Fakta-fakta Menarik Seputar Tikus

tikus

BIBLIOTIKA - Tikus menjadi hewan terkenal, karena hampir ada di setiap rumah, dan tersebar di berbagai belahan dunia. Penampilannya yang terkesan jorok, dan keberadaannya yang dianggap mengganggu, sering menjadikan kita berusaha mengusir dan memusnahkannya dengan berbagai cara, dari memasang perangkap atau racun tikus.

Namun, sebenarnya, tikus bukan tidak punya manfaat sama sekali. Hewan ini adalah hewan favorit para ilmuwan, karena tikus dianggap ideal untuk keperluan penelitian di laboratorium. Berikut ini fakta-fakta menarik seputar tikus yang perlu kita ketahui.

Ketangguhan tikus

Tikus menjadi salah satu hewan yang dapat dikatakan ada di seluruh dunia. Penyebaran tikus di berbagai belahan dunia itu tidak sepenuhnya karena kebetulan, melainkan juga karena tikus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda tanpa banyak kesulitan. Seekor tikus dapat bertahan hidup tanpa air lebih lama dibandingkan unta. Selain itu, tikus juga bisa selamat tanpa cedera meski jatuh dari lantai lima gedung bertingkat.

Jika terjadi peristiwa yang melibatkan radiasi zat kimia, tikus akan menjadi salah satu di antara sedikit hewan yang mampu bertahan terhadap radiasi. Dari generasi ke generasi, tikus cenderung membangun kekebalan tertentu terhadap racun yang berbeda-beda. Meski hidup di darat, namun tikus mampu berenang dengan jarak 2/3 kilometer di perairan terbuka.

Tikus Norwegia

Tikus Norwegia menjadi spesies tikus paling terkenal di dunia, karena memiliki keunikan. Warnanya cenderung cokelat, dan spesimen terbesar mencapai berat lebih dari 1 kilogram.

Di kota-kota besar semisal London dan New York, tikus Norwegia menjadi wabah karena terjadi ledakan populasi, dari beberapa ratus ribu menjadi sekian ratus juta, dan tikus-tikus itu memasuki hampir setiap sudut dunia, kecuali wilayah Kutub Utara dan Antartika, provinsi Kanada Alberta, dan Selandia Baru. Tikus-tikus albino putih yang sering digunakan di laboratorium dan dipelihara sebagai hewan peliharaan adalah versi dari spesies ini.

Tikus hitam

Lebih mengerikan dari tikus Norwegia, tikus hitam pernah menjadi penyebab wabah mengerikan yang disebut Black Death atau Wabah Hitam. Tikus-tikus ini membawa kutu di tubuhnya, yang kemudian menularkan wabah pes yang menimbulkan jutaan korban. Tikus spesies ini lebih suka tinggal di wilayah tropis, namun pernah dominan di Eropa.

Tikus hitam adalah pendaki yang sangat lincah, dan telah terbukti menjadi pemangsa banyak spesies burung yang bersarang di seluruh dunia. Pada saat ini, tikus hitam lebih banyak menetap di wilayah Selandia Baru, dan biasanya mengalami ledakan populasi ketika musim panen, atau ketika persediaan makanan berlimpah.

Fenomena rat king

Rat king adalah fenomena aneh menyangkut tikus, yaitu keadaan banyak tikus berkumpul dengan ekor mereka yang saling membelit dan terkait satu sama lain. Biasanya, fenomena rat king yang ditemukan melibatkan antara 5 sampai 12 ekor tikus.

Pada tahun 1828, ditumukan rat king yang telah menjadi mumi di perapian di Buchheim, Jerman, yang melibatkan 32 tikus hitam. Itu fenomena rat king terbesar yang pernah ditemukan. Rat king terbesar itu sekarang dapat dilihat di Museum Mauritianum di Altenburg, Jerman.

Fenomena rat king telah ditemukan sejak Abad Pertengahan, sebagian besar di Jerman, namun masih membingungkan para ilmuwan yang sampai saat ini belum dapat memastikan bagaimana ekor-ekor tikus itu bisa saling membelit satu sama lain.

Tamu di rumah kita

Tak peduli sebersih apa pun kita merawat rumah, dan tak peduli serapat apa pun rumah kita, tak pernah ada jaminan bisa terbebas dari kehadiran tikus. Karenanya, berharap rumah kita tidak kedatangan tikus dapat dibilang mustahil. Tikus bisa memasuki rumah kita melalui lubang kecil yang berukuran seperempat diameter tubuhnya. Selain itu, gigi tikus bahkan diperkirakan sekeras besi atau baja, sehingga dapat mudah menggerogoti papan atau kayu. 

