Panduan Sebelum Memutuskan Berinvestasi


BIBLIOTIKA - Investasi tak jauh beda dengan permainan yang membutuhkan aturan main. Karenanya, sebelum terjun ke dalam permainan dan berharap untuk menang, pahami dan cermati dulu aturan mainnya.

Berikut ini adalah poin-poin yang perlu kita pikirkan sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Kenali diri sendiri

Sebelum memutuskan untuk menggunakan uang yang kita miliki untuk ditanamkan dalam sebuah bidang investasi, maka langkah bijak yang perlu kita lakukan pertama kali adalah mengenali diri sendiri terlebih dulu. Karakter seperti apakah diri kita, kebutuhan keuangan seperti apa yang biasa kita alami, dan dari penilaian itu kita bisa mulai menentukan jenis investasi seperti apa yang sekiranya paling baik untuk kita ikuti.

Kalau kita termasuk orang yang konservatif, dalam arti terlalu berhati-hati dalam soal keuangan, maka sebaiknya hindari bentuk investasi yang memiliki risiko besar. Jenis investasi untuk karakter orang semacam ini adalah investasi yang memiliki risiko kecil, minim risiko atau bahkan tanpa risiko, meskipun mungkin juga hanya memberikan hasil yang sama kecilnya. Contohnya adalah tabungan dan deposito.

Investasi dalam bentuk tabungan dan deposito bisa dibilang tanpa risiko, namun juga memberikan hasil yang tak terlalu besar. Namun dua cara ini bisa mendatangkan hasil yang cukup besar apabila dihitung secara jangka panjang. Jenis investasi semacam ini cocok untuk orang-orang yang tak terlalu mau mempertaruhkan uangnya dalam sesuatu yang berisiko kerugian.

Selain itu, ada pula jenis orang yang menyukai bentuk investasi yang bisa ditunggu hasilnya dalam waktu yang tak terlalu lama. Ini biasanya terdapat pada orang-orang yang cenderung membutuhkan uang dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu.

Orang jenis ini akan cocok untuk memilih jenis investasi yang memiliki masa-masa ramai atau saat-saat berbuah, namun hanya berjangka pendek. Jenis investasi ini memang menjanjikan keuntungan yang besar, namun juga memiliki risiko yang juga besar. Contohnya adalah investasi dalam pasar saham atau obligasi.

Pahami kondisi keuangan

Hal lain yang patut dipikirkan sebelum memutuskan untuk berinvestasi adalah memahami kondisi keuangan keluarga. Harus dipastikan terlebih dulu bahwa keuangan rumah tangga dalam keadaan stabil, atau setidaknya tidak akan membutuhkan sejumlah dana yang cukup besar dalam jangka waktu tertentu. Lebih baik lagi jika keluarga atau rumah tangga memiliki sejumlah dana dalam tabungan tersendiri yang bisa digunakan apabila sewaktu-waktu memerlukan sejumlah uang secara mendadak.

Hal ini perlu diperhatikan, khususnya apabila kita akan memilih bentuk investasi jangka panjang semisal menanamkan uang dalam bisnis tanah atau perumahan. Karena jika kita kemudian memutuskan untuk membatalkan investasi di tengah jalan (sebelum waktu perjanjiannya selesai), maka kita akan menuai sejumlah kerepotan.

Ada kalanya permintaan semacam itu tak bisa dipenuhi, atau bisa pula dipenuhi namun harus merelakan sejumlah dana sebagai biaya pencairan, denda dan biaya lainnya. Selain itu, penjualan investasi secara terburu-buru karena adanya kebutuhan mendesak seringkali mendatangkan kerugian alih-alih keuntungan.

Pikirkan secara jernih


Kita yang mungkin merupakan ‘pemain baru’ dalam dunia investasi mungkin masih bingung ketika pertama kali akan mulai bermain di ladang ini. Karenanya, seringkali kita pun menjadi mudah terpengaruh dengan ajakan kawan atau orang-orang dekat kita semisal saudara atau sahabat yang menawarkan suatu program investasi tertentu.

