Hewan-hewan yang Punah di Masa Hidup Kita (2)

Pyrenean ibex

BIBLIOTIKA - Di artikel sebelumnya (Hewan-hewan yang Punah di Masa Hidup Kita 1) kita telah disebutkan hewan-hewan yang punah di masa hidup kita, yaitu di abad modern ini. Di antara hewan yang punah tersebut adalah harimau Tasmania (Thylacine), katak emas (Golden toad), quagga, Zanzibar leopard, po’ouli, anjing laut Karibia, merpati penumpang, dan madeiran large white.

Selain hewan-hewan yang telah disebutkan tersebut, masih ada hewan-hewan lain yang juga mengalami kepunahan di zaman kita. Berikut ini daftarnya.

Pyrenean ibex

Pyrenean ibex adalah sejenis kambing hutan yang hidup di Spanyol. Hewan ini dinyatakan punah pada tahun 2000, setelah spesies terakhir yang lahir secara alami ditemukan mati di bawah pohon tumbang pada 6 Januari 2000, dalam usia 13 tahun.

Pada tahun 2009, upaya menghidupkan hewan ini telah coba dilakukan menggunakan teknologi kloning. Sampel diambil dari spesies terakhir, dan upaya kloning itu berhasil, namun tujuh menit setelah lahir hewan itu mati karena kegagalan paru-paru, dan Pyrenean ibex pun benar-benar punah.

Penyebab kepunahan hewan ini karena perburuan liar, sehingga jumlah populasinya terus berkurang. Para konservasionis menyalahkan pemerintah Spanyol yang dianggap gagal bertindak pada waktunya untuk menyelamatkannya.

Badak hitam Afrika Barat

Badak hitam Afrika Barat adalah salah satu dari empat subspesies badak, dan badak ini dinyatakan punah pada tahun 2006, setelah para konservasionis gagal menemukan sisa spesies dalam habitat tersisa terakhir mereka di Kamerun.

Penyebab kepunahan hewan ini adalah perburuan. Para pemburu mengincar tanduk badak tersebut, yang dipercaya beberapa kalangan di Yaman dan Cina memiliki kekuatan afrodisiak. Harga mahal tanduk badak itu menjadikan perburuan besar-besaran, yang akhirnya berakiat kepunahan.

Bubal hartebeest

Bubal hartebeest adalah kijang yang elok sekaligus tangguh, yang dulu dipelihara orang Mesir kuno sebagai sumber makanan dan untuk keperluan pengorbanan.

Semula, hewan ini tersebar di seluruh Afrika Utara dan Timur Tengah. Berbagai mitos melingkupi keberadaan hewan ini—bahkan dianggap sebagai hewan keramat—namun hal itu tidak menghentikan langkah para pemburu yang menjadikan hewan itu sebagai objek rekreasi perburuan.

Bubal hartebeest terakhir, yang mungkin betina, mati di kebun binatang di Paris pada tahun 1923.

Harimau Jawa

Harimau Jawa memiliki tampilan serupa dengan harimau Sumatera, namun harimau Jawa adalah hewan asli pulau Jawa. Pada tahun 1800-an, harimau ini merupakan hewan yang sangat banyak di Jawa. Namun, makin padatnya penduduk dan pembukaan lahan sebagai tempat hunian menjadikan populasinya semakin menyusut.

Pada akhir abad ke-19, harimau ini masih banyak berkeliaran di pulau Jawa. Pada tahun 1940-an, mereka hanya dapat ditemukan di hutan-hutan terpencil. Pada waktu itu telah ada upaya-upaya untuk menyelamatkan harimau tersebut dengan membuka beberapa taman nasional. Namun ukuran taman itu terlalu kecil, dan mangsa harimau terlalu sedikit. Pada tahun 1950-an, populasi harimau Jawa hanya tinggal 25 ekor, sekitar 13 ekor berada di Taman Nasional Ujung Kulon.

