Hewan-hewan Paling Fenomenal di Dunia

alex burung pintar

BIBLIOTIKA - Seekor ayam di Colorado dapat hidup hingga 18 bulan meski lehernya telah terpotong. Kabar yang nyaris tak masuk akal itu benar-benar terjadi, dan menggemparkan dunia. Sementara di Rhode Island, seekor anak kucing selalu mengetahui ketika seseorang akan meninggal, sehingga dianggap sebagai peramal kematian. Di Jepang, seekor kucing menjadi kepala stasiun kereta api, dan mendatangkan uang dalam jumlah luar biasa besar.

Berikut ini kisah-kisah unik, ajaib, sekaligus menakjubkan, dari hewan-hewan yang mungkin belum pernah kita bayangkan.

Mike, ayam tanpa kepala

Mike adalah ayam paling menggegerkan dunia karena bisa hidup selama 18 bulan setelah kepalanya dipotong. Ketika kabar itu pertama kali terdengar, banyak orang mengira itu hanya isapan jempol. Sampai kemudian, pemiliknya membawa ayam ajaib itu ke University of Utah di Salt Lake City untuk menetapkan keasliannya.

Kisah fenomenal itu dimulai pada hari Senin, 10 September 1945. Lloyd Olsen, seorang petani asal Fruita, Colorado, hendak mempersiapkan makan malam dan diminta istrinya untuk menyembelih seekor ayam.

Pada waktu itulah Olsen memenggal leher ayam berumur lima setengah bulan yang dinamai Mike. Kampak yang digunakan Olsen untuk memenggal ayam itu luput dari pembuluh darah leher, sehingga kebanyakan dari pembuluh otak tetap utuh. Akibatnya, Mike tetap hidup meski lehernya telah terpenggal.

Menyaksikan Mike tidak segera mati, Olsen jadi mengurungkan niatnya untuk memasak ayam tersebut, dan membiarkannya tetap hidup. Ia mengira Mike akan segera mati setelah lehernya nyaris terpotong. Namun perkiraannya keliru. Ayam itu masih tetap dapat hidup hingga 18 bulan, meski dengan kepala yang hampir lepas dari tubuhnya.

Kisah Mike sempat masuk dalam puluhan surat kabar dan majalah, termasuk Time dan Life Magazines. Olsen mendapat kritik dari beberapa pihak karena dianggap memelihara ayam tanpa kepala hidup-hidup. Akhirnya, pada Maret 1947, pada suatu motel di Phoenix, Mike tiba-tiba seperti tercekik dan mati di pertengahan malam.

Oscar, kucing peramal kematian

Oscar adalah seekor anak kucing yang tinggal di pusat rehabilitasi di Providence, Rhode Island. Tempat itu merawat penderita alzheimer, parkinson, dan berbagai penyakit lain, yang memungkinkan penderita dapat menemui ajal kapan saja dalam waktu yang tak bisa ditentukan.

Setelah sekitar 6 bulan Oscar hidup di tempat itu, para staf pekerja yang ada di sana mulai menyadari keanehan kucing tersebut. Oscar masuk ke ruangan yang dia mau, kemudian mengendus-endus dan mengamati pasien, dan selanjutnya tidur di dekat pasien tersebut. Yang mengejutkan para perawat di sana, pasien yang dihampiri Oscar dapat dipastikan meninggal dalam kurun waktu 2 sampai 4 jam setelah kedatangannya.

Salah satu dari kejadian pertama melibatkan seorang pasien yang memiliki semacam gumpalan darah di kakinya. Oscar datang dan melingkarkan badannya di kaki pasien tersebut, dan tetap di situ sampai pasien tersebut meninggal beberapa jam kemudian.

Ada pula kejadian ketika dokter telah menetapkan waktu kematian seorang pasien berdasarkan kondisinya, dan Oscar membuktikan bahwa prediksi dokter tersebut 10 jam terlalu awal. Karena begitu Oscar mengunjunginya, pasien tersebut meninggal 2 jam kemudian—sepuluh jam dari perkiraan medis sebelumnya—dan dokter yang menanganinya cuma bisa tercengang.

