Panduan dan Langkah Membeli Rumah

membeli rumah

BIBLIOTIKA - Rumah merupakan hak milik hidup yang kemungkinan akan bersama sampai seumur hidup. Karenanya, membeli rumah lebih memerlukan perhitungan yang matang dibandingkan dengan membeli barang-barang lain. Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan ketika akan membeli rumah.

Dalam menemukan rumah idaman, Anda dapat mencarinya melalui beberapa cara, antara lain melalui iklan media cetak, iklan di internet, pengembang, agen properti (seperti Century 21, ERA, Ray White, dan lain-lain), atau melalui teman atau kenalan Anda.

Setelah menemukan rumah yang sesuai dengan selera Anda, langkah selanjutnya adalah mendatangi langsung ke lokasi yang dimaksud. Hal ini dimaksudkan agar Anda dapat secara langsung melihat kondisi rumah dan keadaan lingkungan di sekitar rumah. Bagian-bagian yang harus mendapat perhatian khusus antara lain:
  1. Keamanan lingkungan
  2. Instalasi listrik, air dan telepon
  3. Kebocoran pada bangunan
  4. Gambar desain dan denah instalasi

Selanjutnya adalah mencari informasi mengenai kelengkapan surat-surat, antara lain:
  1. Surat tanah / sertifikat.
  2. Akta jual beli.
  3. Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
  4. Hak Guna Bangunan atau Hak Milik.
  5. Pelunasan PBB terbaru dan rekening listrik, air, telepon.

Lakukan negosiasi dengan penjual mengenai cara pembayaran (angsuran atau melalui KPR), pihak yang membayar biaya notaris (bila transaksi perorangan), dan lain-lain.

Carilah notaris yang sudah Anda kenal atau yang bereputasi baik. Notaris yang baik akan menjelaskan seluk-beluk mengenai proses jual beli yang terjadi. Biaya untuk notaris relatif tergantung dari reputasi notaris tersebut. Biasanya biayanya berkisar antara 1% hingga 3% dari nilai transaksi. Hal penting lain yang perlu diketahui adalah pihak pembeli dan penjual kedua-duanya dikenai pajak. Untuk pembeli nilainya adalah (nilai NJOP PBB – Rp. 30 juta) x 5%, sedangkan untuk penjual (NJOP) x 5%.

Selain tips-tips di atas, panduan berikut ini adalah langkah-langkah panduan lain yang dapat Anda perhatikan:
  1. Ketahui tentang status hukum pengembang dan ijin usahanya.
  2. Teliti rencana proyek perumahan yang akan dibangun, spesifikasi data rumah dan tanah yang ditawarkan, lokasi, harga, cara pembayaran, dan waktu penyerahan.
  3. Calon konsumen harus mempelajari blanko perikatan jual beli yang sudah baku, yang rumusannya dipersiapkan secara sepihak oleh pengembang. Umumnya perjanjian tersebut memuat hal-hal yang lebih menguntungkan pengembang.
  4. Pengembang telah memperoleh ijin lokasi. Di sini calon konsumen harus sabar menunggu, sebab belum ada kepastian bahwa rumah yang dibeli akan terlaksana pembangunannya sebagaimana yang dijanjikan.
  5. Teliti pula apakah tanah yang akan dibangun dan disebut dalam ijin lokasi sudah diperoleh melalui permohonan hak atau pelepasan haknya oleh pemegang hak yang bersangkutan.
  6. Kemungkinan semua bidang tanah yang diperoleh itu telah digabung menjadi satu bidang tanah dan diperoleh hak baru yang didaftar dalam buku tanah serta diterbitkan sertifikatnya atas nama pengembang.
  7. Tanah tersebut harus memiliki IMB dan memenuhi persyaratan teknis dan administratif.
  8. Pengembang melaksanakan pembangunan rumah sesuai dengan rencana dan persyaratan IMB yang bersangkutan.
  9. Dilakukan akta jual beli yang ditentukan pejabat pembuat akta tanah (PPAT).
  10. Pengembang menyerahkan sertifikat asli atas tanah dan dokumen-dokumen lainnya kepada PPAT.
  11. PPAT memastikan bahwa tanah tidak berada dalam penguasaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
  12. Jual beli dilaksanakan di hadapan PPAT, dihadiri pengembang sebagai penjual dan konsumen sebagai pmbeli, disertai dua orang saksi. Menurut hukum, obyek utama jual beli rumah biasa adalah jual beli tanah. Dalam akta harus disebutkan bahwa jual beli tanah tersebut meliputi juga bangunan yang ada di atasnya. Tanpa penegasan itu, bangunan rumah tersebut tidak ikut terbeli, karena hukum tanah Indonesia mengunakan asas pemisahan horisontal.
  13. Dalam rangka melindungi kepentingan konsumen sebagai pemegang hak / pemilik yang baru, pemindahan haknya didaftarkan pada kantor pertanahan. Untuk itu, PPAT diwajibkan menyampaikan lembaran pertama akta jual beli berikut sertifikat asli dan dokumen lain yang diperlukan kepada Kepala Kantor Pertanahan dalam jangka waktu 7 hari sejak ditandatanganinya akta.
  14. Kepala Kantor Pertanahan mencatat pemindahan hak tersebut dalam buku tanah dan sertifikatnya.
  15. Sertifikat disampaikan kepada dan diterima oleh konsumen.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.