Tanya Jawab Seputar Penghasilan Bulanan

Penghasilan Bulanan

BIBLIOTIKA - Tanya jawab berikut ini hanyalah ilustrasi untuk mendapatkan kerangka pemikiran atau gambaran dalam hal mengelola penghasilan bulanan.

Pertanyaan 1:

Saya baru saja lulus kuliah, dan sekarang mulai bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji sebesar Rp. 1,5 juta perbulan. Sebagai orang yang baru bekerja, saya belum terlalu tahu bagaimana cara mengelola anggaran dari penghasilan yang akan saya peroleh. Saya bahkan tidak terlalu yakin apakah jumlah gaji saya tersebut termasuk besar ataukah kecil jika diukur dengan kebutuhan saya nantinya dalam kehidupan sehari-hari.

Yang ingin saya ketahui adalah, bagaimanakah gaya hidup yang seharusnya saya jalani jika disesuaikan dengan penghasilan saya? Bagaimana cara saya dalam mengelola gaji yang saya peroleh setiap bulannya?

Jawaban:

Hakikatnya, jumlah gaji itu relatif, dalam arti bahwa setiap orang tidak dapat disamaratakan dalam penilaian apakah suatu gaji atau penghasilannya besar ataukah kecil.

Karena bisa jadi orang yang memiliki penghasilan sebesar Rp. 1,5 juta seperti Anda akan menganggap itu sebagai gaji yang besar karena kebutuhannya masih sebatas Rp. 500 ribu perbulan. Namun bisa jadi juga orang yang memiliki gaji sebesar Rp. 6 juta perbulan menganggap penghasilannya kecil karena pengeluaran perbulannya mencapai Rp. 9 juta.

Yang jelas, berapa pun penghasilan yang diperoleh, setiap orang perlu melakukan pengelolaan atas penghasilannya tersebut, begitu pula Anda, dengan tujuan agar hidup tidak menjadi seperti pepatah yang menyatakan ‘besar pasak daripada tiang’. Artinya, sebisa mungkin orang harus menghindarkan dirinya dari pengeluaran yang lebih besar dibandingkan pemasukan atau penghasilannya.

Kalau memang penghasilan Anda Rp. 1,5 juta perbulan, maka Anda harus memastikan biaya hidup perbulannya agar tidak sampai mencapai lebih dari angka Rp. 1,5 juta. Nah, untuk tujuan itulah diperlukan rencana dalam pengelolaan anggaran dari penghasilan bulanan.

Dengan melakukan perencanaan atau budgeting, kita akan bisa melakukan perkiraan terlebih dulu mengenai biaya-biaya apa saja yang perlu kita keluarkan, dan seberapa besar jumlah pengeluaran untuk masing-masing biaya tersebut, kemudian berapa jumlah totalnya. Kalau kemudian hasil jumlah totalnya adalah melebihi besarnya penghasilan yang Anda terima, maka Anda bisa memangkas atau mengurangi bagian-bagian mana saja yang bisa dihilangkan atau setidaknya ditekan biayanya.

Di sinilah perlunya rencana dan pengelolaan. Sekilas, rencana itu tidak terkesan penting, khususnya bagi orang-orang yang terbiasa hidup dan melakukan pengeluaran untuk biaya hidupnya tanpa rencana apa-apa. Namun, sebagaimana kesuksesan dalam hal apapun membutuhkan perencanaan yang matang, begitu pula dalam hal pengelolaan anggaran bulanan ini. Selain itu, kalau dengan rencana yang baik saja orang terkadang mengalami kegagalan, apalagi kalau tanpa rencana?

Jadi, tetapkan untuk membuat rencana, kemudian patuhi rencana itu dengan baik. Tentu saja Anda tidak perlu kaku dalam mematuhinya, karena hidup sehari-hari pun terkadang tidak sesuai dengan yang telah direncanakan. Kadang-kadang ada hal-hal tertentu yang mengharuskan kita melakukan pengeluaran mendadak. Jadi fleksibel saja, selama itu tidak menyalahi atau melebihi tingkat penghasilan bulanan.

