Hewan-hewan dengan Bioluminesensi Mengagumkan

Ubur-ubur aequorea

BIBLIOTIKA - Bioluminesensi adalah emisi cahaya yang dihasilkan oleh makhluk hidup karena adanya reaksi kimia tertentu. Hingga saat ini, bioluminesensi telah ditemukan secara alami pada berbagai macam makhluk hidup seperti cendawan, bakteri, dan organisme di perairan, namun tidak ditemukan pada tanaman berbunga, hewan vertebrata terestrial, amfibi, dan mamalia.

Sebagian besar plankton juga memiliki kemampuan menghasilkan pendaran cahaya, terutama plankton yang hidup di perairan laut dalam. Pada mikroba, bioluminesensi yang dihasilkan belum diketahui manfaatnya, sedangkan pada hewan umumnya digunakan sebagai sinyal kawin, senjata, dan perlindungan diri dari pemangsa. Berikut ini hewan-hewan yang memiliki kemampuan bioluminesensi mengagumkan.

Dinoflagellates

Dinoflagellates adalah protozoa atau plankton yang mampu memendarkan cahaya di permukaan laut. Ketika merasa terganggu, misalnya oleh adanya perenang atau gelombang yang datang, kumpulan protozoa itu akan muncul di permukaan laut, dan memendarkan cahayanya. Hasilnya, laut akan terlihat berwarna merah. Fenomena itu sangat menakjubkan bagi siapa pun yang kebetulan pernah menyaksikannya.

Ubur-ubur aequorea

Spesies ini hidup di perairan sekitar Amerika Utara, dan biasa hidup dengan melayang-layang di bawah permukaan air. Ketika tidak bersinar, keberadaan ubur-ubur itu sering tak terlihat.

Namun, ketika mereka mulai memancarkan cahayanya, permukaan laut seperti berubah menjadi warna-warni yang sangat indah. Selain itu, ubur-ubur ini juga berukuran relatif kecil, dan tidak menyengat atau berbahaya sebagaimana ubur-ubur kotak.

Bakteri bioluminesensi

Sebagaimana namanya, bakteri bioluminesensi adalah bakteri yang memiliki kemampuan memendarkan cahaya. Cahaya dari satu bakteri tentu tidak akan terlihat. Namun, ketika bakteri itu berkumpul dalam jumlah banyak, cahaya mereka pun akan tampak seperti lentera di bawah permukaan air.

Bakteri bercahaya ini biasa hidup pada jenis ikan lentera dan beberapa jenis udang. Karena itu pula, hewan-hewan yang menjadi tempat tinggal koloni bakteri itu pun biasanya ikut bercahaya.

Terriswalkeris terraereginae

Disebut pula cacing raksasa Auckland, hewan unik ini adalah cacing dengan panjang sekitar 2 meter, yang dapat meninggalkan jejak lendir bersinar.

Meski hidup di dalam tanah, namun hewan ini tidak beracun dan relatif tidak berbahaya, meski wujudnya mungkin dapat membuat geli, ngeri, atau jijik. Ketika berjalan, cacing itu akan meninggalkan jejak tubuhnya, yang berupa lendir. Ajaibnya, lendir itu bisa tampak bercahaya di atas tanah.

Cacing Gua Waitomo

Cacing ini hidup di Selandia Baru, tepatnya di gua Waitomo. Di tempat asalnya, cacing itu juga disebut cacing gua bercahaya. Ketika mencari mangsa, puluhan spesies cacing ini akan menggantung di atap gua, saling berbaris dan membelit, sambil bersama-sama memendarkan cahaya.

Di dalam gua yang gelap, cahaya yang dihasilkan cacing-cacing itu pun sangat indah sekaligus menarik perhatian. Dan itulah yang terjadi. Beberapa calon mangsa seperti lalat atau ngengat akan mendekati cahaya itu, lalu terjebak. Cahaya yang dihasilkan cacing itu mengandung racun. Ketika calon mangsa terjebak, mereka pun mati, dan cacing-cacing itu lalu berpesta dengan santapan mereka.

Kalajengking

Kalajengking dapat memendarkan cahaya, khususnya pada malam hari. Namun, sebenarnya, hewan itu tidak benar-benar menghasilkan cahaya sendiri dari tubuhnya sebagaimana hewan-hewan penghasil bioluminesensi lainnya.

Kalajengking memiliki zat kimia dalam eksoskeleton mereka, dan zat itu bersinar ketika berada di bawah sinar ultraviolet. Karena itulah, kadang kita menyaksikan kalajengking memendarkan cahaya, karena pada waktu itu kebetulan ada sinar ultraviolet yang mengenai tubuhnya.

Cumi-cumi bercahaya

Spesies cumi-cumi ini hidup di laut, dan tubuhnya memiliki photophores (sel yang menghasilkan cahaya), sehingga memungkinkannya untuk bersinar dalam semua pola yang diinginkan.

Pada waktu siang, cumi-cumi itu juga bisa mengeluarkan cahayanya, dan cahaya mereka bisa dibedakan dari cahaya lain yang kebetulan sedang ada di permukaan laut, semisal cahaya matahari. Cahaya cumi-cumi itu akan semakin terang pada musim kawin, dan mereka hanya hidup selama satu tahun. Di akhir periode hidupnya, cumi-cumi itu akan kawin, lalu mati.

Kunang-kunang lamprigera

Kunang-kunang adalah hewan terkenal yang telah diketahui dapat memendarkan cahaya. Namun, kunang-kunang satu ini memiliki pendar cahaya yang benar-benar istimewa. Kunang-kunang yang disebut Lamprigera ini ditemukan di Thailand, dan dapat tumbuh hingga sepanjang 3 inci.

Karenanya, hewan itu pun kadang disebut kunang-kunang raksasa. Ketika bercahaya dalam gelap, pendaran sinarnya dapat menjangkau jarak hingga radius 100 meter—benar-benar mengagumkan!

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.