Cara Mengelola Penghasilan Tak Rutin

Penghasilan Tak Rutin

BIBLIOTIKA - Memang lebih mudah mengelola penghasilan yang rutin dibanding yang tidak rutin, namun bukan berarti bahwa kita tidak bisa melakukannya. Kalau di pembahasan sebelumnya kita telah menyinggung sedikit tentang pengelolaan penghasilan yang tidak tetap atau tidak rutin, maka artikel kali ini akan menjelaskan secara lebih luas.

Ada orang-orang yang bekerja berdasarkan proyek atau suatu panggilan tertentu, dan kemudian mereka pun hanya mendapatkan penghasilan jika ada proyek atau panggilan untuk mengerjakan suatu tugas tertentu. Ini biasanya dialami oleh para pekerja profesional yang tidak terikat dengan suatu perusahaan secara tetap.

Umpama kita berprofesi sebagai seorang desainer interior, dan kita hanya dapat bekerja apabila ada suatu proyek desain yang mengundang kita untuk bekerja. Yang terjadi menyangkut penghasilan kita pun diukur dari jumlah panggilan atau proyek yang kita kerjakan itu. Nah, masalahnya, panggilan atau proyek yang melibatkan kita itu tidak bisa ditetapkan waktunya, dan jumlah penghasilan kita pun jadi tidak jelas karena sepenuhnya tergantung pada proyek tertentu atau panggilan yang ada.

Lebih dari itu, setiap satu panggilan untuk pengerjaan proyek tertentu memberikan hasil yang berbeda-beda. Ada proyek tertentu yang dapat menghasilkan pendapatan besar, namun ada juga proyek-proyek tertentu yang hanya menghasilkan pendapatan kecil. Bagaimana cara mengelola anggaran yang tidak rutin seperti ini?

Mengenali jumlah rata-rata pengeluaran

Yang seringkali terjadi pada orang-orang yang tidak berpenghasilan rutin adalah terbiasa menyesuaikan pengeluaran dengan penghasilan. Tentu saja itu tidak berbahaya bagi orang yang memiliki penghasilan tetap, namun ini tidak bisa diterapkan sepenuhnya bagi orang yang tidak memiliki penghasilan tetap atau rutin.

Jadi pola hidup mereka biasanya seperti ini; jika di suatu waktu dia mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 2 juta, maka pengeluaran mereka pun akan sejumlah Rp. 2 juta. Kalau di lain waktu mereka mendapatkan penghasilan Rp. 5 juta, maka pengeluaran mereka pun akan ikut naik menjadi Rp. 5 juta. Yang berbahaya adalah, apabila di suatu waktu penghasilan mereka turun dari jumlah minimal, semisal suatu bulan hanya mendapatkan penghasilan Rp. 700 ribu saja.

Nah, untuk menghindari hal semacam itu, maka kita perlu mengenali jumlah rata-rata sesungguhnya yang kita perlukan dalam memenuhi kebutuhan hidup kita dalam satu bulan.

Kalau memang kita hanya membutuhkan pengeluaran sejumlah Rp. 1 juta perbulan, maka anggarkanlah sejumlah itu dan biarkan sisanya jika penghasilan kita pada suatu bulan melebihi jumlah itu. Untuk tujuan ini, kita bisa menggunakan menggunakan ‘rekening penampungan’.

Dengan adanya rekening penampungan, maka meskipun kita tidak memiliki penghasilan yang tetap, kita akan tetap dapat hidup dengan jumlah pengeluaran yang tetap dengan adanya ‘subsidi’ dari rekening penampungan apabila di suatu waktu kebetulan jumlah penghasilan yang kita peroleh tidak mencapai jumlah rata-rata pengeluaran yang kita butuhkan.

Lalu bagaimana cara untuk menentukan jumlah rata-rata pengeluaran?

Secara mudahnya kita tentu saja bisa mendaftar apa saja yang kita perlukan dalam satu bulan, dan kemudian menuliskan anggaran yang kita butuhkan untuk memenuhinya. Dengan begitu, kita akan tahu secara lebih jelas apa saja sesungguhnya yang kita butuhkan dalam hidup selama satu bulan dan berapa jumlah sesungguhnya yang kita perlukan untuk memenuhinya.

Namun, apabila kita semata-mata mendasarkan pada kebutuhan dan keinginan saja, maka biasanya kita pun akan ‘melantur’. Bisa saja kita mendaftar banyak hal dalam tabel kebutuhan pengeluaran itu yang kita anggap memang kita butuhkan dan kita perlukan, dan kemudian ternyata jumlahnya melebihi jumlah rata-rata yang seharusnya kita gunakan.

Untuk mengatasi hal semacam ini, maka sebaiknya kita juga perlu mengenali jumlah rata-rata pemasukan sebelum menentukan jumlah rata-rata pengeluaran. Penjelasannya seperti di bawah ini.

Mengenali jumlah rata-rata pemasukan

Sebagaimana yang telah dicontohkan di atas, kita tidak memiliki penghasilan tetap karena penghasilan yang kita peroleh hanyalah berdasarkan pada panggilan proyek yang ada. Karenanya, dalam satu bulan kita bisa saja memperoleh penghasilan yang besar, di bulan lain kita hanya mendapatkan penghasilan yang kecil, sementara di bulan lainnya lagi kita sama sekali tidak mendapatkan penghasilan sama sekali karena tidak adanya panggilan proyek.

Nah, berdasarkan kenyataan semacam itu, kita bisa menghitung jumlah rata-rata pemasukan kita per bulan dengan cara menghitung jumlah penghasilan secara keseluruhan yang bisa kita peroleh dalam satu tahunnya. Acuannya bisa menggunakan penghasilan yang kita peroleh pada tahun lalu, atau pada waktu tertentu ketika kita menganggap jumlah proyek yang biasa kita tangani adalah jumlah yang normal / wajar. Berdasarkan penjumlahan dari total penghasilan tahunan itu kita akan mulai mengenali berapa kira-kira jumlah rata-rata penghasilan bulanan yang dapat kita tetapkan.

Dengan mengacu pada laporan penghasilan tahun lalu itu, kita bisa menetapkan jumlah rata-rata yang dapat kita tentukan sendiri sebagai penghasilan tetap kita dalam satu bulannya.

Menetapkan jumlah yang ditabung

Kalau kita juga ingin menabung dari penghasilan kita yang tidak rutin itu, bagaimana cara untuk menentukan berapa jumlah yang dapat kita tabungkan?

Jawabannya adalah dengan memangkas sejumlah penghasilan rata-rata yang telah kita tetapkan di atas itu untuk dijadikan sebagai anggaran untuk menabung. Kalau jumlah yang kita dapatkan adalah Rp. 2.500.000,- (misalnya) sebagai jumlah penghasilan rata-rata kita dalam setiap bulan, maka kita bisa mengambil 10 sampai 20 persennya untuk dijadikan sebagai anggaran untuk menabung, yakni sejumlah Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).

Artinya, dalam setiap bulannya kita ambil sejumlah uang kita dari rekening penampungan sebanyak Rp. 2.500.000,- dan kemudian kita ambil, katakanlah, sejumlah Rp. 500.000,- untuk kita masukkan ke dalam rekening tabungan. Sisanya yang sejumlah Rp. 2.000.000,- kita gunakan sebagai biaya hidup dalam satu bulan.

Nah, dengan pola pengelolaan seperti ini, kita pun dapat memiliki gaji tetap dari penghasilan yang tidak tetap, dan dapat rutin menabung dari penghasilan yang tidak rutin.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.