Hewan-hewan Paling Beracun di Dunia

ubur-ubur kotak

BIBLIOTIKA - Katak poison dart adalah katak indah yang memiliki kulit berwarna-warni. Namun, di balik penampilan yang indah itu tersimpan racun yang amat mematikan, sampai-sampai masyarakat Indian menggunakan racunnya sebagai peralatan perang, dengan menorehkannya pada ujung panah mereka.

Racun atau bisa yang berbahaya tidak hanya terdapat pada ular dan kalajengking sebagaimana yang kita tahu, namun ternyata juga terdapat pada hewan-hewan lain, semisal ubur-ubur, siput, gurita, laba-laba, juga ikan. Berikut ini uraiannya.

Ubur-ubur kotak (Box jellyfish)

Di antara hewan-hewan lain yang memiliki racun mematikan, ubur-ubur kotak menempati peringkat teratas. Sejak tahun 1954, tercatat ada 5.567 kematian manusia yang disebabkan racun ubur-ubur tersebut.

Hewan berbahaya ini banyak dijumpai di perairan Asia dan Australia. Ketika menyengat, racun hewan itu akan menyerang jantung, sistem saraf, dan sel kulit. Korban biasanya akan shock setelah tersengat ubur-ubur tersebut, tenggelam, atau meninggal karena gagal jantung sebelum mereka sempat meminta pertolongan. Sementara beberapa korban yang hidup setelah tersengat ubur-ubur itu harus dirawat di rumah sakit sampai berminggu-minggu.

Kebanyakan korban yang tersengat ubur-ubur kotak tidak sempat diselamatkan. Namun, meski begitu, korban yang segera mendapatkan perawatan medis biasanya akan tertolong. Selama ini, pertolongan pertama yang biasa diberikan untuk korban sengatan ubur-ubur kotak adalah dengan secepatnya memberi cuka pada bagian tubuh yang tersengat. Cuka mengandung acetic acid yang dapat menghalangi racun dari ubur-ubur itu masuk ke dalam aliran darah, meski rasa sakit akibat sengatan tetap terasa.

Selain itu, mengenakan pakaian renang yang terbuat dari karet dianggap sebagai salah satu pencegahan untuk menghindari sengatan ubur-ubur kotak.

Raja kobra (King cobra)

Ular berbisa yang juga disebut Ophiophagus hannah ini sudah terkenal sebagai reptil berbahaya yang mematikan. Ular itu dapat tumbuh hingga 5,6 meter (18,5 kaki), dan racunnya dapat melumpuhkan seekor gajah Asia dalam waktu tiga jam, jika tergigit pada bagian leher.

Sebenarnya, racun raja kobra tidak lebih beracun dari ular jenis lain, namun reptil ini dapat menyuntikkan racun lima kali lebih banyak dibanding ular mamba hitam, misalnya, sehingga efeknya menyebabkan kematian lebih cepat lima kali dibanding ular mamba hitam.

Dalam bahasa Latin, Ophiophagus memiliki arti “pemakan ular”, karena raja kobra memang memakan ular lainnya untuk bertahan hidup. Reptil mengerikan ini dapat ditemukan di selatan dan tenggara Asia, dan hidup di hutan daerah dataran tinggi.

Ular Inland Taipan (Inland Taipan snake)

Selain raja kobra, ular Inland Taipan dari Australia juga dianggap sebagai ular berbisa yang sangat mematikan. Racun dalam satu gigitannya dapat membunuh banyak orang sekaligus, atau sekelompok tikus berjumlah ribuan. Efek racunnya diperkirakan 200 sampai 400 kali lebih berbisa dibanding racun ular kobra.

Ketika seseorang tersengat ular ini, kematian hampir dapat dipastikan akan menjemputnya dalam waktu 45 menit, kecuali jika segera mendapatkan pertolongan medis. Yang cukup melegakan, pada saat ini penawar racun ular itu telah ditemukan, sehingga korban tewas akibat gigitannya dapat dibilang sangat jarang.

Siput marbled cone (Marbled cone snail)

Siput ini tidak jauh beda dengan jenis siput lain—sama-sama lamban. Bedanya, siput satu ini memiliki racun yang amat mematikan. Satu tetes racunnya dapat membunuh lebih dari 20 manusia dewasa.

Ketika tersengat oleh racunnya, efek yang timbul bisa secara spontan, namun kadang pula butuh beberapa saat. Gejala yang biasa dialami adalah sakit luar biasa pada bagian yang tersengat, pembengkakan, mati rasa, dan perasaan yang tidak enak. Kasus paling parah yang pernah ditemukan adalah kelumpuhan otot, perubahan penglihatan, dan kegagalan pernapasan.

Hewan yang hidup di perairan asin ini bertanggung jawab atas lebih dari 30 kasus kematian manusia akibat racunnya, yang sampai saat ini belum ada penawarnya.

Gurita lingkaran biru (Blue ringed octopus)

Gurita lingkaran biru hanya berukuran sebesar bola golf. Namun ini gurita paling beracun di dunia, karena racun yang dimilikinya dapat membunuh 26 manusia dewasa dalam beberapa menit. Yang lebih parah lagi, sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat digunakan sebagai penawar racunnya.

Ketika tersengat racun gurita ini, korban biasanya tidak langsung merasakan efeknya. Namun, setelah racun itu mulai bekerja, korban akan merasakan kelemahan otot, mati rasa, dan berikutnya sistem pernapasannya akan berhenti, yang pada akhirnya mengakibatkan kematian.

