Ikan-ikan Prasejarah yang Masih Eksis

hagfish

BIBLIOTIKA - Penemuan coelacanth dalam kondisi hidup yang dianggap telah punah jutaan tahun lalu seperti membuka mata dunia bahwa ternyata ada ikan zaman prasejarah yang masih eksis hingga hari ini. Faktanya, tidak hanya coelacanth yang masih eksis di bumi meski telah hadir sejak jutaan tahun lalu.

Beberapa hewan prasejarah—khususnya ikan—yang masih eksis hingga sekarang diperkirakan karena kemampuannya dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ekstrim, kemampuannya dalam mencari mangsa sebagai makanan, juga kemampuannya dalam bertahan terhadap predator lain. Berikut ini adalah jenis-jenis ikan prasejarah yang masih eksis hingga sekarang.

Hagfish

Berdasarkan catatan ilmuwan, hagfish telah eksis di bumi sejak 300 juta tahun yang lalu. Ikan ini ditemukan di perairan yang relatif dalam, dan kadang disebut belut lendir, meski sebenarnya bukan belut. Bahkan, sesungguhnya, ikan ini sama sekali tidak mirip ikan.

Hagfish adalah hewan yang sangat aneh dalam segala hal. Mereka memiliki tengkorak, tetapi tidak memiliki tulang belakang, dan mereka memiliki dua otak. Hewan ini juga hampir buta, dan biasa makan di malam hari dengan menyantap bangkai hewan besar (ikan, paus, dan semacamnya) yang jatuh ke dasar laut.

Dalam bertahan hidup, hagfish menggunakan lendir mereka yang dapat menghasilkan zat khusus untuk merusak insang ikan predator, sehingga mereka hampir tidak memiliki musuh alami.

Lancetfish

Dalam bahasa ilmiah, ikan ini disebut Alepisaurus ferox. Mereka benar-benar mewakili ciri ikan prasejarah—gigi yang tampak keluar dan tajam pada rahang, serta sirip besar pada punggungnya.

Hewan ini dapat tumbuh hingga sepanjang dua meter, dan dapat ditemukan di semua samudera, kecuali di daerah kutub. Predator ini sangat rakus—mereka memakan ikan kecil dan cumi-cumi, kadang-kadang juga memakan sesamanya.

Arwana

Arwana atau Osteoglossids telah hidup semenjak zaman Jurassic. Mereka memakan hewan kecil dan cacing yang dapat mereka temukan. Selain itu, karena dapat melompat hingga dua meter ke udara, arwana juga kadang memangsa burung atau kelelawar yang dapat mereka tangkap.

Di masa sekarang, ikan ini dapat ditemukan di Amazon, juga di beberapa bagian Afrika, Asia, dan Australia. Karena wujudnya yang eksotis, ikan ini juga kadang dijadikan hewan peliharaan. Di Cina, arwana dikenal sebagai “ikan-naga” karena penampilan mereka, dan dianggap sebagai pembawa hoki atau nasib baik.

Frilled shark

Ikan ini telah hidup pada periode Cretaceous, zaman ketika dinosaurus menguasai bumi. Di masa sekarang, frilled shark adalah hiu yang paling primitif. Dengan tubuh yang dapat tumbuh hingga dua meter, hiu berjumbai ini menjadi predator di laut dalam, dan sebagian besar dari mereka memangsa cumi-cumi. Frilled shark betina rata-rata lebih besar dibanding yang jantan.

Meski merupakan penguasa di laut dalam, ikan ini tidak berbahaya bagi manusia, bahkan mungkin mereka tidak pernah melihat manusia, karena sepanjang hidupnya dihabiskan di kedalaman laut. Biasanya, spesimen yang mati akan mengambang ke permukaan, dan ditemukan para nelayan.

Sturgeon

Ikan ini sudah ada dan eksis di awal zaman Jurassic. Ia dapat tumbuh hingga sepanjang enam meter—sama besar dengan hiu putih—dan mereka memakan hewan kecil dari dasar laut. Meski tubuhnya sangat keras hingga terkesan berlapis baja, hewan ini tidak berbahaya bagi manusia, kecuali jika diprovokasi.

Sturgeon telah dikenal sebagai salah satu sumber utama kaviar (masakan telur ikan). Karenanya, ikan ini pun ditangkap secara berlebihan yang mengakibatkan populasinya terancam saat ini.