Ketelitian Oscar yang telah terbukti pada 25 kejadian di sana akhirnya dipercaya oleh pimpinan pusat rehabilitasi tersebut untuk menetapkan suatu protokol tidak biasa yang mungkin sulit dipercaya. Setiap kali Oscar ditemukan sedang tidur dengan seorang pasien, maka staf di sana akan segera menghubungi anggota keluarga si pasien untuk memberitahu mengenai kematian yang akan segera terjadi.

Kemampuan Oscar dalam memprediksi jam-jam terakhir kehidupan manusia tersebut membingungkan banyak orang. Yang jelas, kisah mengenai kucing peramal kematian itu segera tersebar ke seluruh dunia.

Tillamook Cheddar, hewan pelukis tersukses

Tillamook Cheddar adalah anjing terrier betina berusia 8 tahun yang berasal dari Brooklyn, New York. Dia dikenal dunia sebagai pelukis yang paling unggul dari dunia hewan, dan telah mengadakan pameran tunggal 17 kali di Amerika dan Eropa. Tidak pernah jelas dari mana kemampuannya yang unik itu didapatkan, namun yang jelas dia mampu menghadirkan lukisan-lukisan yang indah—khususnya jika mengingat dia seekor hewan.

Pada bulan Juli 2005, anjing seniman itu melahirkan 6 anak anjing yang sehat. Salah satu anaknya, yang dinamai Doc Chinook Strongheart Cheddar, tampaknya mewarisi bakat induknya dalam dunia seni. Namun, tidak seperti induknya yang melukis, sang anak menjadi model yang foto-fotonya hadir dalam berbagai majalah.

Alex, burung terpintar di dunia

Alex adalah burung beo berwarna abu-abu, yang menjadi subjek eksperimen pengamat psikologi hewan, Irene Pepperberg. Awalnya, Pepperberg membeli Alex di suatu toko hewan, ketika alex berumur 1 tahun. Nama Alex yang diberikan Pepperberg merupakan akronim dari Avian Learning EXperiment.

Sebelum Pepperberg bekerja dengan Alex, dunia meyakini bahwa burung bukan makhluk cerdas. Tetapi Alex berhasil menunjukkan pada dunia bahwa burung dapat memahami komunikasi dengan manusia, dan memahami pesan dasarnya. Berbeda dengan burung beo lain yang hanya bisa meniru-niru kata atau ucapan, Alex bisa diajak berkomunikasi, meski terbatas.

Pepperberg menyatakan bahwa tingkat kepintaran Alex setingkat dengan lumba-lumba atau kera. Dia juga menyatakan bahwa Alex memiliki kepintaran yang setara dengan manusia berumur 5 tahun. Dia bisa menghitung, membedakan warna, dan menunjukkan ekspresi-ekspresi frustrasi layaknya manusia. Sayangnya, potensi Alex tidak sampai maksimal, karena dia mati dalam usia yang masih muda.

Kematian Alex mengejutkan banyak pihak, karena lama hidup rata-rata burung beo Afrika adalah 50 tahun. Selain itu, sebelum kematiannya, Alex juga tampak sehat. Berdasarkan pernyataan Pepperberg kepada pers, “Alex dalam kondisi kesehatan yang baik tanpa kelainan fisik apa pun selama dua minggu terakhir sebelum kematiannya.”

Kematian burung itu menjadi misterius, karena setelah dilakukan otopsi tetap tak diketahui penyebab kematian burung tersebut. Sementara itu, laboratorium Pepperberg kembali mencoba menguji dua burung lain, namun kemampuan mereka tak pernah ada yang mendekati Alex.

Oliver, simpanse setengah manusia

Oliver adalah simpanse yang ditemukan oleh Frank Berger dan Janet Berger pada awal 1970 ketika berumur sekitar 2 tahun. Ketika tumbuh besar, simpanse itu memiliki keanehan, hingga beberapa pengamat bahkan sampai meyakinkan pasangan Berger di atas bahwa Oliver pastilah bukan simpanse, atau mungkin human-chimp hybrid (gabungan antara manusia dan kera).