Gurita berbahaya ini biasa ditemukan di kolam-kolam air pasang di sekitar laut pasifik, dari Jepang sampai Australia.

Kalajengking death stalker (Death stalker scorpion)

Rata-rata kalajengking memang beracun, namun biasanya tidak mematikan, selain hanya mengakibatkan rasa sakit, mati rasa, dan pembengkakan. Namun kalajengking satu ini berbeda.

Selain mengakibatkan rasa sakit, racun kalajengking death stalker juga dapat menyebabkan kematian. Hal itu terjadi karena racun milik spesies kalajengking ini merupakan campuran dari macam-macam racun neurotoxin yang menyebabkan rasa sakit tak tertahankan, kemudian diikuti koma, kejang-kejang, kelumpuhan, dan kematian.

Ketika menyengat manusia dewasa yang sehat, korban mungkin masih dapat tertolong. Namun jika yang tersengat anak kecil, orang tua, atau orang yang kondisi jantungnya lemah, sebagian besar hasilnya adalah kematian. Kalajengking berbahaya ini banyak ditemukan di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Ikan batu (Stonefish)

Ikan ini banyak hidup di daerah tropis dan di perairan laut dangkal, dari laut Pasifik dan Hindia, mulai dari Laut Merah sampai Queensland Great Barrier Reef. Selain memiliki wujud mengerikan, ikan ini juga memiliki racun yang amat mematikan.

Racun ikan batu terdapat pada bagian dalam duri di bagian luar kulitnya, yang didesain untuk melukai para predator yang mengancamnya. Ketika tersengat racun ikan batu, korban biasanya akan merasakan sakit yang luar biasa pada bagian tubuh yang tersengat—sebegitu sakitnya, hingga sering kali korban meminta dibius atau bahkan diamputasi. Rasa sakit akibat sengatan ikan batu pun kemudian dianggap sebagai sakit paling parah yang dapat dialami manusia.

Seiring dengan rasa sakit yang dialaminya, korban akan mengalami shock, kelumpuhan, dan kematian pada jaringan tubuhnya. Jika perawatan medis tidak dilakukan segera, korban pun biasanya tidak dapat diselamatkan.

Laba-laba Brazilian wandering (Brazilian wandering spider)

Pada tahun 2007, Guinness Book of World Records memasukkan laba-laba ini sebagai laba-laba paling mematikan di dunia, sekaligus laba-laba yang paling banyak membunuh manusia. Laba-laba Brazilian wandering memiliki racun yang paling mematikan dibandingkan laba-laba beracun lainnya. Hanya dengan 0,006 miligram racunnya sudah cukup untuk membunuh seekor tikus besar.

Sengatan laba-laba ini tidak hanya mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa, namun juga efek lain yang unik. Jika menggigit pria dewasa, efek racunnya dapat menyebabkan terjadinya priapism (ereksi terus-menerus namun terasa tidak nyaman), yang kemudian diikuti impotensi.

Yang cukup mengkhawatirkan, laba-laba ini biasa hidup berpindah-pindah di daerah berpopulasi tinggi seperti rumah, tumpukan baju, sepatu, atau mobil. Biasanya, laba-laba ini bersembunyi di siang hari, dan baru keluar ketika hari telah gelap.

Katak poison dart (Poison dart frog)

Penampilan katak ini terlihat indah, dengan warna-warni mencolok yang menawan. Namun, di balik sosoknya yang tampak indah itulah racunnya tersimpan. Bahkan warna-warni pada kulitnya itu pun merupakan efek dari keberadaan racun yang berbahaya, yang akan membunuh makhluk lain yang mencoba menyentuh atau menyantapnya.

Katak yang banyak ditemukan di Amerika Tengah dan Selatan ini dikenal sebagai katak paling beracun di dunia, meski tanpa sengatan atau gigitan. Katak jenis golden dart yang berukuran 2 inci (5 sentimeter) memiliki racun yang dapat membunuh 10 orang dewasa atau 20.000 tikus. Hanya dengan 2 mikrogram racunnya sudah dapat membunuh seorang manusia atau makhluk hidup yang lain.

Bangsa Indian Amerika menyebut katak itu dengan sebutan Dart Frog atau “Katak Panah”, karena mereka biasa menggunakan sekresi racun katak itu untuk ditorehkan pada ujung panah mereka.

Ikan perut gembung (Puffer fish)

Ikan yang juga dikenal dengan sebutan ikan buntal ini tampak tidak berbahaya, namun dikenal sebagai ikan paling mematikan di dunia. Meski tidak menggigit atau menyengat, namun tidak jarang racunnya menyerang manusia yang memakannya.

Karena memiliki daging yang dianggap lezat, ikan perut gembung sering dijadikan sajian masakan beberapa negara. Di Jepang, masakan ikan ini disebut fugu, sementara di Korea disebut Bok-uh. Racun ikan itu terdapat pada kulitnya, sehingga koki yang menangani ikan tersebut biasanya akan sangat berhati-hati memisahkan bagian kulit dengan dagingnya.

Namun, tidak jarang konsumen sajian masakan ikan itu ada yang mengalami keracunan, sehingga pada saat ini hanya koki-koki yang bersertifikat yang boleh menyajikan masakan yang berasal dari ikan perut gembung. Ketika keracunan ikan tersebut, korban biasanya akan pusing, muntah-muntah, jantung berdetak sangat cepat, sulit bernapas, dan mengalami kelumpuhan otot. Biasanya, korban akan meninggal dalam waktu 24 jam.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.