Pikirkanlah secara jernih terlebih dulu sebelum berinvestasi, dan sebaiknya tidak mudah terpengaruh oleh seseorang hanya karena kita menganggapnya dekat dengan kita.

Seringkali, investasi yang dilakukan karena sekedar ikut-ikutan tidak mendatangkan hasil alih-alih malah penyesalan karena mendatangkan kerugian. Mengapa?

Karena investasi yang dilakukan dengan cara ini (hanya sekedar ikut-ikutan) biasanya dilakukan tanpa pertimbangan yang matang dan jernih, selain hanya merasa yakin bahwa kita mempercayai orang yang mengajak tersebut. Padahal, keselamatan sebuah investasi tidak hanya sekedar berdasarkan pada siapa orang yang kita percayai, namun lebih pada jenis investasi apa yang kita pilih.

Jangan terpengaruh asumsi

Sebagaimana pada hal atau bidang lain, dunia investasi juga mengenal ‘tren’ atau ‘musim’. Tren atau musim ini biasanya digerakkan oleh asumsi-asumsi atau analisis-analisis para pengamat atau dari para ahli keuangan atau pakar investasi. Namun satu hal yang perlu diingat adalah bahwa semua asumsi itu tidak selamanya benar dan tak selamanya menjamin kebenaran.

Yang patut dimengerti adalah bahwa para ahli atau para pakar itu tetaplah manusia biasa yang tak selamanya benar dan terkadang salah, terlepas seberapa pakarnya mereka. Karenanya, mempercayai secara membuta pada asumsi atau analisis mereka pada kondisi investasi tertentu seringkali malah akan menjerumuskan kita.

Seringkali, karena terpengaruh pada analisis tertentu yang dikeluarkan oleh seorang pakar atau beberapa pakar, orang-orang pun jadi sangat terpengaruh. Ketika sang pakar menyatakan bahwa jenis investasi A sedang dalam keadaan baik dan menguntungkan, maka orang-orang pun ramai-ramai menanamkan uangnya pada investasi jenis A tersebut. Namun yang kemudian terjadi malah sebaliknya, dan investasi jenis A yang diyakini menguntungkan itu justru malah merugikan.

Yang dimaksud di sini adalah bahwa yang paling diperlukan di dalam menentukan sebuah pilihan dalam berinvestasi adalah soal naluri atau keyakinan. Kalau kebetulan kita memiliki naluri yang kuat pada jenis investasi tertentu yang kita yakini menguntungkan, pilihlah jenis investasi tersebut meskipun para pakar menyatakan bahwa jenis investasi itu meragukan atau tak menjamin keuntungan. Sebagaimana para pakar yang bisa saja salah, kita pun bisa saja benar.

Awali secara bijaksana


Mungkin kita mengenal investor hebat bernama Warren Buffet yang mendapatkan hasil milyaran dolar dalam usaha investasinya, dan kita pun mungkin ingin meniru dirinya. Namun jangan gegabah dan jangan terburu-buru. Tentu saja kita bukan Warren Buffet, khususnya lagi kalau kita baru akan mulai belajar dalam dunia investasi ini. Karenanya, ketika memutuskan untuk terjun dalam dunia investasi, awalilah secara bijaksana.

Seorang pakar investasi menyatakan bahwa kemungkinan kerugian dibanding keuntungan bagi investor pemula adalah 75:25. Artinya, kemungkinan kerugiannya masih lebih besar (tiga kali lipat) dibanding kemungkinan keuntungannya. Mengapa? Karena para investor pemula masih memerlukan tahap pembelajaran dalam dunia ini, untuk dapat mengenali ‘medan’ secara lebih baik dan menentukan pilihan investasi yang benar-benar menguntungkan.

Karenanya, sekali lagi, awalilah dengan bijaksana ketika kita akan memutuskan untuk masuk dalam dunia investasi ini. Khususnya lagi kalau kita menggunakan uang untuk investasi itu dari hasil kerja kita sebagai karyawan. Ketika memperoleh kerugian, kita pun akan kehilangan uang kita dan harus bekerja kembali untuk dapat memilikinya.