Begitu memasuki rumah, tikus sangat sulit diusir. Beberapa orang mencoba menghalau tikus dengan cara memasang perangkap. Namun tikus terkenal cerdik, dan hanya segelintir yang terperangkap.

Kadang-kadang ada pula yang menggunakan racun untuk memusnahkan tikus, tapi cara itu pun sering menyusahkan. Tikus memang memakan umpan beracun yang dipasang, tapi sering kali bangkainya sulit ditemukan karena biasanya mereka mati di tempat yang sulit dijangkau.

Tikus dan kucing

Secara alami, tikus menjadi mangsa kucing. Karenanya, tikus pun selalu berusaha menjauh dari kucing, dan selalu takut setiap kali menemukan bau atau aroma keberadaan kucing. Tetapi, keadaan itu bisa berbalik ketika tikus terkena parasit toxoplasma gondii.

Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang siklus hidupnya sepenuhnya tergantung pada tubuh kucing. Parasit itu bisa berada di tubuh hewan lain, namun hanya dapat berkembang pada tubuh kucing.

Apabila tikus terinfeksi oleh parasit tersebut—misalnya melalui urine kucing—tikus akan mengalami perubahan kimia pada otaknya, yang menjadikan mereka tidak lagi takut pada kucing, tapi malah tertarik. Saat bertemu kucing, tikus yang terinfeksi itu bukannya lari ketakutan, tapi malah cenderung mendekat. Tentu saja, kucing pun dengan mudah memangsanya.

Menjadi santapan

Meski selama ini kita mengetahui bahwa tikus sering menjadi santapan kucing, namun sebenarnya tidak hanya kucing yang memangsa tikus. Ada beberapa hewan lain yang juga menjadikan tikus sebagai santapan, semisal burung hantu, elang, ular, anggota keluarga musang, dan beberapa predator lainnya. Beberapa spesies anjing juga ada yang menjadikan tikus sebagai makanan utama.

Yang lebih aneh, di beberapa negara semisal India dan beberapa wilayah di Asia tenggara menjadikan tikus sebagai bahan olahan makanan, dan konsumennya menganggap masakan berbahan tikus sebagai makanan lezat.

Hewan laboratorium

Tikus menjadi salah satu hewan favorit para ilmuwan dalam upaya penelitian di laboratorium. Hal itu disebakan karena tikus memiliki genetika yang mirip dengan manusia, sehingga penggunaan tikus sebagai objek penelitian dapat membantu para ilmuwan dalam mengembangkan berbagai obat-obatan dan penelitian medis lainnya. Selain itu, ukuran tikus juga relatif kecil, serta mudah dibiakkan.

Perkembangan terakhir menyangkut tikus di laboratorium bahkan cukup kontroversial. Beberapa ilmuwan akhir-akhir ini menemukan cara menggunakan tikus untuk menumbuhkan jaringan kulit tertentu yang ditujukan untuk transplantasi pada kulit manusia.

Tikus raksasa

Tikus Gambia adalah spesies tikus yang memiliki ukuran luar biasa besar. Berat tubuhnya mencapai 7 kilogram, jauh lebih besar dibanding tikus lain umumnya. Di Afrika, hewan ini diburu dan dijadikan sebagai santapan sebagaimana hewan buruan lain.

Tikus Gambia juga tergolong hewan cerdas namun penurut. Karenanya, hewan ini pun sering dimanfaatkan untuk menjadi pendeteksi ranjau darat. Meski bobotnya sangat berat dalam standar tikus, namun berat tubuhnya masih cukup ringan untuk merayap di atas ranjau tanpa meledakkannya.

Selain itu, tikus Gambia juga menjadi objek penelitian penting dalam hal pendeteksian penyakit tuberkolosis. Tidak sedikit orang yang juga menjadikannya sebagai hewan peliharaan, karena dianggap hewan yang ramah.

Kecepatan populasi

Dalam setahun, seekor tikus betina dapat melahirkan 7 sampai 15 anak. Di lingkungan yang kosong dan relatif aman dari pemangsa, tikus bahkan bisa berkembang biak dengan cepat menjadi ratusan ribu bahkan jutaan ekor dalam waktu satu tahun.

Namun, meski begitu, tidak banyak tikus yang dapat bertahan hidup sampai usia 2 tahun. Hal itu tergantung pada berbagai faktor lingkungan, selain tingkat kematian anak tikus juga tinggi pada minggu-minggu pertama setelah kelahirannya.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.