Burung-burung dengan Sistem Pertahanan Terunik

fulmar chick

BIBLIOTIKA - Sebagian besar burung bisa terbang, dan terbang—bagi burung—adalah pertahanan yang sangat efektif terhadap para predator. Namun, di antara ribuan spesies burung yang ada di bumi, ada beberapa spesies yang memiliki sistem pertahanan sangat unik. Berikut ini adalah jenis-jenis burung dengan sistem unik semacam itu, yang mungkin belum pernah kita bayangkan.

Fulmar chick

Fulmar chick adalah jenis burung laut. Namanya berasal dari kata Norse, yang berarti “camar busuk”. Seperti namanya, burung ini dikenal karena bau busuk mereka. Tidak hanya bau busuk tubuhnya, bahkan telur mereka juga berbau. Kulit telur fulmar yang ada di salah satu museum koleksi masih mengeluarkan bau setelah 100 tahun tahun disimpan.

Burung ini tidak dapat terbang. Sehingga, ketika bahaya mengancam, mereka pun kesulitan melarikan diri. Kelemahan itu kemudian menjadikan anak fulmar mengembangkan mekanisme pertahanan yang unik dan tidak lazim. Ketika terancam, mereka akan memuntahkan semacam cairan minyak berwarna jingga cerah. Cairan itu tidak hanya berbau busuk, tetapi juga menempel pada bulu pemangsa.

Minyak yang dimuntahkan anak fulmar itu akan membuat bulu burung pemangsa akan kusut, sehingga kehilangan kemampuan anti-airnya, yang akan membuat mereka tenggelam jika berendam dalam air. Kenyataan itu pun menjadikan anak ayam fulmar berbahaya bagi predator.

Sementara para fulmar memiliki bulu yang “kebal” terhadap muntahan minyak tersebut. Hal itu sangat penting, karena anak ayam fulmar tidak hanya meludahi predator, tapi juga setiap hewan yang mendekati, termasuk induk mereka. Anak-anak fulmar mulai mengakui induk mereka ketika telah berusia sekitar 3 minggu.

Hoopoes

Burung ini bisa ditemukan di Afrika, Eropa, Asia, dan baru-baru ini terpilih sebagai burung nasional Israel. Hoopoe memiliki kelenjar khusus di dekat anus, yang menghasilkan zat berbau busuk. Dengan kelenjar tersebut, burung itu akan saling menggosok bulu-bulu temannya—meliputi seluruh tubuh mereka—hingga bau mereka pun mirip dengan daging busuk. Kenyataan itu menjadikan predator tak tertarik untuk memangsa.

Selain sebagai mekanisme pertahanan diri, zat berbau busuk itu memiliki dua fungsi. Ia bertindak sebagai pembasmi parasit, dan sebagai agen antibakteri yang melindungi burung dari berbagai penyakit.

Yang menarik, hoopoe dewasa memproduksi cairan berbau busuk itu hanya ketika mengerami telur-telurnya. Setelah anaknya meninggalkan sarang, ia pun berhenti memproduksi zat tersebut.

Sementara anak hoopoe yang masih kecil memiliki metode pertahanan mereka sendiri yang tak kalah unik. Ketika terancam, anak hoopoe akan menyemprotkan kotorannya tepat ke wajah sang predator. Itu merupakan teknik yang sangat efektif untuk mengusir pengunjung yang tak diinginkan.

Killdeer

Killdeer adalah burung dengan suara berisik, dan sering ditemukan di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Mereka bersarang di tanah, sehingga telur dan anak killdeer sangat rentan terhadap predator.

Untuk melindungi sarang mereka, killdeer dewasa mengembangkan teknik yang pintar. Ketika predator tanah semacam rubah, kucing, atau anjing mendekati sarang, killdeer dewasa akan bergerak menjauh dari sarang secara terang-terangan, dengan menyeret salah satu sayapnya seolah-olah sayap itu rusak, dan pura-pura mencari bantuan.

Kebanyakan predator yang melihat itu akan mengejar si killdeer dewasa yang tampak tak berdaya—dan tanpa disadari, mereka telah menjauh dari sarang. Setelah merasa sarangnya sudah aman, killdeer dewasa pun segera terbang. Seiring dengan itu, anak-anak killdeer telah kabur dari sarangnya ketika si pemangsa dialihkan perhatiannya oleh killdeer dewasa.

