Panduan Mencari dan Mendapatkan Lowongan Kerja (3)

lowongan kerja

BIBLIOTIKA - Di artikel sebelumnya (Panduan Mencari dan Mendapatkan Lowongan Kerja 2), kita telah mempelajari cara mencari dan mendapatkan lowongan kerja melalui televisi, radio, dan lembaga pedidikan. Artikel lanjutan ini membahas tentang cara mencari dan mendapatkan lowongan kerja melalui depnaker atau Departemen Tenaga Kerja dan head hunter atau para pencari kerja. Berikut ini uraiannya.

Melalui Depnaker

Namanya saja Departemen Tenaga Kerja, maka tentu saja salah satu tugas penting dari Depnaker adalah mengurusi ketenagakerjaan, dan memang itulah salah satu fungsi diadakannya Depnaker oleh pemerintah.

Depnaker memang merupakan lembaga yang bertugas dalam hal mengurusi ketenagakerjaan sekaligus pengangguran. Karenanya, departemen inilah yang paling aktif dalam hal mensosialisasikan segala hal menyangkut kebijakan pemerintah dalam hal menanggulangi pengangguran, sekaligus juga aktif dalam menyiarkan berita lowongan pekerjaan.

Jika kita masih belum mendapatkan pekerjaan meski sudah banyak mengirimkan surat lamaran ke banyak kantor atau perusahaan, atau kita tetap saja belum mendapatkan panggilan kerja meski sudah puluhan kali keluar-masuk ke kantor instansi atau perusahaan untuk mencari lowongan, maka sekarang cobalah untuk datang ke kantor Depnaker.

Di kantor Depnaker biasanya akan banyak dipasang papan-papan pengumuman yang berisi aneka macam lowongan pekerjaan. Kelebihan iklan atau pengumuman lowongan kerja di Depnaker ini salah satunya adalah tingkat kredibilitas dari lowongan kerja tersebut, karena tentunya pihak Depnaker akan berhati-hati dan tidak akan sembarangan memasang pemberitahuan lowongan kerja di kantornya.

Kita juga bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat seputar masalah lowongan pekerjaan yang ada tersebut dengan pihak Depnaker, selain juga bisa mengurus kartu kuning (sebutan untuk suatu dokumen yang diperlukan dalam mencari pekerjaan, yang memang khusus diurus oleh pihak Depnaker).

Depnaker juga biasanya bekerjasama dengan BLK atau Balai Latihan Kerja, suatu lembaga yang bertugas mendidik para calon tenaga kerja agar terampil sebagaimana yang diinginkan oleh pihak perusahaan yang membutuhkan. Jadi, sebelum seorang calon tenaga kerja masuk pada sebuah perusahaan tertentu, pihak BLK ini akan mendidiknya terlebih dulu untuk kemudian diserahkan pada pihak perusahaan setelah dirasa si calon tenaga kerja tersebut mampu melakukan pekerjaan yang ada.

Di Depnaker juga biasanya terdapat berita-berita lowongan pekerjaan ke luar negeri. Pihak Depnaker juga biasanya akan ikut membantu memberikan keterangan dan informasi mengenai hal tersebut, terkadang sekaligus juga ikut membantu pengurusannya. Tentu saja, lowongan pekerjaan semacam itu akan lebih terpercaya ketika kita menemukannya di kantor Depnaker.

Melalui head hunter

Ini adalah perkembangan baru dalam dunia tenaga kerja di negara kita. Beberapa perusahaan tertentu (bahkan bisa dikatakan banyak perusahaan) sekarang banyak yang mencari tenaga kerja baru dengan menggunakan jasa ‘Executif Search Service’ (ESS).

ESS ini diminta untuk mencari nama-nama orang yang memiliki kualifikasi atau prestasi tertentu di dalam pekerjaannya, sebagaimana yang dibutuhkan oleh pihak perusahaan yang mencarinya. Lembaga yang pada mulanya terkenal sebagai ‘Executif Search Service’ atau ESS ini kemudian berkembang dengan sebutan yang lebih terkenal, yakni ‘Head Hunter’.

Dari sinilah kemudian berkembang istilah ‘bajak-membajak’ dalam dunia kerja di Indonesia. Tidak jarang sebuah perusahaan (melalui head hunter) ‘membajak’ seorang pekerja yang sudah mapan bekerja di sebuah perusahaan lain dengan iming-iming tawaran gaji yang lebih tinggi.