Oliver memiliki muka yang lebih datar dibanding simpanse lainnya. Sewaktu kecil, gigi depannya dicabut dan tidak pernah tumbuh taring di kumpulan giginya. Ia juga tidak pernah berjalan dengan kepalan tangannya, melainkan berdiri dan berjalan layaknya manusia. Yang paling mengejutkan setelahnya, Oliver lebih menyukai manusia perempuan daripada simpanse betina.

Keanehan Oliver menarik perhatian banyak pihak, hingga acara televisi Discovery Channel mengadakan acara spesial yang meliput simpanse tersebut. Dalam acara itu, Janet Berger menyatakan bahwa Oliver telah jatuh cinta padanya ketika dia memasuki usia 16 tahun. Oliver bahkan pernah berusaha memeluk Berger dan tak mau melepaskannya.

Karena tingkah lakunya itu pulalah, Oliver dianggap menjadi ancaman bagi Janet, sehingga diputuskan untuk memindahkan Oliver ke kebun binatang bersama simpanse lain. Di kebun binatang, Oliver dijauhi teman-temannya sesama simpanse, karena—menurut para pengamat—Oliver tidak memiliki bau khas yang umum dimiliki simpanse.

Tama, kucing kepala stasiun

Tama adalah seekor kucing tortoiseshell yang lahir dan hidup di stasiun kereta api Kishi, Kinokawa, provinsi Kishigawa, Jepang barat. Ia lahir dari seekor kucing yang tersesat, yang dibawa ke stasiun oleh tukang bersih-bersih, dan kemudian dipelihara Toshiko Koyama, seorang pemilik toko di dekat situ.

Stasiun kereta api Kishi tidak memiliki kepala stasiun. Karena itu, berdasarkan rencana yang semula hanya bersifat main-main, Tama pun kemudian dijadikan kepala stasiun di sana, lengkap dengan seragam perusahaan kereta api Wakayama. Sejak itu, kucing tersebut mendatangkan pemasukan sampai 1,1 miliar yen, (sekitar Rp. 99,18 miliar) per tahun bagi kota tersebut.

Kucing itu seperti benar-benar memahami dan menjalankan perannya dengan baik. Ia tampil di stasiun saat kereta api lewat, juga berjalan seperti layaknya kepala stasiun kereta api. Aksi Tama itu pun mengundang ribuan turis datang ke sana.

Katsuhiro Miyamoto, profesor pada Sekolah Akuntansi Universitas Kansai, mengadakan penelitian dampak berganda dari kehadiran Tama sebagai kepala stasiun, dan ia menyebutkan ada dana sebesar 1,1 miliar yen pada tahun 2007 yang berasal dari para wisatawan, yang mengalir ke Kinokawa karena keberadaan kucing tersebut. Selain turis, suvenir buku bergambar Tama dan berbagai barang lain bergambar kucing kepala stasiun itu juga laku terjual.

Karena keunikan dan popularitasnya, Tama pun masuk televisi dan diberitakan berbagai media lainnya. Atas semua perannya itu, Tama hanya mendapat gaji dan bonus berupa makanan kucing yang hanya bernilai 280 juta yen per tahun.

Owen dan Mzee, persahabatan dua spesies

Sehari setelah tragedi tsunami dahsyat di Samudera Hindia yang menghantam Asia dan Afrika, puluhan penduduk desa tepi pantai Malindi di Kenya melakukan tugas penyelamatan bersama aparat setempat.

Pada waktu itulah Owen Saubion melihat pemandangan ganjil sekaligus mengenaskan di kawasan tepi pantai. Ia melihat bayi kuda nil yang masih berusia 1 tahun meringkuk lemas di batu karang. Kondisinya sangat memprihatinkan. Ia terjebak di antara gelombang laut dan derasnya air dari muara Sabaki River.

Setelah diberi perawatan secukupnya, kuda nil itu kemudian dibawa ke Haller Park dekat Mombasa, sebuah taman suaka margasatwa milik Lafarge Eco Systems East African Farm, pada 27 Desember 2006. Di suaka margasatwa Haller Park itulah kisah persahabatan unik antara dua hewan dimulai.

