Hewan-hewan yang Mungkin Mampu Hidup di Luar Angkasa

Mikroba Antartika pemakan zat besi

BIBLIOTIKA - Banyak orang bertanya-tanya, mungkinkah makhluk bumi dapat hidup dan tinggal di luar angkasa atau di planet lain? Untuk makhluk berjenis manusia mungkin sangat sulit, karena manusia membutuhkan oksigen untuk dapat bernapas dan hidup, sementara di luar angkasa atau di planet lain tidak ditemukan oksigen.

Namun di luar jenis manusia, ada hewan-hewan di bumi yang memiliki kemampuan unik sekaligus hebat, yang memungkinkan mereka untuk dapat hidup dan tinggal di luar angkasa atau di planet lain. Berikut ini hewan-hewan dengan karakteristik luar biasa itu.

Cacing yang hidup di es metana

Cacing ini memiliki penampilan yang sangat aneh, sehingga orang yang baru melihatnya mungkin akan mengira itu makhluk dari luar bumi atau dari planet lain. Hewan yang merupakan cacing ini memiliki karakteristik yang sangat unik, karena hidup di lempengan es metana yang terdorong ke permukaan dari dasar laut di dekat pantai Meksiko.

Es metana adalah gas hidrat yang terbentuk secara alami pada tekanan tinggi dan temperatur rendah di dasar laut yang dalam. Makhluk-makhluk lain kesulitan untuk dapat hidup di tempat semacam itu, namun tidak dengan cacing ini. Para ahli dari Pennsylvania State University yang meneliti cacing tersebut memperkirakan bahwa cacing unik itu dapat hidup di luar angkasa berkat kemampuannya yang unik tersebut.

Erin McMullin, salah satu peneliti, menyatakan, “Sangat menyenangkan. Ketika kita sedang berspekulasi tentang kehidupan di planet lain, sekarang kita justru menemukan bentuk kehidupan baru yang tampaknya bukan berasal dari planet Bumi.”

Lalu di mana kira-kira cacing unik itu dapat hidup di luar angkasa? Para ilmuwan memperkirakan cacing itu akan cocok hidup di Titan, salah satu bulan Saturnus. Di Titan terdapat lautan metana yang berlapis-lapis. Kalau cacing itu dibawa ke sana, kemungkinan besar dia akan dapat bertahan hidup dengan mendiami lapisan tersebut.

Makhluk yang mampu hidup di ruang hampa

Ada makhluk mikro bernama tardigrada. Tampilannya mirip beruang, sehingga kadang dijuluki beruang air. Namun, berbeda dengan beruang darat yang berukuran besar, tardigrada memiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu sekitar setengah milimeter. Karena itu, keberadaan hewan ini pun tidak terlihat mata telanjang.

Yang mengagumkan dari tardigrada adalah ketangguhannya yang luar biasa. Hewan itu mampu masuk ke dalam kondisi hampa yang disebut TUN, dan dalam kondisi diam itu tardigrada dapat bertahan terhadap fluktuasi temperatur, bahkan yang palng ekstrim sekalipun.

Pada tahun 2008, dalam upaya melihat tingkat ketangguhan hewan itu, beberapa tardigrada dibawa ke luar angkasa bersama para astronot. Hasilnya, hewan-hewan mikro tersebut mampu bertahan hidup dalam ruang hampa udara. Karenanya, jika hewan-hewan itu dilepas di ruang angkasa, mereka mungkin dapat mengarunginya, sampai kemudian menemukan tempat berdiam yang cocok.

Cacing raksasa pemakan belerang

Cacing ini hidup di tepi gunung api super panas, yang terletak jauh di dasar lautan, serta memakan belerang yang dibawa oleh bakteri lokal. Disebut cacing raksasa, karena hewan itu dapat tumbuh sepanjang 2,1 meter, dan dapat bertahan hidup di kedalaman 5 mil di bawah permukaan laut dalam kondisi tekanan yang sangat ekstrim. Tubuh cacing itu didominasi warna merah, karena banyaknya nadi yang berisi darah di dalamnya.

Yang paling menarik dari cacing itu tentu saja kemampuannya dalam bertahan terhadap panas yang ekstrim, dan masih bisa mendapatkan kebutuhan hidupnya secara cukup. Kemampuan itu sangat sulit untuk dapat ditandingi makhluk lain mana pun.

Jika cacing itu dibawa ke luar angkasa, kira-kira dimana tempatnya yang paling cocok? Para peneliti memperkirakan cacing itu dapat hidup di planet Venus, karena di sana terdapat banyak belerang, sama seperti tempat hidup cacing itu selama ini.

Mikroba Antartika pemakan zat besi

Di Antartika, ada lapisan es yang di dalamnya terdapat semacam cairan berwarna merah. Setelah diteliti, ternyata cairan itu terjebak di dalam glasier, paling tidak selama 1,5 juta tahun lamanya. Di dalamnya terdapat sekitar 30 jenis bakteri yang masing-masingnya memiliki zat kimia unik. Menurut para peneliti, mikroba tersebut menggunakan sulfat sebagai katalis dalam sebuah rantai reaksi yang kompleks, dan penerima elektron paling akhir adalah besi.

“Ini adalah contoh bagaimana sebuah ekosistem berhasil bertahan hidup, meski tertutup oleh kegelapan dan es yang tebal,” kata para peneliti.

Dengan karakteristik seperti itu, maka mikroba tersebut juga diperkirakan dapat hidup di Europa, yaitu salah satu bulan Jupiter yang memiliki lautan yang mengandung banyak zat besi di dalam lapisan esnya.

Bakteri yang mampu bertahan dari radiasi

Bakteri itu bernama D. Radiodurans. Yang menakjubkan dari bakteri tersebut adalah kemampuannya dalam bertahan terhadap radiasi yang seribu kali lipat lebih kuat dibanding radiasi yang mampu diterima manusia. Kemampuan hebat itu dimungkinkan, karena bakteri itu memiliki sistem pemulihan DNA yang sangat unik.

Umumnya, manusia yang menerima radiasi akan mati, karena partikel radioaktif tersebut mengancurkan DNA-nya, yang mengakibatkan sistem regulasi pada tubuh menjadi berhenti. Namun, hal semacam itu tidak terjadi pada bakteri ini. Secara menakjubkan, bakteri itu akan menyusun kembali DNA-nya yang telah hancur setelah mendapatkan radiasi. Karena itu pula, bakteri itu pun mampu bertahan dari serangan radiasi.

Yang menjadikan manusia selama ini sulit untuk dapat hidup di Bulan atau di Mars, adalah karena adanya radiasi yang cukup mematikan. Namun, jika bakteri ini dibawa ke sana, diperkirakan dia dapat bertahan hidup karena radiasi di sana tidak akan mampu mempengaruhi tubuhnya.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.