Hewan-hewan Parasit Paling Mengganggu

kutu

BIBLIOTIKA - Parasit adalah hewan kecil yang keberadaannya sering kali tak terlihat, namun mengganggu. Kutu kasur, misalnya, mungkin jarang terlihat meski mungkin kita biasa tidur bersamanya. Kutu tersebut tinggal di celah-celah kasur, dan kemudian mulai menggigiti kulit kita ketika kita tengah lelap tertidur. Bekas gigitannya kadang menimbulkan gatal, dan sering kali kita tidak langsung sadar bahwa itu ulah kutu.

Selain kutu kasur, ada parasit-parasit lain yang sama mengganggu. Menjaga kebersihan dan berhati-hati saat bersentuhan dengan tanah adalah hal penting yang perlu diingat untuk menghindarkan diri dari serangan parasit-parasit semacam itu. Berikut ini adalah jenis-jenis parasit paling mengganggu yang biasa ada di sekitar kita.

Kutu (ticks)

Kutu diklasifikasikan sebagai arachnid, dan memiliki banyak varietas. Yang paling sering dijumpai adalah kutu kaki hitam, kutu bintang satu (lone star tick), kutu rusa, dan kutu anjing. Kutu-kutu tersebut berpotensi menyebarkan penyakit.

Umumnya, kutu banyak ditemukan di daerah-daerah dengan semak belukar dan rumput yang banyak. Mereka biasanya akan menunggu korbannya lewat, lalu masuk ke tubuh si korban, dan mencari tempat yang paling nyaman.

Pada manusia, kutu biasanya menyukai daerah kepala. Namun, pada mamalia lain, mereka suka berada di mana saja. Secara kasatmata, keberadaan mereka nyaris tidak kelihatan, sehingga mereka pun bisa leluasa mengisap darah dari korbannya.

Kutu kasur (bedbugs)

Sebagaimana namanya, kutu kasur adalah parasit kecil yang biasa hidup di dalam atau di sekitar kasur. Mereka biasanya makan di malam hari, meski kadang juga aktif di siang hari.

Karena ukurannya yang kecil, kutu ini bisa dengan mudah bersembunyi di kasur, di sela-sela kasur, di bawah bantal, lipatan seprai, lubang-lubang paku atau sekrup, retakan-retakan dinding, dan berkeliaran di kamar-kamar yang kotor dan tak terawat. Karena ukurannya yang kecil pula, kutu kasur pun sulit diketahui keberadaannya. Yang menjengkelkan, kutu kasur mampu bertahan lama di tempat tinggalnya, dan dapat bertelur hingga 500 butir selama hidupnya.

Kutu ini sangat suka mengisap darah manusia—biasanya ketika si korban sedang tidur. Gigitannya kadang disangka ulah nyamuk, karena iritasi dan bentuk kemerahan yang ditimbulkannya hampir mirip. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan ia menyebarkan penyakit, meski gigitannya kadang menjadi sumber infeksi jika digaruk-garuk.

Kutu badan (lice)

Kutu ini memiliki beberapa jenis, yang paling terkenal adalah kutu kepala, kutu badan  (body louse), dan kutu kemaluan (pubic louse). Jenis-jenis kutu tersebut biasa hidup pada tubuh manusia, sementara spesies-spesies lainnya lebih banyak hidup di tubuh hewan.

Siklus hidup kutu ini cenderung singkat, namun keberadaannya biasanya sangat mengganggu—menimbulkan gatal, rasa tidak nyaman, dan lainnya. Kutu badan dewasa dapat bergerak dengan cepat, sehingga keberadaannya juga sulit dideteksi. Mereka hanya bertahan hidup selama sebulan untuk mengisap darah dan bertelur. Namun “pekerjaan” mereka kemudian diteruskan oleh anak-anaknya.

Kutu betina dapat bertelur 7 sampai 12 butir dalam sehari. Telur-telur itu—jika selamat—akan menetas dalam waktu 6 sampai 9 hari. Setelah tujuh hari menetas, anak-anak kutu itu pun siap melanjutkan pekerjaan orangtua mereka—mengganggu manusia.

Lintah (leeches)

Lintah adalah cacing tersegmentasi yang berhubungan dengan cacing tanah biasa. Tidak semua lintah mengisap darah sebagaimana yang dikira banyak orang, namun memang lintah pengisap darah yang paling sering kita lihat, juga yang paling mengganggu.

Sanguivorous, atau lintah pengisap darah, adalah salah satu spesies lintah. Lintah jenis ini biasa ditemukan di perairan yang tenang, juga di darat. Ketika menunggu mangsa yang akan diisap darahnya, lintah ini biasanya akan menunggu di tanah, berdiam diri sambil merasakan getaran dan pergerakan di sekitarnya, atau mendeteksi perubahan pola cahaya. Ketika merasakan kehadiran mangsa potensial, mereka pun akan menempel pada tubuh si korban.