Arapaima

Ikan ini telah eksis sejak periode Miosen, dan memiliki kekerabatan dengan Osteoglossidae, sehingga tampilannya pun sekilas mirip ikan arwana. Arapaima dianggap sebagai ikan air tawar terbesar di dunia. Mereka dapat tumbuh hingga sepanjang 4,5 meter, meski pada saat ini rata-rata hanya tumbuh sepanjang 2 meter.

Predator ini bergerak lamban di dalam air, dan memangsa ikan-ikan kecil, crustasea, atau hewan-hewan kecil lain yang dapat masuk mulut mereka. Yang unik, hewan ini menghirup oksigen dari udara agar dapat bertahan hidup.

Arapaima tidak menimbulkan bahaya bagi manusia. Sebaliknya, ikan ini sering diburu untuk diambil dagingnya, dan hal itu menyebabkan ikan ini diambang kepunahan.

Sawfish

Ikan yang telah eksis sejak periode Cretaceous ini dapat tumbuh hingga sepanjang 7 meter, dan dapat ditemukan di laut atau di sungai pada kedalaman 100 meter. Sekilas, penampilan ikan yang memiliki gigi seperti gergaji ini mirip hiu, namun sebenarnya termasuk ras ikan pari. Bentuk bawah tubuhnya datar, dan memiliki mulut kecil serta sirip depan yang sejajar dengan bagian bawah tubuhnya.

Selain memiliki gigi mengerikan, ikan ini juga memiliki pori-pori yang sangat sensitif, yang memungkinkan mereka merasakan mangsa dalam kondisi penglihatan yang amat sulit sekalipun. Di masa sekarang, ikan ini tidak berbahaya bagi manusia, kecuali jika terprovokasi.

Fakta menarik menyangkut ikan ini terdapat pada fosil gigi-gigi dinosaurus. Berdasarkan fosil-fosil tersebut, diketahui bahwa ikan yang besar ini ternyata adalah mangsa yang dijadikan makanan pokok para dinosaurus karnivora terbesar, semacam Spinosaurus. Hal itu terbukti dari tulang belakang ikan tersebut yang ditemukan terjebak di antara fosil gigi dinosaurus tersebut.

Alligator gar

Disebut Alligator gar, karena ikan ini mirip reptil buaya, dengan rahang yang panjang, dan memiliki dua sisi gigi yang tajam. Gar adalah salah satu ikan tertua yang hidup saat ini.

Hewan yang telah eksis sejak periode Cretaceous ini dapat ditemukan di Amerika Selatan, Amerika Utara, juga Meksiko, dan merupakan ikan air tawar terbesar di Amerika Utara. Ia dapat tumbuh hingga sepanjang 4 meter, dengan berat 200 kilogram. Sebagai predator di lautan, ikan ini juga berbahaya bagi manusia.

Polypterus senegalus

Ikan yang hidup di Afrika ini sering disebut “belut dinosaurus”, karena penampilan mereka menyerupai reptil dengan sirip punggung bergerigi, yang mengingatkan kita pada beberapa dinosaurus yang punggungnya berduri. Namun mereka tidak termasuk dalam familia belut.

Yang menarik, ikan ini dapat keluar dari air dan mampu bertahan di daratan selama kulit mereka tetap basah. Pada saat ini, ikan prasejarah itu kadang dijual sebagai hewan peliharaan yang eksotis, dengan nama belut dinosaurus.

Coelacanth

Di antara ikan-ikan prasejarah lain, coelacanth adalah ikan purba yang paling terkenal. Berdasarkan catatan para ilmuwan, ikan ini telah diyakini punah ratusan juta tahun lalu, bersama dengan dinosaurus.

Namun, pada tahun 1938, spesimen hidup ikan ini tertangkap di Afrika Selatan. Sejak itu, kehadirannya pun menyita banyak perhatian. Sementara spesimen hidup kedua ikan ini ditemukan di Manado, Indonesia, pada tahun 1999. Spesimen pertama disebut Latimeria chalumnae, sedang yang kedua disebut Latimeria menadoensis.

Coelacanth adalah predator besar. Ia dapat tumbuh hingga sepanjang 2 meter, dan memangsa ikan-ikan kecil, termasuk hiu kecil, dan biasanya ditemukan di laut dalam perairan gelap. Meski jarang ditangkap dan dikonsumsi karena rasanya yang aneh, ikan purba ini sangat terancam populasinya.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.