Serangga-serangga Paling Mengerikan di Dunia

lebah penyengat jepang

BIBLIOTIKA - Mendengar istilah serangga, yang biasanya muncul dalam pikiran kita adalah hewan kecil yang tampak tak berbahaya, yang dapat kita bunuh hanya dengan satu jari tangan. Semut, misalnya, adalah serangga yang biasa kita lihat sehari-hari. Ukuran hewan ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan ukuran tubuh manusia. Tapi ternyata serangga tidak “sejinak” yang kita bayangkan.

Di dunia ini, populasi serangga jauh lebih banyak dibanding populasi manusia. Diperkirakan, perbandingannya adalah 1 manusia banding 1,5 juta serangga. Jika populasi serangga itu bersatu padu menyerang manusia, akibatnya bisa dibayangkan. Selain itu, ada beberapa spesies serangga yang sangat berbahaya sekaligus mengerikan. Di antaranya yang berikut ini.

Lebah penyengat Jepang

Sebagaimana namanya, lebah penyengat Jepang (Vespa mandarinia japonica) adalah lebah yang berasal dari Jepang, dan hidup di pinggiran kota Tokyo.

Ukuran lebah ini luar biasa—seukuran jempol orang dewasa—sehingga kadang pula disebut lebah raksasa. Tetapi bukan cuma ukurannya yang menyeramkan, karena lebah ini juga memiliki racun yang berbahaya. Semprotan racun lebah ini dapat melelehkan daging.

Selain itu, dalam racun yang mengerikan itu juga terdapat feromon, senyawa kimia yang berfungsi memanggil lebah sesamanya untuk datang dan bersama-sama menyerang mangsa. Jadi, jika seekor lebah ini telah menyemprotkan racunnya, hampir bisa dipastikan akan datang serombongan lebah lain yang akan ikut menyerang.

Lebah penyengat Jepang memang predator yang sangat sadis, khususnya dalam dunia serangga. Seekor lebah raksasa biasa terbang bermil-mil untuk menemukan makanan bagi anak-anak mereka. Sering kali, makanan yang dimaksud adalah sarang lebah lain.

Ketika menemukan sarang lebah lain, lebah raksasa itu akan menyemprotkan racunnya ke sarang tersebut, dan ribuan lebah raksasa lain akan segera berdatangan ke sana karena mencium feromon dalam racun tersebut.

Rombongan lebah mengerikan itu pun akan menyerang lebah korban, dan biasanya tidak ada yang sanggup menghadapi serangan mematikan itu. Kemudian, anak-anak lebah musuh yang tak berdaya akan dibawa ke sarang lebah raksasa untuk dijadikan makanan bagi anak-anak mereka.

Semut peluru

Semut peluru (Paraponera clavata) tinggal di hutan tropis, dari Nikaragua sampai Paraguay. Semut ini berukuran luar biasa—panjangnya mencapai 2 sentimeter. Biasa tinggal di pepohonan, semut ini akan menyerang siapa pun yang dianggap mengganggunya. Yang unik, semut ini akan mengeluarkan suara desisan sebagai semacam peringatan. Di dunia semut, hanya semut peluru yang mampu mendesis.

Disebut semut peluru, karena semut ini memiliki sengatan yang luar biasa menyakitkan. Dikombinasikan dengan suara mendesis yang aneh, maka semut ini pun menjadi salah satu “monster” dalam dunia serangga.

Semut tentara

Semut tentara (Eciton burchellii) adalah semut asal Amazon, dan hidup di hutan Amazon. Ukuran panjangnya “hanya” sekitar 1 sentimeter, tetapi memiliki sengat yang besar dan kuat, yang panjangnya setengah dari ukuran tubuh semut tersebut.

Yang mengerikan, kawanan semut tentara dikenal mampu “menghabisi” makhluk hidup apa pun yang kebetulan dilewatinya, sebesar apa pun ukurannya. Selain itu, karena mereka buta, maka semut ini pun tidak pernah peduli sebesar apa ukuran hewan yang “dihabisinya”.

Disebut semut tentara, karena satu koloni semut ini terdiri atas lebih dari satu juta ekor, dan seluruhnya adalah batalion bergerak. Berbeda dengan semut lain yang biasa membuat sarang untuk tempat tinggal, semut tentara tidak membuat sarang selain hanya tempat tinggal sementara. Ketika ratu mereka akan menetaskan telur, mereka akan berdiam sebentar di mana pun, kemudian akan terus bergerak seiring jumlah mereka yang semakin banyak.

Di lantai hutan Amazon, koloni semut ini bagaikan karpet bergerak yang mematikan. Sambil merambat perlahan-lahan, pasukan berbahaya itu akan terus “menghabisi” semua hewan yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka. Beberapa laporan menyebutkan bahwa hewan sebesar kuda sekali pun bisa “bersih” tinggal tulang ketika bertemu dengan koloni semut tersebut.

Sebutan semut tentara memang sangat tepat untuk spesies semut ini, karena mereka bersedia menggunakan badan mereka untuk menjadi apa pun bagi kebutuhan koloninya—menjadi benteng yang menahan serangan musuh, menjadi atap untuk menghindari dampak cuaca buruk, sampai menjadi jembatan agar mereka dapat menyeberang dengan mudah—sejauh apa pun, dan selama apa pun. Pendeknya, mereka sama sekali tidak bisa dihentikan.

Lalat bot

Lalat bot (Oestridae) dapat ditemukan di Amerika Tengah dan Selatan, dan dianggap lalat paling berbahaya sekaligus paling mengerikan di dunia. Mereka memiliki berbagai macam siklus reproduksi yang mengerikan, dan di tiap akhir siklus akan muncul seekor belatung besar dan gemuk yang akan menempelkan diri pada daging hidup masing-masing inangnya. Tidak sekadar menempel, mereka juga memakan daging sang inang hidup-hidup.

Sebutir telur lalat bot bisa ada di rerumputan, kemudian dimakan oleh kuda, bersamaan dengan telur lalat biasa. Kemudian, telur itu akan menetas dalam mulut kuda, karena panas tubuh kuda.

Setelah itu, mereka akan masuk ke dalam perut kuda, dan akan memakan perut kuda itu dari dalam, sampai puas dan jadi gemuk. Setelah siap, mereka tinggal ikut sistem pencernaan kuda, dan akan menjadi lalat setelah keluar dari tubuh kuda, lalu siklus awal akan terjadi lagi. Untuk yang lahir dari kuda semacam itu disebut Lalat Bot Perut Kuda.

Tetapi, “mangsa” lalat mengerikan itu bukan hanya hewan, namun juga manusia. Pada mulanya, Lalat Bot Manusia akan meletakkan telurnya di tubuh lalat biasa atau nyamuk, yang tentunya akan berusaha mendarat ke tubuh manusia.

Begitu mendarat, telur tadi secara tidak sengaja akan jatuh ke tubuh manusia. Karena panas tubuh manusia, telur itu akan menetas menjadi larva. Larva lalat itu kemudian masuk ke dalam kulit, dan tumbuh besar di bawah kulit dengan perlahan-lahan sambil memakan daging manusia.

Yang lebih mengerikan, lalat berbahaya itu tidak pemilih dan tidak tinggal diam. Mereka dapat tumbuh di mana pun, tergantung di mana telurnya terjatuh. Akibatnya, bisa saja lalat itu tumbuh di hidung, di saluran air mata, bahkan di otak. Beberapa kasus mengerikan pernah terjadi menyangkut hal itu, hingga mengakibatkan operasi medis.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.