yang telah dicobanya tidak ada yang berhasil. Akhirnya, karena putus asa, Thai Ngoc pun nekat menjalani gaya hidup baru; tidak pernah tidur. Jika dihitung sejak 1973 hingga saat ini (2012), Thai Ngoc telah tidak tidur selama 39 tahun.

Yang menakjubkan, meski tidak pernah tidur sama sekali sampai bertahun-tahun, Thai Ngoc dapat menjalani hidup secara normal, bahkan jarang mengalami sakit. Pada saat ini, lelaki tersebut bahkan telah menginjak usia 70 tahun, dan kondisi fisiknya masih bugar.

Ada cukup banyak orang yang ingin membuktikan bahwa Thai Ngoc tidak pernah tidur, dan mereka mengamati keseharian lelaki itu selama 24 jam hingga berhari-hari. Kenyataannya dia memang tidak pernah tidur, dan para pengamatnya terpaksa bergiliran tidur karena tak mampu menandingi kemampuan Thai Ngoc dalam hal tidak tidur.

Karena tidak pernah tidur setiap malam, Thai Ngoc pun menggunakan siang dan malamnya untuk beraktivitas. Ia memiliki enam anak, dan rumahnya mempunyai kebun yang cukup luas. Ketika keluarganya telah tertidur di malam hari, Thai Ngoc mengisi waktu sendirinya dengan mencangkul tanah kebunnya untuk digunakan sebagai kolam ikan.

Dalam waktu tiga bulan, ia telah menggali dua kolam besar yang siap digunakannya untuk memelihara ikan. Aktivitas itu hanya ia lakukan sendiri di malam hari, setelah keluarga dan warga kampungnya terlelap dalam mimpi.

Ketika diwawancarai surat kabar, apakah dia merasa letih akibat tak pernah tidur, Thai Ngoc menjawab dengan sederhana, “Bagi saya, sekarang, tidur atau tidak sama saja.” Kenyataannya, secara fisik maupun mental, ia baik-baik saja. “Saya tidak tahu apakah insomnia berdampak pada kesehatan saya atau tidak, tapi saya masih sehat dan dapat berkebun secara normal seperti yang lain,” ujarnya.

Kehidupan Thai Ngoc yang luar biasa itu pun mengundang perhatian banyak kalangan, khususnya para ahli medis dan ilmuwan. Beragam tes kesehatan telah dicoba, namun semuanya membuktikan kalau Thai Ngoc “baik-baik saja”.

Berdasarkan kisah-kisah di atas, mungkinkah kita juga bisa tidak tidur selamanya? Tentunya sangat riskan jika hanya mengandalkan dua ilustrasi di atas untuk mencoba gaya hidup baru dengan tidak pernah tidur. Karena, bagaimana pun, kedua kisah di atas bukan kasus umum.

Meski Paul Kern di Hongaria dan Thai Ngoc di Vietnam bisa “baik-baik saja” tanpa tidur, tetapi mereka sangat kasuistis, karena kebetulan berhubungan dengan masalah medis tertentu. Paul Kern tertembak di bagian otak, sementara Thai Ngoc mulai tidak tidur setelah terkena demam. Artinya, kebiasaan mereka belum tentu bisa ditiru orang lain yang kebetulan waras (tidak mengalami masalah atau kelainan medis apa pun).

Pada tahun 1965, para ilmuwan melakukan eksperimen untuk melihat seberapa lama manusia normal mampu terjaga (tidak tidur sama sekali). Eksperimen yang diawasi secara ketat dan terus-menerus itu melibatkan cukup banyak orang dari berbagai usia, yang secara medis dinyatakan sehat.

Hasilnya, orang yang mampu bertahan paling lama tidak tidur adalah Randy Gardner, seorang siswa sekolah berusia 17 tahun. Ia mampu terjaga selama 264 jam (sekitar 11 hari). Sementara beberapa relawan lain rata-rata hanya mampu terjaga selama 8 sampai 10 hari.

Selama menjalankan eksperimen itu, semua individu yang terlibat tidak ada yang mengalami masalah medis, neurologis, fisiologis, atau psikiatris yang serius. Artinya, meski mereka tidak tidur hingga berhari-hari, mereka tetap sehat.

Tetapi, semua dari mereka menunjukkan defisit atau penurunan yang progresif dalam daya konsentrasi, persepsi, motivasi, dan proses mental, yang semakin besar seiring makin lamanya waktu mereka tidak tidur. Meski demikian, semua subjek eksperimen tersebut pulih kembali ke keadaan relatif normal dalam satu atau dua malam setelah mereka tidur kembali.

Yang patut diperhatikan di sini adalah perbedaan antara “benar-benar terjaga”, dan “tidak tidur namun juga tidak terjaga”. Pada kasus yang menimpa Paul Kern dan Thai Ngoc, keduanya tidak tidur, namun mereka juga benar-benar terjaga, dalam arti tetap dapat beraktivitas dengan baik, dapat berpikir dengan baik, dan tidak mengalami penurunan dalam hal konsentrasi atau lainnya.

Hal itu berbeda dengan orang-orang sehat yang menjadi subjek eksperimen di atas. Meski mereka tidak tidur, namun mereka juga tidak bisa dibilang terjaga, karena seiring bertambahnya waktu, mereka mengalami tingkat penurunan yang progresif dan siginifikan pada kemampuan tubuhnya.

Baca lanjutannya: Ini yang Akan Terjadi jika Kita Tidak Pernah Tidur (2)

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.