Mewaspadai Trik Dagang yang Menipu

trik dagang

BIBLIOTIKA - Pernahkah Anda tiba-tiba menerima surat yang berisi pemberitahuan bahwa Anda telah memenangkan suatu hadiah tertentu dan kemudian Anda diminta untuk mengambil hadiahnya di sebuah mall atau swalayan?

Padahal, sejauh yang dapat Anda ingat, Anda tak pernah mengikuti suatu undian apapun yang menjanjikan hadiah yang ditawarkan di dalam surat itu. Hadiah yang ditawarkan itu bisa saja barang-barang elektronik tertentu, ataupun barang-barang lain yang sekilas sepertinya menggiurkan karena kita dijanjikan dapat memperolehnya secara gratis (sebagai hadiah).

Nah, penawaran hadiah melalui surat tersebut biasanya adalah bagian dari trik dagang yang menipu. Memang, ketika kita datang ke mall atau swalayan yang ditunjukkan dalam surat itu kita benar-benar menjumpai sebuah gerai atau lokasi tertentu yang benar-benar menerima surat tersebut dan mengakui kalau telah mengirimkan surat penawaran hadiah tersebut ke alamat kita. Namun, dari sinilah trik penipuan dagang itu dimulai.

Biasanya, kita akan diberitahu bahwa kita mendapatkan suatu hadiah tertentu, hanya saja kita perlu membayar sejumlah uang untuk dapat memperoleh hadiahnya. Uang yang diminta itu bisa saja dengan alasan untuk membayar biaya pajak, biaya transportasi, ataupun alasan-alasan lainnya, namun yang jelas kita akan diminta untuk membayarnya.

Yang menjadi masalah adalah, seringkali kita akan merasa ditekan ketika dalam proses transaksi itu, karena di gerai tempat kita datang tersebut akan ada orang-orang lain yang sepertinya menyemangati kita agar kita mengambil hadiah tersebut plus membayarnya, seolah-olah kita akan rugi besar kalau tidak mengambil hadiahnya.

Dalam keadaan seperti itu, emosi kita pun menjadi labil, begitu pula nalar kita untuk dapat mempertimbangkannya secara lebih baik. Banyak orang yang kemudian terjebak dan tertipu pada modus seperti ini, dimana mereka membayarkan sejumlah uang untuk barang hadiah yang dijanjikan itu dan kemudian pulang dengan membawa hadiahnya.

Namun, sesampainya di rumah, mereka pun kemudian menyadari bahwa mereka sama sekali tidak membutuhkan barang tersebut. Atau, barang tersebut ternyata memiliki harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan sejumlah uang yang telah dibayarkan tadi.

Trik lain yang biasa digunakan dalam modus yang tak jauh berbeda adalah dengan memberikan hadiah-hadiah tertentu yang benar-benar secara gratis, namun biasanya adalah barang-barang yang remeh atau yang murah. Misalnya bolpoin, blocknote ataupun barang-barang ringan lainnya.

Kemudian, si ‘penerima hadiah’ tersebut diiming-imingi untuk juga membeli beberapa produk yang mereka jual. Biasanya adalah produk-produk elektronik tertentu, dan mereka memberikan jaminan bahwa mereka akan berani mengembalikan uang pembayaran kita seratus persen kalau kita bisa menemukan produk tersebut di toko-toko yang lain. (Tentu saja kita tidak akan menemukan produk yang sama di toko lain karena produk yang mereka tawarkan itu memang produk yang kualitasnya patut dipertanyakan).

Cara merayunya sekali lagi tak jauh berbeda dengan cara di atas, yakni dengan menekan calon pembeli tersebut sehingga menjadi labil dan tak bisa mempertimbangkan penawaran tersebut secara matang. Beberapa orang yang ada di sana akan ‘mengompori’ si calon pembeli agar segera membeli barang yang ditawarkan. Sekali lagi, jika pembeli terayu oleh bujukan itu, dia pun akan menjadi menyesal ketika membawa barangnya sampai di rumah.