Urusan bajak-membajak pekerja ini bisa terjadi di perusahaan yang bergerak dalam bidang apa saja. Di bidang media, umpamanya, bisa saja perusahaan surat kabar A melihat seorang pekerja di perusahaan surat kabar B memiliki potensi dan kualitas yang bagus, dan kemudian perusahaan surat kabar A menghubungi head hunter, yang kemudian pihak head hunter akan menghubungi pekerja yang ada di perusahaan surat kabar B yang diincar itu.

Dari sini, pihak head hunter biasanya akan menawarkan sejumlah fasilitas yang lebih tinggi (gaji, liburan, bonus dan lain-lain) kepada pekerja di perusahaan surat kabar B tersebut sebagaimana yang dijanjikan oleh perusahaan A, apabila pekerja tersebut mau pindah kerja ke perusahaan surat kabar A.

Tentu saja hasilnya akan tergantung pada sikap dan pilihan yang akan ditentukan oleh si pekerja bersangkutan. Di sini seringkali yang berperan tidak hanya soal gaji atau fasilitas yang lebih tinggi (sebagaimaa yang ditawarkan oleh pihak head hunter itu), namun juga soal loyalitas, kesetiaan, perasaan ikut memiliki, rasa kekeluargaan dan faktor-faktor lain yang selama ini telah ia peroleh dari perusahaan tempatnya bekerja selama ini.

Memang ada kalanya seorang pekerja kemudian memilih untuk pindah tempat kerja karena pertimbangan tingginya gaji dan bonus yang ditawarkan, dan biasanya pilihan itu diambil ketika perusahaan tempat bekerjanya dulu hanya memberikan fasilitas gaji dan bonus (tanpa unsur emosional yang memadai seperti penghargaan, rasa kekeluargaan atau semacamnya). Ketika pilihan itu yang dipilih, maka sukseslah sebuah perusahaan ‘membajak’ seorang pekerja dari perusahaan lainnya.

Nah, orang-orang yang biasanya diburu oleh head hunter ini tentunya bukanlah orang-orang sembarangan, karena tentu saja sebuah perusahaan tak akan repot-repot mengeluarkan tenaga dan biaya kalau yang diburu hanyalah berkualitas ‘biasa-biasa saja’. Orang-orang yang diburu melalui head hunter ini biasanya memiliki kecakapan yang baik atau bahkan istimewa dalam bidang pekerjaannya, dan karena faktor itulah yang menyebabkan ia dicari untuk dibayar lebih tinggi.

Urusan bajak-membajak dalam dunia kerja melalui head hunter ini memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, dengan adanya aktivitas head hunter, maka masing-masing pekerja akan memiliki semangat plus dalam mengembangkan dirinya, meningkatkan potensi serta kualifikasinya dengan tujuan agar bisa menghasilkan prestasi kerja yang lebih tinggi dan lebih unggul.

Ini tentu saja, baik secara langsung ataupun tak langsung, akan memberikan kontribusi yang bagus untuk pihak perusahaan, sekaligus juga menciptakan semangat berkompetisi di antara masing-masing pekerja untuk menjadi yang terbaik.

Namun sisi negatifnya, masalah kerja dan pekerjaan menjadi sesuatu yang lebih bersifat kompetisi dan hanya menjadikan faktor uang sebagai sandarannya.

Ketika seseorang memilih untuk pindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain hanya karena iming-iming gaji atau bonus atau fasilitas yang lebih tinggi, maka secara tak langsung ia menunjukkan bahwa sandaran pekerjaannya hanya uang dan fasilitas dan bonus. Kesetiaan, cinta dan pengabdian pada pekerjaan biasanya sudah terkikis bagi orang-orang ini, setidaknya ada di urutan bawah setelah gaji, fasilitas dan bonus.

Karenanya, pihak perusahaan seyogyanya memberikan yang terbaik bagi para pekerjanya, kalau tidak ingin para pekerja terbaiknya dibajak atau pindah ke tempat lain. ‘Memberikan yang terbaik’ itu tentu saja tidak selamanya hanya soal gaji semata-mata (karena tinggi-rendahnya gaji itu tentu relatif bagi setiap orang), namun lebih berbentuk sikap penghargaan, atau sikap kekeluargaan yang akan menciptakan kesetiaan bagi para pekerjanya.

Nah, kembali ke topik awal, kalau kita memang ingin mendapatkan pekerjaan baru atau ingin pindah tempat kerja, maka salah satu jalannya adalah dengan melalui head hunter. Ini tentu saja memang bukan jalan bagi pekerja pemula atau yang baru menginginkan pekerjaan.

Namun, untuk dapat ‘dicari’ oleh head hunter, maka salah satu syaratnya adalah memiliki kualitas dan kualifikasi kerja yang tinggi.

Baca lanjutannya: Panduan Mencari dan Mendapatkan Lowongan Kerja (4)

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.