Bayi kuda nil itu diberi nama Owen, sesuai nama penyelamatnya. Petugas suaka menempatkannya di sebuah area untuk hewan-hewan kecil, karena Owen masih tergolong bayi. Selain itu, jika Owen ditempatkan di lokasi untuk kawanan kuda nil, petugas perawat hewan khawatir ia akan diserang kawanan kuda nil lain yang tak mengenalnya. Karena kuda nil sangat agresif dan “fanatik” pada kawanannya, sehingga kuda nil asing bisa terancam bahaya.

Ketika pertama kali dilepas di sana, Owen masih bingung, mungkin karena harus menempati lingkungan baru. Namun setelah merasa sedikit nyaman, Owen langsung menatap dan tertarik pada seekor kura-kura bernama Mzee.

Mzee adalah spesies kura-kura Aldabran berusia 130 tahun, dengan berat 700 pon (320 kilogram). Dalam bahasa Swahili, Mzee berarti “Si Tua Bijaksana”. Kura-kura itu merupakan penghuni lama area yang dilengkapi kolam asri dan hutan buatan.

Ketika Owen pertama kali mendekati Mzee, kura-kura itu sama sekali tidak mempedulikannya. Namun hari demi hari Owen selalu mengikuti Mzee ke mana pun ia pergi. Sampai kemudian Owen berhasil mengambil hati Mzee. Seiring waktu dan kegigihan Owen mendekatinya, Mzee akhirnya menerima kehadiran kuda nil muda itu.

Berminggu-minggu kemudian keduanya sudah tampak akrab. Mzee seperti dianggap sebagai induk oleh Owen, sementara Mzee menganggap dirinya orangtua asuh bagi Owen. Mzee selalu menjaga Owen dengan kelembutan, sementara Owen selalu mematuhi dan senang bermain dengan Mzee.

Ikatan persahabatan mereka mengental bagai sebuah keluarga. Para perawat hewan di Haller Park bingung dengan tingkah dua hewan beda spesies itu, karena mereka bagaikan induk dan anak dari satu spesies yang sama. Apa yang disantap Mzee juga disantap Owen, di mana Owen tidur di situ pasti ada Mzee. Mereka selalu bermain air di kolam bersama, makan bersama, tidur bersama, dan berjalan-jalan keliling area taman bersama-sama pula.

Satu tahun berlalu, dan kedua hewan beda spesies itu semakin lengket. Keduanya sudah tak terpisahkan lagi. Fenomena itu pun mengejutkan sejumlah besar ilmuwan. Bukan saja karena peristiwa seperti itu belum pernah terjadi, tetapi Owen dan Mzee juga telah mengembangkan “bahasa” mereka sendiri sebagai sistem komunikasi di antara keduanya. Bahasa komunikasi lewat suara yang mereka gunakan itu sama sekali belum pernah ditemukan dalam kelompok kuda nil ataupun kura-kura Aldabran.

Suara dalam nada tertentu dari Mzee akan direspon oleh Owen secara tepat. Begitu pula sebaliknya, suara dalam nada tertentu dari Owen direspon Mzee secara tepat pula. Selain itu, keduanya juga mengembangkan bahasa tubuh yang hanya mereka berdua pahami, seperti gigitan lembut, sentuhan, dorongan, dan belaian, yang masing-masing direspon sebagai suatu kode untuk melakukan sesuatu atau ungkapan kasih sayang di antara keduanya.

Keunikan persahabatan Owen dan Mzee pun menjadi fenomena. Tingkah laku dan komunikasi unik yang sama sekali baru dalam dunia zoologi itu membuat mereka menjadi selebritas dunia. Sejumlah besar foto, film, dokumentasi, bahkan buku dan artikel mengulas teka-teki besar persahabatan mereka. Owen dan Mzee pun menjadi lambang cinta dan persahabatan yang tidak mengenal batasan fisik, ras, spesies, dan teritori.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.