Ada pula trik dagang seperti itu yang menawarkan kredit, sehingga terkesan lebih ‘lunak’. Calon pembeli yang ditawari produk yang mereka tawarkan itu tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang yang besar, namun bisa melakukannya secara kredit dengan sejumlah uang muka tertentu yang mereka tetapkan. Hanya saja, yang aneh, jika sewaktu-waktu si pembeli mengurungkan atau membatalkan pembeliannya, maka uang muka akan hilang.

Trik-trik dagang yang modusnya penipuan seperti itu telah banyak dilaporkan kepada YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) dari para korban yang cenderung menyesal setelah bertransaksi dengan mereka, ataupun dari para korban yang terlanjur terjerat kredit atas barang-barang produk mereka.

Pihak-pihak yang melakukan trik dagang seperti di atas itu kadangkala menyewa tempat di pusat-pusat pertokoan yang ramai, sehingga mengesankan kredibilitas, namun praktek bisnis yang mereka lakukan benar-benar merugikan konsumen. Sayangnya, pihak YLKI sendiri merasa kebingungan dalam menghadapi hal semacam itu, karena ‘tersamarnya’ bentuk penipuan mereka.

Cara dagang lain yang juga tak jauh beda dengan trik tipuan di atas adalah dengan menggunakan daftar yang seolah-olah daftar pemenang dari sebuah undian. Jadi, mereka akan mengirimkan suatu brosur tertentu ke alamat kita, dan dalam brosur tersebut akan ada sederet daftar nama, salah satunya adalah nama kita. Nah, nama kita di dalam daftar tersebut akan diberi lingkaran yang menunjukkan kalau kita adalah pemenang dari hadiah tertentu, dan kita pun diminta untuk mengambilnya.

Sekali lagi cara di atas digunakan untuk ‘menjerat’ kita agar membeli barang-barang yang mereka tawarkan. Kadang-kadang barang-barang yang mereka tawarkan itu ‘barang-barang yang aneh’, seperti kaos kaki yang dilengkapi infra merah, celana dalam anti penyakit kelamin, tempat tidur refleksi, dan macam-macam barang aneh lainnya, mungkin dengan tujuan untuk mengesankan kalau produk mereka tergolong eksklusif.

Nah, pertanyaannya kemudian, dari mana pihak-pihak tersebut bisa memperoleh nama serta alamat kita?

Pihak YLKI sendiri pernah menelusuri hal ini, dan mereka menerima informasi kalau pihak-pihak pedagang itu mendapatkan nama serta alamat orang-orang tertentu dari kartu garansi pembelian suatu barang yang dikirimkan oleh pihak lain. Jadi, kalau misalnya kita membeli suatu barang tertentu yang memiliki kartu garansi, maka ada kemungkinan kartu garansi yang kita kirimkan tersebut disalahgunakan dengan cara dikirimkan kepada pihak-pihak pedagang yang memiliki trik dagang di atas itu.

Tentu saja tidak semua toko atau pedagang yang berurusan dengan kartu garansi melakukan praktek tercela seperti itu, karena para pedagang tadi pun bisa saja mendapatkan nama dan alamat orang tertentu dengan cara mencarinya di buku telepon.

Biasanya, trik-trik dagang yang berkesan menipu itu menjadi marak ketika menjelang hari-hari besar seperti lebaran. Karenanya, apabila suatu waktu Anda tiba-tiba mendapat surat penawaran hadiah padahal Anda yakin tidak mengikuti undian apapun yang menjanjikan hadiah tersebut, maka sebaiknya abaikan saja surat penawaran itu.

Kalaupun Anda merasa penasaran dan ingin melihat atau membuktikan isi dari surat penawaran tersebut, maka sebaiknya ajaklah orang lain, dengan tujuan agar Anda memiliki seseorang yang nantinya dapat memberikan pertimbangan yang sehat ketika Anda ‘ditekan’ untuk melakukan transaksi pembelian.

Kata kunci yang diperlukan ketika menghadapi trik dagang seperti itu adalah tidak emosional dalam membeli sesuatu, apalagi untuk suatu produk yang berharga mahal. Selain itu, kalau Anda menggunakan kartu kedit untuk transaksi-transaksi yang meragukan seperti di atas, maka sebaiknya tidak mudah menyerahkannya kepada orang lain yang tidak Anda kenal baik atau belum yakin terhadap orang tersebut.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.