Pertanyaan 2:

Saya masih lajang, dan saat ini bekerja di sebuah perusahaan dengan penghasilan sekitar Rp. 4 juta perbulan. Karena ingin dapat memiliki sejumlah uang yang dapat saya jadikan sebagai semacam dana cadangan, maka saya pun mulai mendisiplinkan diri untuk dapat menabung setiap bulannya, setidaknya Rp. 500 ribu perbulan. Dan karena bertujuan agar saya bisa menjaga kedisiplinan dalam menabung ini, saya pun juga membuka tabungan berjangka yang mengharuskan saya menabung sekitar Rp. 1 juta setiap bulannya.

Namun, seringkali, saya menghadapi hal-hal yang tak terduga yang mengharuskan saya melakukan sejumlah pengeluaran tertentu. Misalnya membayar biaya rumah sakit ketika saya mengalami kecelakaan (karena perusahaan tempat saya bekerja tidak memberikan asuransi untuk hal tersebut). Karenanya, saya pun terkadang tidak bisa rutin mengisi tabungan bebas saya, bahkan jumlahnya pun seringkali berkurang karena adanya pengeluaran-pengeluaran yang mendadak tersebut.

Selain itu, kadangkala saya telah menyusun suatu anggaran belanja perbulan, namun kemudian rencana anggaran tersebut menjadi kacau ketika terjadinya hal-hal mendadak seperti yang telah saya nyatakan di atas itu. Bagaimana solusinya?

Jawaban:

Sebenarnya Anda sudah memiliki tingkat ‘kesadaran menabung’ yang baik dengan memiliki dua jenis tabungan (tabungan bebas dan tabungan berjangka) seperti itu. Apalagi uang yang Anda masukkan dalam tabungan itu juga sudah baik karena melebihi sepertiga dari penghasilan yang Anda peroleh setiap bulannya.

Nah, kalau memang tujuan Anda adalah untuk memiliki semacam dana cadangan, dan itu yang Anda tujukan pada tabungan biasa, maka setidaknya Anda harus memiliki uang dalam tabungan biasa tersebut sebesar minimal dari tiga kali jumlah pengeluaran Anda dalam setiap bulannya.

Jadi misalnya, kalau dalam setiap bulan Anda membutuhkan Rp. 2 juta sebagai pengeluaran bulanan, maka Anda setidaknya harus memiliki tabungan (dalam tabungan biasa) tersebut sebesar Rp. 6 juta. Tujuannya, karena itu dimaksudkan sebagai dana cadangan, adalah apabila sewaktu-waktu Anda mengalami PHK dan tidak memperoleh pesangon, maka setidaknya Anda masih dapat bertahan selama tiga bulan ke depan dengan uang tabungan tersebut.

Masalah yang memang seringkali dihadapi menyangkut dana cadangan yang kita tabungkan ini adalah adanya hal-hal mendadak yang perlu kita biayai. Hal-hal mendadak itu bisa saja hal-hal penting yang memang mendadak, semisal biaya pengobatan atau yang semacamnya, atau bisa pula hal-hal mendadak yang sesungguhnya tidak penting, semisal ingin membeli baju baru yang mahal atau ingin kredit kendaraan.

Karenanya, jika menginginkan agar dana yang diharapkan bisa menjadi dana cadangan itu bisa aman dan bertahan lama, maka kurangilah biaya untuk hal-hal mendadak seperti itu. Caranya tentu saja dengan mencermati hal-hal mendadak yang mungkin kita pikir perlu dibiayai itu. Kalau memang hal-hal mendadak itu merupakan sesuatu yang tidak penting (bersifat konsumtif semata-mata), maka tundalah, atau lebih baik lagi, lupakan saja.

Selain itu, untuk mengantisipasi hal-hal mendadak seperti biaya pengobatan di saat sakit, Anda bisa mempertimbangkan untuk mengikuti suatu program asuransi yang akan menjamin biayanya apabila sewaktu-waktu Anda sakit dan butuh biaya pengobatan. Dengan memiliki suatu program asuransi, maka Anda sama saja dengan mengalihkan biaya-biaya menyangkut sakit dan pengobatan ini kepada pihak asuransi.

Terakhir, mengenai besarnya dana cadangan yang seharusnya dimiliki, itu sepenuhnya tergantung pada tujuan akhir Anda dalam memiliki dana cadangan itu. Kalau misalnya Anda menginginkan memiliki dana sebesar Rp. 6 juta (dengan pertimbangan seperti di atas), maka setidaknya Anda perlu mengalokasikan sejumlah Rp. 1 juta perbulannya.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.