Asal Usul Kancing di Ujung Lengan Jas

Kancing Jas

BIBLIOTIKA - Jika kita amati, beberapa jas milik kita dilengkapi beberapa kancing yang terletak di bagian pergelangan lengan. Jika kita amati pula, keberadaan kancing-kancing itu sepertinya tidak punya fungsi apa-apa, karena tidak dilengkapi lubang kancing untuk mengaitkannya. Umumnya, kita pun menarik kesimpulan keberadaan kancing-kancing di pergelangan jas hanya ditujukan untuk hiasan. Tapi ternyata sejarahnya tidak seperti itu.

Penelitian para arkeolog menemukan bahwa kancing telah digunakan sejak lama sekali, bahkan jauh-jauh hari sebelum peradaban manusia mengenal tulisan. Beberapa ahli memperkirakan bahkan mungkin sejak 30.000 hingga 40.000 tahun yang lalu.

Namun, kancing mulai populer sekitar tahun 1200-an, ketika orang-orang pada masa itu mulai meninggalkan jubah yang sebelumnya tidak membutuhkan kancing. Pada masa itu, kancing dibuat dari beling, mutiara, baja, nikel, timah, kuningan, perunggu, kaca, keramik, kulit kerang—daftarnya masih panjang. Sementara orang-orang Yunani di masa 4.000 tahun lalu diketahui membuat kancing dari emas.

Pada tahun 1700-an, Prusia diperintah oleh Raja Friderich Agung. Orang ini terkenal sangat disiplin dan sangat memuja kebersihan. Sering kali, Raja Friderich melakukan inspeksi pada pasukannya, untuk mengecek kebersihan dan kedisiplinan para prajurit.

Sampai suatu hari, ia sangat kesal menyaksikan lengan seragam prajuritnya yang sangat kotor dan dekil, lebih kotor dibanding bagian lainnya. Kejadian itu berulang terus. Setelah diselidiki, ternyata penyebab kotornya ujung lengan seragam para prajurit itu karena seringnya digunakan untuk menyeka keringat di wajah.

Raja Friderich murka. Tapi meski telah dimarahi sekali pun, para prajurit masih sering lupa menyeka keringat mukanya dengan ujung lengan seragam—karena kebiasaan—sehingga ujung lengan mereka masih tetap kotor dan dekil. Akhirnya, Raja Friderich menemukan cara yang lebih baik. Ia memerintahkan untuk memasang kancing-kancing pada ujung lengan mereka.

Seperti yang disebutkan di atas, pada waktu itu kebanyakan kancing dibuat dari aneka macam bahan, dan yang paling umum adalah kulit kerang atau beling. Begitu pun kancing-kancing yang dipasang pada ujung lengan prajurit Prusia. Sejak itu, para prajurit yang masih bandel menyeka keringat muka dengan ujung lengan seragamnya harus menerima risiko lecet-lecet akibat tergosok kancing!

Keberadaan kancing-kancing di ujung lengan itu kemudian diteruskan turun-temurun, hingga sampai ke generasi kita. Sekarang, meski kita tidak menyeka wajah dengan ujung lengan jas, kancing-kancing itu masih tersemat di sana.

Masih berurusan dengan kancing, ada cerita yang nyaris mustahil di Inggris. Pada abad ke-19, Birmingham merupakan kota industri kancing yang sangat besar, sehingga menyedot banyak pekerja di sana. Pada waktu itu kancing masih menggunakan bahan baku kerang. Pada tahun 1870-an, persediaan kulit kerang di dunia menipis, industri kancing mulai menyusut, dan pengangguran terjadi di mana-mana.

Sampai kemudian, diketahui fondasi bangunan Balai Kota Birmingham menyimpan ribuan ton kulit kerang. Karena itu, warga Birmingham bersepakat membongkar balai kota mereka untuk dapat mengambil kulit-kulit kerang itu, agar industri kancing kembali berjalan. Rencana “membongkar balai kota demi kancing” itu belum sempat dilaksanakan karena rumitnya izin dan birokrasi, sampai kemudian plastik ditemukan pada 1900-an, dan kancing pun tak lagi menggunakan bahan kulit kerang.

Fakta:

Kancing dari cangkang kerang sudah dikenal sebagai ornamen di peradaban Lembah Indus pada tahun 2000 SM.

Jika gambar Kapitan Pattimura pada lembaran uang seribu rupiah diperbesar, akan terlihat ikon Smile pada kancing bajunya.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.