Cara Berjalan di Atas Api Tanpa Terluka

Cara Berjalan di Atas Api Tanpa Terluka

BIBLIOTIKA - Berjalan di atas api dengan kaki telanjang (tanpa alas kaki) menjadi salah satu aksi mendebarkan yang kadang kita saksikan di acara televisi atau di atraksi pasar malam. Dalam atraksi itu, kita melihat orang bisa berjalan di atas bara tanpa terbakar atau mengalami luka parah. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Murid-murid Dumbledore di Hogwarts mungkin bisa menjawab dengan mudah, “Itu sihir!” Tapi kita bukan murid Dombledore, dan kita juga bukan penyihir. Bagaimana penjelasan ilmiah berdasarkan perspektif muggle?

Jika kita perhatikan sungguh-sungguh, aksi berjalan di atas bara semacam itu sering kali menggunakan api yang berasal dari potongan kayu, sehingga yang diinjak pelaku atraksi hanyalah arang yang berpijar. Pelaku atraksi tidak benar-benar berjalan di atas api, karena seandainya api benar-benar berkobar maka pertunjukan tidak akan berjalan. Untuk mewujudkan atraksi mendebarkan itu, api dinyalakan terlebih dulu, sehingga kayu terbakar menjadi arang yang tidak lagi mengeluarkan lidah api.

Potongan-potongan kayu terdiri dari banyak senyawa karbon, beberapa molekul organiknya mudah menguap, termasuk menguapkan air. Ketika dipanaskan, molekul organik akan menguap, karena panas yang dikeluarkan api akan menguapkan semua senyawa organik volatil (mudah menguap) dan juga air. Setelah terjadi pembakaran dan semua molekul organik menguap, yang didapatkan kemudian hanya senyawa karbon yang hampir murni, dan karbon adalah salah satu unsur yang ringan.

Struktur karbon yang ringan merupakan penghantar panas yang buruk, sehingga dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat memindahkan panas dari bara ke kulit seseorang. Sebagai perbandingan, logam adalah penghantar panas yang cepat. Bara yang dihasilkan dari bahan logam dapat memindahkan panas dalam waktu seketika, dan orang yang terkena bisa mendapatkan luka bakar parah.

Dalam atraksi berjalan di atas api, pelaku atraksi tidak berjalan di atas logam yang membara, melainkan berjalan di atas arang terbakar yang tertutup abu. Biasanya pula, atraksi semacam itu dilakukan pada malam hari, sehingga api merah membara masih terlihat meski tertutup abu. Jika atraksi semacam itu dilakukan pada waktu siang, hamparan itu akan benar-benar terlihat seperti hamparan abu.

Abu yang dihasilkan dari proses pembakaran juga bertindak sebagai penghambat panas atau lapisan isolator, sehingga perpindahan panas ke kulit seseorang akan jadi lebih lambat. Kenyataan itu bukan berarti tidak mungkin membakar sama sekali, karena perpindahan panas masih terjadi. Jika seseorang berdiri diam di atas bara selama beberapa waktu, orang tersebut tetap akan mendapat luka bakar yang cukup serius.

Karenanya, pelaku atraksi semacam itu akan berjalan dengan cukup cepat—tidak pernah berjalan perlahan-lahan—sehingga waktu kontak dengan arang akan lebih pendek, dan kaki tidak akan mendapatkan panas yang cukup untuk membakar kulitnya. Kalaupun benar-benar terjadi kecelakaan akibat luka bakar, yang kemungkinan terjadi hanya luka bakar tingkat 1.

(Luka bakar terjadi akibat tubuh terpapar zat bersuhu tinggi, dan salah satu penyebab utamanya adalah terpapar api. Berdasarkan tingkat kerusakan jaringan, luka bakar dibagi dalam tiga tipe: Luka bakar tingkat 1 adalah kerusakan pada lapisan epidermis yang ditandai bengkak ringan di daerah yang terluka, kulit kemerahan, dan lecet. Luka bakar tingkat 2 adalah kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis (lapisan kulit yang lebih dalam), timbul rasa nyeri, infeksi, dan terkadang dehidrasi. Luka bakar tingkat 3 adalah kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis, mengenai lapisan otot dan tulang, serta terjadi infeksi.)

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Pelaku atraksi itu bergantung pada kombinasi daya hantar terhadap panas (konduksi) yang buruk, insulasi (penghalang panas), dan waktu yang pendek. Kombinasi itu memungkinkannya berjalan di atas api yang tampaknya membara, padahal dia tidak merasakan apa-apa. Seperti yang disebutkan di atas, arang kayu adalah penghantar panas yang buruk, karena hampir semuanya terdiri atas karbon murni dan sangat ringan, sehingga dibutuhkan waktu cukup lama untuk dapat memindahkan panas dari arang ke kaki orang. 

Meski penjelasan di atas mungkin terdengar mudah, namun untuk dapat melakukan atraksi semacam itu tetap membutuhkan latihan dan keahlian. Jadi, kalau memang tidak punya cita-cita menjadi pesulap atau ingin menyaingi Deddy Corbuzier, sebaiknya tidak usah mencoba-coba.

Fakta:

Pyrokinetik adalah kemampuan seseorang membakar tanpa perlu api. Hanya cukup dengan kekuatan pikiran, seseorang dapat membakar apa saja. Kemampuan semacam itu dipercaya banyak orang, dan sering dijadikan pertunjukan. Dari sudut pandang ilmiah, pyrokinetik dianggap mustahil, karena tubuh manusia (atau pikiran) tidak dapat menghasilkan panas yang cukup untuk membakar apa pun dengan sendirinya. Gelombang otak manusia terlalu lemah untuk menghasilkan suhu tinggi.

Pada abad ke-19, seorang Afrika-Amerika bernama A.W. Underwood diklaim memiliki kemampuan pyrokinesis. Ia terlihat bisa membakar tanpa menggunakan api. Sampai kemudian diketahui kemampuan itu melibatkan penggunaan fosfor putih. Fosfor putih dapat terbakar di udara dalam suhu hanya sekitar 30 derajat Celcius. Suhu itu hanya sedikit di bawah suhu tubuh manusia biasa, sehingga hanya dengan bernapas atau menggosoknya, fosfor tersebut dapat terbakar. Jika kita menaburkan fosfor putih di baju atau apa pun yang kita pegang, kita akan terlihat memiliki kemampuan pyrokinesis.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.