Burrowing owl

Burrowing owl dapat ditemukan di padang rumput dan gurun, dari Kanada sampai Patagonia. Mereka bersarang dalam liang, dan sering menggunakan liang yang sudah ditinggalkan hewan lain. Namun, jika tidak dapat menemukan liang kosong, mereka bisa menggali lubang sendiri.

Anak burrowing owl sering ditinggal sendirian dalam liang, sementara induknya berburu. Selama waktu itu, si anak pun rentan terhadap serangan pemangsa seperti rubah, anjing hutan, musang, atau kucing. Karena itulah kemudian anak burung itu mengembangkan sistem pertahanan diri yang unik demi menjaga keselamatannya.

Ketika merasa terancam—misalnya jika hewan pemangsa mulai menggali pintu masuk liangnya—anak burrowing owl akan mengeluarkan suara mendesis mirip ular memperingatkan musuhnya. Karena ular derik yang sangat berbisa diketahui sering bersembunyi dalam liang, sebagian besar predator pun lebih memilih untuk pergi menjauh setelah mendengar desisan mengerikan itu.

Mekanisme pertahanan mereka yang unik itu dianggap salah satu yang paling efisien di antara burung, namun memiliki kelemahan. Desisan mengerikan itu tidak akan berfungsi jika calon pemangsanya adalah ular derik sendiri, karena si ular pasti tahu itu desisan palsu. Lebih dari itu, ular derik juga tuli!

Eurasian cuckoo

Eurasia cuckoo dikenal sebagai burung yang sering meletakkan telur-telurnya di sarang burung lain. Ketika si anak akan lahir, ia akan menghancurkan telur burung lain (penghuni sarang sebenarnya), dan menggunakan sarang itu untuk meletakkan telurnya sendiri. Hal itu, baginya, adalah upaya menghilangkan setiap pesaing, serta agar lebih cepat berkembang.

Untuk melindungi diri dari ancaman, cuckoo betina mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang unik. Dia akan bersikap dan berperilaku mirip hawk sparrow, raptor pemakan burung. Hal itu dimungkinkan baginya, karena kebetulan penampilannya mirip dengan hawk sparrow.

Dengan menyamar sebagai hawk sparrow, cuckoo betina dapat menakut-nakuti burung-burung lain agar menjauh dari sarang mereka. Selama hawk sparrow palsu ada di situ, burung-burung lain tidak akan berani kembali ke sarang mereka, dan cuckoo pun bisa merawat telurnya tanpa masalah.

Ferruginous pygmy owl

Meskipun burung hantu biasanya dikenal memangsa tikus dan hewan pengerat lain, namun ternyata mereka juga memangsa sesama burung hantu lainnya. Ferruginous pygmy owl adalah burung hantu yang melakukan hal itu. Kenyataan tersebut tentu menjadikan burung-burung hantu yang masih kecil sangat rentan bahaya.

Ketika akan memangsa sesamanya, ferruginous pygmy owl akan menggunakan serangan mengejutkan dari belakang. Perilaku itu dikenal sebagai “mobbing”. Yang jadi masalah, burung itu termasuk pemangsa yang terampil, sehingga bahkan mampu memangsa hewan yang ukurannya dua kali lipat dari dirinya. Sehingga, mangsa yang menjadi korban serangan mobbing-nya hampir dapat dipastikan tidak akan selamat.

Untuk melindungi diri dari ancaman mobbing sesamanya, ferruginous pygmy owl pun kemudian mengembangkan pertahanan diri yang sangat unik. Mereka menumbuhkan dua bintik menyerupai mata, yang tumbuh di bagian belakang kepalanya. Dua bintik mirip mata itu cukup untuk menghalangi calon pemangsanya, karena mereka biasanya tidak akan menyerang burung hantu yang melihat arah mereka.

Hoatzin chick

Ditemukan di hutan hujan Amerika Selatan, hoatzin pernah diyakini sebagai fosil hidup. Hal itu terjadi karena burung ini memiliki gaya hidup yang tidak lazim sebagaimana umumnya burung. Ia memakan daun pohon-pohon, sesuatu yang dianggap aneh untuk seekor burung.

Selain itu, hoatzin juga melakukan fermentasi menggunakan bakteri untuk mencerna makanannya. Karena itu, burung ini pun memiliki bau yang sangat menyengat seperti pupuk kandang. Tetapi bau mengerikan hoatzin bukanlah alasan mengapa dia masuk dalam daftar ini.

Hoatzin biasanya membangun sarang mereka di cabang-cabang pohon yang menggantung di atas air. Ketika terganggu atau terancam oleh pemangsa, anak hoatzin akan melompat ke dalam air, untuk melarikan diri. Mereka adalah perenang sekaligus penyelam yang sangat baik. Ketika bahaya telah berlalu, mereka pun akan memanjat pohon dan kembali ke sarang.