Selain itu, pada awal berinvestasi sebaiknya memilih jenis investasi yang tidak terlalu berisiko sehingga kemungkinan kerugiannya dapat ditekan. Terakhir, jangan terburu-buru meyakini suatu jenis investasi tertentu dan kemudian menggunakan seluruh uang yang kita miliki untuk berinvestasi dalam satu bidang tersebut. Karena jika terjadi kerugian, maka kita akan kehilangan seluruh uang kita.

Hindari investasi yang impulsif

Karena masih pemula dan menginginkan pengetahuan mengenai investasi jenis apa yang bisa diambil, kita pun tidak jarang mengikuti suatu acara presentasi tertentu yang membahas soal investasi tertentu.

Biasanya, presentasi investasi seperti ini sangat menarik karena dibuat secara profesional, dan hasilnya adalah orang-orang yang mengikuti presentasi itu pun akan menjadi langsung tertarik dengan program investasi yang ditawarkan. Apalagi kalau presentasi itu juga menunjukkan orang-orang tertentu yang telah terbukti berhasil dalam program investasi tersebut.

Namun ketika dorongan untuk berinvestasi pada jenis tersebut muncul karena ‘terprovokasi’ oleh acara presentasi itu, maka biasanya dorongan itu pun menjadi dorongan yang impulsif, dan akibatnya tindakan kita dalam berinvestasi juga menjadi tindakan yang bersifat impulsif (tanpa pemikiran yang matang, semata-mata karena dorongan hati atau spontanitas).

Sebisa mungkin hindari investasi yang impulsif semacam itu, karena tidak jarang investasi yang dilakukan karena dorongan spontanitas ini hanya akan mendatangkan penyesalan di belakang. Ketika kita telah terburu-buru menanamkan sejumlah uang dalam jenis investasi itu dan kemudian kita merasa ragu, lalu mencoba menarik kembali uang kita, maka yang biasanya terjadi adalah akan adanya sejumlah pemotongan untuk biaya-biaya tertentu, atau kalau lebih parah; uang kita akan hilang sama sekali.

Sebaiknya, tundalah dulu beberapa hari sejak saat presentasi itu untuk memberikan waktu pada diri kita sendiri untuk memikirkannya secara matang terlebih dulu sebelum memutuskan untuk mengambil jenis investasi tersebut. Setelah kita yakin dengan investasi yang dipaparkan dalam acara presentasi itu dan kita telah menakar hasil keuntungan / kerugiannya dengan matang dan telah mantap untuk mengambilnya, maka kita pun bisa memutuskan untuk menanamkan uang dalam investasi tersebut.
 
Jangan taruh telur di satu tempat

Inilah jargon atau semboyan paling terkenal dalam dunia investasi, “Jangan menaruh telur di satu keranjang”. Bahasa ilmiahnya adalah ‘diversifikasi’. Artinya, sebaiknya kita tidak memusatkan dana yang kita miliki hanya dalam satu bentuk atau satu jenis investasi saja, namun memecahnya atau menaruhnya dalam beberapa jenis investasi. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi risiko kerugian; agar jika satu ‘telur’ yang kita miliki pecah, kita bisa berharap ‘telur’ yang lainnya selamat.

Diversifikasi atau memecah dana dalam beberapa jenis investasi yang berbeda memang tidak selamanya memaksimalkan keuntungan, namun juga dapat menekan angka kerugian. Jika di satu jenis investasi kita merugi, maka kerugian itu bisa tertutup pada jenis investasi lain yang juga kita miliki.

Investasi yang terkonsentrasi pada satu jenis investasi memang terkadang dapat memberikan keuntungan besar jika jenis investasi itu memang menguntungkan. Namun jika ternyata jenis investasi yang kita pilih itu keliru dan malah merugikan, maka diversifikasi akan menyelamatkan keliruan kita.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.