Setelah berhasil menempel, mereka akan menggunakan bagian pengisap di mulutnya untuk mengiris kulit si korban, lalu mereka akan mensekresikan sejenis lendir untuk menjaga mereka tetep menempel pada tubuh korban. Kemudian, setelah mengisap cukup darah, mereka akan meregangkan tubuhnya untuk mencegah pembekuan darah, juga agar darah yang diisapnya mudah dicerna.

Nyamuk (mosquitoes)

Sebenarnya, nyamuk—baik jantan maupun betina—hanya membutuhkan nektar dari bunga atau buah-buahan untuk bertahan hidup. Namun, nyamuk betina membutuhkan protein tambahan yang ada di dalam darah, untuk dapat bereproduksi.

Karena itulah, nyamuk betina akan hinggap di tubuh mamalia, untuk mengisap darahnya demi untuk bisa beranak pinak. Karena itu pula, nyamuk yang biasa mengganggu kita adalah nyamuk betina—karena nyamuk jantan tidak butuh darah mamalia, khususnya darah manusia.

Kutu anjing (fleas)

Tak jauh beda dengan nyamuk, kutu anjing membutuhkan darah dari korban mamalia untuk bisa beranak pinak. Mereka akan bertelur di tubuh korbannya, dan hal itu kemudian akan menyebabkan terjadinya kerumunan kutu di tempat-tempat si korban suka berada, misalnya di tempat tidur hewan peliharaan.

Telur-telur itu biasanya akan menetas setelah beberapa hari atau beberapa minggu, dan larvanya akan menghabiskan waktunya dengan memakan material-material organik seperti sel-sel kulit mati, atau sisa-sisa kotoran. “Hebatnya”, parasit satu ini bisa meloncat dengan ketinggian lebih dari 100 kali panjang badannya.

Tungau (mites)

Tungau terdiri atas beberapa jenis, yaitu tungau debu (dust mites), tungau unggas (fowl mites), tungau anjing (dog mites), tungau rusa (deer mites), tungau kutu (chigger mites), dan tungau kudis (scabies mites).

Ada pula tungau yang hidup pada tubuh manusia, yang disebut tungau kantung rambut (hair follicle mites). Tungau ini memakan sekresi berminyak dari rambut dan kulit kepala. Meski mungkin terdengar menakutkan, namun keberadaan tungau tersebut adalah bagian normal dari proses hidup manusia.

Yang mengganggu dan mendatangkan masalah adalah tungau kudis (scabies mites). Parasit mikroskopik ini dapat menyebabkan gatal-gatal yang luar biasa, dan jejak merah pada daerah yang terinfeksi.

Human botflies

Human botflies adalah istilah yang diberikan untuk spesies lalat yang larvanya hidup sebagai parasit di dalam tubuh mamalia.

Awalnya, lalat ini akan menangkap nyamuk, dan bertelur pada tubuh nyamuk tersebut. Kemudian, nyamuk-nyamuk itu akan menggigit manusia atau mamalia lain, dan telur-telurnya akan masuk ke dalam tubuh korbannya, hingga menetas.

Di Amerika Tengah dan Selatan, belatung human botflies diangkut oleh nyamuk-nyamuk, dengan proses yang sama seperti di atas. Setelah lalat bertelur pada tubuh nyamuk, dan kemudian nyamuk menggigit korbannya, larva belatung itu pun akan masuk pada tubuh si korban.

Dalam tubuh si korban, belatung itu bahkan akan mengunyah agar dapat memasuki tubuh korbannya, dan akan bertahan hingga 5 sampai 6 minggu sampai bertambah gemuk. Selama itu pula, mereka akan membuat lubang agar nantinya dapat keluar. Pada tahap itu—jika tetap tidak terdeteksi—belatung-belatung itu pun akan keluar dari lubang kecil yang telah dibuatnya, lalu jatuh ke tanah. Dari situ, daur hidup akan dimulai kembali.

Cacing tambang (hookworms)

Cacing tambang menginfeksi manusia melalui sisa-sisa kotoran di tanah. Telur-telurnya akan menetas dalam jangka waktu satu minggu, kemudian tumbuh menjadi larva yang dapat hidup sekitar sebulan di dalam tanah atau feses.

Apabila kontak dengan manusia—biasanya melalui kaki—cacing-cacing itu akan menembus masuk menuju pembuluh nadi, lalu ke jantung, dan akhirnya ke paru-paru.

Ketika sampai di paru-paru, mereka kadang terbuang lewat lendir ketika si korban batuk. Apabila dibiarkan begitu saja, cacing ini dapat menyebabkan penyakit serius, seperti anemia, diare, konstipasi, dan kelelahan.

Cacing pita (tapeworms)

Cacing pita mirip cacing tambang—mereka adalah parasit usus yang dapat menular ke manusia melalui tanah atau bekas kotoran—namun kebanyakan menginfeksi manusia melalui daging-daging yang kurang matang dalam memasaknya.

Gejala infeksi cacing ini sangat sulit dideteksi, karena biasanya tidak ada gejala-gejala luar yang mengindikasikan infeksi cacing ini hingga periode waktu yang panjang. Jika hal semacam itu yang terjadi, maka cacing pita itu pun dapat tumbuh hingga sepanjang 30 kaki (sekitar 9 meter).

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.