Untuk melakukan hal semacam itu, anak hoatzin memiliki dua cakar pada masing-masing sayapnya, yang mirip Archaeopteryx atau dinosaurus mirip burung. Hanya hoatzin muda yang memiliki cakar tersebut. Setelah dewasa, cakar itu akan hilang, dan mereka dapat menghindari predator dengan cara terbang. Hoatzin telah menjadi objek penelitian penting di kalangan ilmuwan sejak penemuannya pada tahun 1776.

Potoo

Burung ini hidup di Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan. Ia merupakan hewan pemangsa nokturnal yang aneh, dan dijuluki Ghost Bird, karena kemampuan kamuflase mereka yang luar biasa.

Potoo memakan serangga, hewan terbang kecil seperti kelelawar, dan burung kecil. Di siang hari, potoo suka bertengger di pohon, dan tidak bergerak sama sekali sampai lama, hingga benar-benar mirip tunggul pohon mati atau seperti tunggul yang patah. Kamuflase itu begitu sempurna, karena bulu burung itu menyerupai kulit kayu. Selain itu, kelopak mata potoo memiliki celah yang memungkinkannya melihat, bahkan ketika matanya tertutup.

Potoo biasanya akan tetap diam membatu, bahkan ketika didekati hewan lain (atau manusia), dan mereka hanya akan terbang ketika merasa penyamarannya telah diketahui. Penyamaran yang merupakan upaya pertahanan diri itu sangat baik, namun tidak banyak berguna, karena mereka hampir tidak memiliki predator. Selain itu, hal tersebut menjadikan potoo juga sangat sulit untuk kita amati.

Pada malam hari, potoo akan mencari makan, dan kita biasanya akan dapat melihat matanya yang memantulkan cahaya, bersinar seperti mata kucing atau burung hantu.

African white masked owl

Ketika didekati predator, burung hantu kecil ini akan mendesis untuk membuat dirinya terlihat lebih besar dan ganas. Itu merupakan metode pertahanan diri yang umum di antara burung hantu, dan tampaknya cukup untuk menakuti kebanyakan musuhnya.

Namun, ketika berhadapan dengan musuh yang besar dan lebih kuat, burung hantu ini tidak lagi menggunakan metode di atas, namun menggunakan cara seperti yang digunakan potoo—ia akan meratakan bulu dan menyipitkan mata, hingga matanya hampir tidak terlihat oleh predator. Dengan diam tak bergerak sama sekali, burung itu akan terlihat seperti tunggul pohon. Mekanisme pertahanan diri unik itu lebih efektif baginya dibanding melarikan diri yang biasanya gagal.

Hooded pitohui

Hooded pitohui dapat ditemukan di New Guinea. Mereka memiliki mekanisme pertahanan diri yang sederhana tapi mematikan—mereka beracun.

Sebenarnya, burung ini tidak beracun. Namun, mereka sengaja memakan beberapa jenis kumbang yang mengandung neurotoxin kuat atau yang mengandung alkaloid yang dikenal sebagai batrachotoxin (racun yang juga ditemukan pada kulit katak beracun Amerika Selatan).

Dengan memakan kumbang beracun tersebut, burung itu pun menjadi burung beracun. Racun itu kemudian terdapat pada bulu dan kulitnya. Sebegitu beracunnya, hingga para penduduk setempat menyebutnya sebagai “burung sampah”, karena kadar racun mereka menjadikan burung-burung itu tidak mungkin dimakan, kecuali kulit dan bulu mereka dicabuti.

Bukti kuatnya racun yang dimiliki burung itu telah dibuktikan para ilmuwan yang menelitinya. Menyentuh burung itu dapat menyebabkan mati rasa dan kesemutan, kulit terbakar, dan bersin-bersin. Memakan burung itu tentu jauh lebih berbahaya—dan karena itulah burung ini selamat dari para predator yang mengancamnya.

Untuk memperingatkan sifat beracunnya, burung itu memiliki warna terang oranye dan warna hitam, yang memungkinkan calon predator untuk mengenalinya. Selain menggunakan racun itu untuk menyelamatkan diri, hooded pitohui juga menggosok-gosokkan racunnya pada telur-telur mereka, untuk melindungi telur-telur itu dari para predator.

Tersedia banyak e-book bermanfaat yang bisa Anda miliki
Baca penjelasannya di sini.