Sepuluh tahun kemudian, jumlah itu semakin menyusut. Pada tahun 1972, hanya ada sekitar 7 harimau yang tinggal di Taman Nasional Meru Betiri. Harimau itu pun diperkirakan punah pada tahun 1980-an karena rusaknya habitat akibat tekanan penduduk, dan perburuan intensif di awal abad ke-20.

Spix’s macaw


Spix’s macaw, juga disebut Little blue macaw, adalah burung kecil dengan bulu berwarna biru yang indah. Sebagian hewan ini masih ada di penangkaran, namun di alam liar hewan ini sudah punah.

Penyebab kepunahan burung cantik ini adalah kerusakan habitat dan perdagangan ilegal yang menyebabkan berkurangnya populasi.

Boa Round Island

Boa Round Island adalah spesies ular yang tinggal di sebuah pulau kecil di lepas pantai Mauritius. Hewan ini lebih suka tinggal di puncak-lapisan tanah dari lereng gunung berapi. Kenyataan itu dulu memang sering ditemukan di beberapa pulau lain di sekitar Mauritius, tetapi jumlahnya telah menurun pada tahun 1940-an, dan hanya bisa ditemukan di Round Island setelah 1949. Ular terakhir terlihat pada tahun 1975.

Penyebab punahnya hewan ini adalah masuknya spesies kelinci dan kambing ke Round Island, yang menghancurkan vegetasi dan mengganggu habitatnya.

Kupu alcon biru Belanda

Kupu-kupu ini merupakan subspesies dari alcon biru, dan dapat ditemukan terutama di padang rumput Belanda. Sementara spesies lain yang saudara dekatnya masih ada di bagian Eropa dan Asia, alcon Biru Belanda terakhir terlihat di alam liar pada tahun 1979.

Penyebab kepunahan kupu-kupu tersebut adalah pertumbuhan dalam pembangunan pertanian yang memiliki dampak negatif pada habitatnya, dan menyebabkannya kehilangan sumber makanan utama.

Tecopa pupfish

Tecopa pupfish adalah ikan yang pertama kali ditemukan di Tecopa Hot Springs, California, pada tahun 1942. Tidak lama setelah ditemukannya, ikan ini mengalami penuruan populasi, yang kemudian mengarah pada kepunahan.

Penyusutan populasi itu terjadi ketika air panas di kanal-kanal Tecopa Hot Springs dialirkan ke pemandian-pemandian air panas. Akhirnya, kepunahannya benar-benar terjadi ketika hotel dan trailer taman di dekatnya dibangun untuk rekreasi yang lebih nyaman bagi wisatawan.

Tecopa pupfish menjadi spesies pertama yang dinyatakan punah di bawah Endangered Species Act of 1973, dan secara resmi dinyatakan punah pada tahun 1981.

Syrian wild ass

Semula, kucing besar ini tersebar luas di seluruh Mesopotamia, bergerombol dalam kawanan besar di pegunungan dan gurun stepa di Timur Tengah. Meski pada waktu itu telah diperkirakan populasinya mulai terancam, namun kepunahan hewan ini benar-benar terjadi pada Perang Dunia I, ketika habitat mereka dibanjiri angkatan bersenjata Turki dan pasukan Inggris.

Syrian wild ass terakhir mati di kebun binatang di Wina, Austria, pada tahun 1928.

Baiji river dolphin

Baiji river dolphin adalah lumba-lumba bersirip putih, yang juga disebut lumba-lumba sungai Yangtze. Populasi hewan ini menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir karena industrialisasi dan penggunaan sungai untuk memancing, transportasi, dan hidrolistrik.

Upaya untuk menyelamatkan spesies ini telah dilakukan, namun akhirnya gagal. Pada 2006, tidak satu pun lumba-lumba itu yang masih dapat ditemukan. Kepunahan itu menjadikan lumba-lumba tersebut sebagai spesies mamalia air pertama yang punah sejak kepunahan singa laut Jepang dan anjing laut biarawan Karibia pada tahun 1950-an. Kepunahannya juga menjadi kepunahan pertama spesies cetacean.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.